Saat ini sejarah telah membawa kita untuk memasuki suatu ekosistem baru, yaitu ekosistem digital tanpa harus meninggalkan ekosistem dunia nyata. Hampir semua orang sekarang sudah menjadi warga dunia digital dengan berbagai cara berdiskusi, berburu infomasi, bersosialisi, belajar, berbisnis, hingga berurusan dengan pemerintah melalui jejaring internet.
Statusnya sebagai warga dunia digital semakin dikokohkan dengan identitas digital, yang sekarang semakin mudah untuk diakses dengan cepat oleh banyak orang.

Masalahnya, orang yang memasuki ekosistem ini tanpa memiliki kesadaran penuh bahwa dia tengah memasuki dunia baru yang sangat kompleks, bahkan jauh lebih kompleks dibandingkan dengan dunia nyata. Hampir semua sisi dalam kehidupan nyata, dari yang paling layak di lihat sampai yang paling tidak layak untuk di lihat.

Selain itu, setiap orang memasuki ekosistem baru dengan bebas tanpa beban yang berarti, misalnya bagaikan dengan berjalan-jalan sendirian di suatu daerah yang belum pernah dikunjungi.

Bahkan, rasa bebas dan percaya diri itu juga sering berlebihan. Sudah menjadi fenomena umum, bahwa ada orang yang tampak tenang dalam dunia nyata tetapi bisa menjadi garang di media sosial. Atau sebaliknya, orang yang tampak gagah berani mencaci maki pejabat negeri, tetapi mendadak pucat ketika ditangkap polisi.

Tepatnya saat ini kita memasuki ekosistem digital tanpa pemandu atau melalui praktik langsung. Segala hal terkait dengan kepantasan, manfaat, risiko, dan sebagainya, kita temukan di lapangan tanpa ada yang memandu dan menjelaskan secara komprehensif. Karena itu tidak mengherankan kalau di luar ada orang yang sejahtera dengan memanfaatkan dunia maya. Di sana-sini kita menemukan begitu banyak korban ketidakpantasan atau bahkan kejahatan di sana. Mungkin di antara kita ada yang mengalami atau setidaknya mendengar satu dari kejahatan seperti pornografi, berita bohong, pelecehan, cyber bullying, pencurian data, penipuan, plagiasi, terorisme, dan sebagainya.

Ke depannya, persoalan akan semakin kompleks karena dunia maya itu sendiri juga terus berkembang dengan ruang lingkup jejaring yang semakin luas dan makin interconnected. Sebagian dari kita mungkin masih berada di jejaring informasi (internet of information). Namun, siap atau tidak, kita tengah memasuki era jejaring benda (internet of things-IoT), bahkan jejaring nilai ekonomi (internet of value-IoV atau internet of economy-IoE), yang semuanya memiliki potensi dan risikonya sendiri-sendiri.

Terkait permasalahan yang sering terjadi seperti yang di sebutkan di atas, maka perlu adanya pencerahan sebagai bentuk pendidikan kepada warga digital agar lebih berhati-hati dalam membuat konten digitalnya. Dengan kondisi masyarakat kita yang mayoritasnya sudah menjadi warga digital sangat banyak bentuk konten positif yang seharusnya di buat, seperti konten ajakan dalam kemajuan, konten pengetahuan yang menginspirasi dan memberi pendidikan kepada warga digital.

Selain dari itu tentunya juga perlu adanya pendidikan digital citizenship, seperti di beberapa negara, pendidikan digital citizenship dengan berbagai istilahnya, sudah banyak masuk ke dalam kurikulum, utamanya untuk pendidikan dasar. Fokusnya pada anak-anak karena mereka paling rentan menjadi korban. Sementara konsep menghargai orang lain, memperlakukan orang sebagaimana dia ingin diperlakukan, dan bertindak secara bertanggung jawab adalah bagian dari etika umum yang sudah harus melekat dalam perilaku setiap orang, termasuk dalam aktivitas siber-nya.

Pertanyaannya, apakah di Indonesia diperlukan langkah serupa? Bukankah persoalan kita lebih besar dari itu? Di tingkat pendidikan dasar dan menengah, pendidikan digital citizenship jelas diperlukan. Namun, bukankah yang lebih mendesak sebenarnya justru pendidikan di kalangan masyarakat dewasa?

Semoga pertanyaan ini ada jawabnya dan kebijakan negara kita tentang konten digital bisa lebih baik yang sesuai dengan yang dibutuhkan di negeri ini sehingga terlahirnya warga digital yang lebih berkualitas.

Oleh : Adi Saputra
Mahasiswa Hukum Tata Negara

loading...