25 C
Padang
Rabu, Desember 7, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Pengaruh Sejarah Batang Kuantan di  Sijunjung
P

Kategori -
- Advertisement -

Penulis : Cindy Komala Dewi
Guru SDN 26 Kabupaten Sijunjung

“Cerita Batang Kuantan”

Batang kuantan adalah sungai yang terdapat di  propinsi Riau yang berhulukan dari kabupaten Sijunjung, Propinsi Sumatera Barat. Merupakan salah satu sungai yang cukup populer dengan arena paju jalur/ pacu perahu di provinsi Riau tepatnya di Kabupaten Kuantan Singingi. Aliran sungai ini juga menjadi arena arum jeram yang cukup menantang serta penampakan alamnya yang sangat indah.

Lokasi untuk arung jeram ini berada dialiran sekitaran nagari Silokek Kabupaten Sijunjung, provinsi Sumatera Barat. Bukan hanya itu, yang membuat sungai ini sangat menarik adalah nilai-nilai sejarah dan pengaruhnya terhadap masyarakat  Sijunjung baik dari segi agama, sosial, budaya maupun  ekonomi.

Kabupaten Sijunjung dengan ibu kotanya Muaro Sijunjung memiliki sejarah yang sangat erat kaitannya dengan Batang (sungai) Kuantan.  Betapa tidak, batang kuantan ini terbentuk dari pertemuan beberapa aliran sungai seperti batang palangki, sungai batang sukam dan batang Ombilin yang kemudian saling bertemu dan bermuara tepatnya di nagari Muaro. Pertemuan sungai- sungai (Batang) inilah yang menjadi hulu (awal) dari batang kuantan. Oleh sebab itulah muaro Sijunjung disebut dengan kota pertemuan karena merupakan pertemuan dari sungai-sungai tersebut.

Kabupaten Sijunjung merupakan masyarakat  dengan suku Minangkabau, sesuai dengan filosofi orang Minangkabau yaitu “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabulah”, itu berarti hidup masyarakat Sijunjung beradat dan beragama. batang kuantan memiliki peran sejarah dalam proses perkembangan agama di masyarakat Sijunjung, yang konon katanya menurut pemuka agama yang ada di Sijunjung awal perkembangan islam terjadi pada abad ke 16 dimulai dari Syekh Amilludin yang berasal dari nagari pudak pergi mengaji/ mendalami agama ke Taram, kabupaten Lima puluh kota.

Kemudian dari Taram setelah selesai mendalami agama beliau pergi merantau ke Siak (Riau) untuk mengembangkan agama Islam, disana beliau memiliki murid- murid yang kemudian beliau bawa ikut serta untuk kembali ke Sijunjung. Dari Siak beliau melalui perjalanan melewati batang kuantan, kemudian terus ke batang sukam, tepatnya di jorong pudak beliau mendirikan surau bersama murid-muridnya  yang digunakan sebagai tempat belajar agama.

Sewaktu Syekh Amiluddin kembali bersama murid-muridnya dari Siak, Sijunjung  pada saat itu masih kurang pengetahuan terhadap sikap dan agama yang baik, sehingga dengan datangnya murid-murid beliau dari Siak tersebut menjadi panutan dan contoh bagi masyarakat setempat untuk berperilaku maupun ketaatan dalam agama. Oleh sebab itulah di Sijunjung hingga saat ini orang yang mengetahui dan taat dalam beragama dan berperilaku baik disebut / dijuluki “urang siak” (orang siak).

 Kemudian sekitaran abad ke 17 dari pudak Syekh Amiluddin mengutus salah satu muridnya yang bernama syekh Abdul wahab untuk mengembangkan ajaran  agama ke wilayah berikutnya dengan cara menghanyutkan batu kesepanjang aliran batang sukam, yang mana beliau memerintahkan kepada muridnya tersebut untuk menetap dimana batu tersebut berhenti. Batu tersebut disebut batu apung, yang kemudian berhenti di nagari Subarang Sukam, Calau. Maka disanalah syekh Abdul Wahab melakukan pengembangan dan penyebaran  agama Islam. Hingga saat ini batu apung masih menjadi bukti peninggalan sejarah penyebaran agama islam di nagari Sijunjung, batu  Apung tersebut saat ini berada di sekitaran makam syekh Abdul wahab yang berada di Subarang Sukam tersebut.

 Selanjutnya dari Nagari Subarang Sukam Syekh Abdul Wahab mengutus seorang khalifanya untuk memperluas agama di nagari Sijunjung tepatnya di surau simaung, jorong ganting, yang diutus saat itu adalah syehk Malin Bayang (1863-1963). Surau simaung tersebut juga  terdapat di tepi aliran sungai batang sukam. Hingga saat ini masih dapat  dilihat bahwa titik peradaban Islam di nagari sijunjung berada di sekitan sungai batang sukam, hal ini di buktikan dengan adanya mesjid/ surau yang terdapat didekat makam dari ketiga syekh tersebut, yakninya mesjid pudak, tempat syekh amiluddin dimakamkan, surau calau tempat syekh abdul wahab di makamkan dan surau simaung tempat syekh malin bayang dimakamkan serta berbagai peninggalan benda-benda pusaka dari ketiga syehk tersebut. Hingga saat ini ketiga surau tersebut masih aktif sebagai tempat mendalami agama bagi masyarakat, dan juga sebagai tempat wisata religi yang cukup ramai dikunjungi di Sijunjung.

Melirik dari perkembangan  agama islam di Sijunjung juga ikut mempengaruhi  kehidupan sosial masyarakat sijunjung, yaitu menjadikan perilaku “urang siak”sebagai contoh dan ketauladanan dalam kehidupan, yang membuat mereka lebih termotifasi untuk mendidik anak dan cucu mereka supaya lebih taat dalam beragama dan berprilaku sesuai dengan norma-norma agama islam. Karena itulah anak laki-laki yang belum menikah di sijunjung mereka tidur di surau bukan dirumah, hal ini bertujuan agar mereka bisa belajar agama dengan baik dan lebih lama apabila mereka tidur disurau. Jadi  panggilan “urang siak” bukan lagi  untuk orang yang berasal dari siak yang beragama baik, namun melainkan orang sijunjung yang sudah memiliki agama dan akhlak yang baik.   

Batang kuantan di Sijunjung juga memiliki peran penting dalam sisi kebudayaan,hal ini dapat dilihat dari letak pemukiman penduduk di sepanjang aliran sungai. Betapa tidak, dalam budaya Minangkabau, salah satu syarat dalam mendirikan sebuah koto/nagari adalah “balabuah jo batapian”. Atas dasar inilah masyarakat mendirikan nagari di sepanjang aliran sungai, seperti halnya di Perkampungan adat Nagari Sijunjung.

Koto, Padang Ranah nagari Sijunjung dipilih oleh pendiri nagari pada zaman dahulunya karena memenuhi syarat sebagai sebuah koto/nagari yang merupakan pusat adat dinagari Sijunjung, yang terletak tidak jauh dari jorong pudak atau dari makam syekh amilluddin dan berseberangan dengan surau simaung (makam syekh malin banyang).disana berjejer kurang lebih 64 Rumah Gadang dari setiap suku yang ada di Nagari Sijunjung. Seperti, suku piliang, caniago, malayu, panai, patopang dan suku tobo. Sebuah keunikan yang tidak ditemukan diwilayah lain di Minangkabau, karena di Padang Ranah Rumah Gadang berdiri sejajar,  berhadapan dan beraturan sesuai suku-suku yang ada.  sampai saat  ini rumah gadang tersebut masih dihuni dan digunakan sebagai tempat melaksanakan  acara adat.

Setiap suku yang ada di koto, Padang Ranah memiliki tapian mandi masing-masing, salah satu contohnya adalah tapian mandi yang disebut dengan “Tapian Piliang”. Disebut demikian karena yang menggunakan tepian sungai tersebut adalah masyarakat dari suku piliang, dan letaknyapun berada di sekitaran rumah gadang suku piliang. Tapian mandi di Sijunjung, selain digunakan untuk mandi dan mencuci juga sebagai sarana interaksi sosial karena saat mandi, selain menyatu langsung dengan alam juga tanpa batas untuk saling bercerita atau berbagi informasi.Sungai batang sukam, yang juga merupakan hulu dari Sungai Batang Kuantan, memiliki peran penting dalam roda perekonomian masyarakat Sijunjung dari zaman dahulu hingga sekarang. Sungai ini menjadi tempat bagi masyarakat melangsungkan kehidupan. Seperti, memanfaatkan air sungai untuk memutar kincir dan mengairi sawah.

Melirik pada zaman dahulu, sungai batang kuantan yang juga dikenal dengan sungai Indragiri merupakan sungai yang terdapat di kabupaten Kunantan Singingi propinsi Riau. Sungai ini mengalir diwilayah tengah Sumatera yang berhulu dari Kabupaten Sijunjung dan bermuara di Pantai Timur Sumatera, tepatnya di kabupaten Indragiri Hilir.Letaknya yang sangat strategis dengan wilayah perdagangan, menjadikan sungai ini sebagai sarana transportasi penting dalam jalur perdagangan pada masa dulunya, dan merupakan jalan dari india ke Nusantara. Berbagai kekayaan hasil bumi yang ada dipulau Sumatera membuat bangsa asing seperti, belanda dan jepang tergiur untuk mendatangi dan menguasai wilayah perdagangan di Sumatera.

Belanda berhasil memasuki wilayah Sijunjung diperkirakan pada abad ke 16 melalui pantai barat, tujuannya yaitu mendapatkan rempah-rempah serta menguasai hasil tambang seperti batu bara dan emas yang terdapat di wilayah tersebut.Saat itu, kota Sawahlunto  masih termasuk wilayah kabupaten Sijunjung yang mana sampai saat ini masih kita lihat sebagai kota penghasil batu bara terbaik. Hai inilah yang sangat menggiurkan bagi bangsa Belanda. Sebelum kegiatan pertambangan dikelola dalam suatu kelembagaan,pertambangan dilakukan oleh penduduk setempat dengan izin dari penguasa, seperti raja/ratu setempat. Setelah pertambangan menjadi mata niaga perdagangan, yang mana pihak Belanda mengambil alih seluruh urusan pertambangan yang ada dinusantara.

VOC adalah sebuah badan usaha  perdagangan belanda yang diharuskan  untuk memahami berbagai macam masyarakat yang akan dijadikan mitra usaha dengan melakukan perjalanan di berbagai pulau di Indonesia.tahun 1684  Thomas Dias yang merupakan anggota VOC, berhasil memasuki wilayah minangkabau dengan cara mendatangi istana pagaruyuang untuk benegosiasi dengan raja/ penguasa setempat.Sangat banyak kesukaran-kesukaran yang di temuinya saat melakukan negosiasi utuk menjalin hubungan diplomasi perdagangan hingga akhirnya, pihak istana memberikan izin pada Thomas Dias untuk mendirikan pos Belanda dan membantunya agar dapat menguasai kegiatan perdagangan di sungai siak dan indragiri. Namun tidak banyak  keberhasilan dan kemajuan yang dapat dirai Thomas Dias pada masa itu.

Hingga pada tahun 1799 pemerintah belanda membubarkan VOC, dan mengambil alih segala urusan nusantara, termasuk urusan pertambangan. Penyelidikan geologi dan pencarian bahan galian tambang lebih terarah setelah pemerintah Belanda membentuk kantor Minjnwezen di Jakarta. Dibawah lembaga itulah, penyelidikan geologi semakin meluas di wilayah nusantara, termasuk salah satunya wilayah Sawahlunto/Sijunjung.

William Hendrik De Greve merupakan seorang ilmuan geologi Belanda yang saat itu di tugaskan di wilayah Sijunjung, ia berhasil menemukan batu bara di Sawahlunto pada tahun 1868. Setelah diketahui sumber daya alam dan potensi ekonominya pemerintah hindia belanda memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi dan pembangunan infrastruktur tambang dan pendukungnya di sawahlunto pada tahun 1883 sampai 1894, karena saat itu batu bara sangat dibutuhkan sebagai  pendukung perekonomian.

Kemudian pada tahun 1872 William Hendrik De Greve kembali melanjutkan penelitian geologinya terhadap mineral-mineral baru yang terkandung di sepanjang aliran batang Ombilin – batang kuantan seperti biji emas dan timah serta untuk  menemukan jalur baru untuk pendistribusian batu bara sawahlunto keselat malaka di sekitaran aliran sungai batang kuantan bersama rombongan menggunakan perahu. Nasib malang menimpa William Hendrik De Greve perahu yang ditumpanginya terbalik dan tenggelam, karena aliran sungai yang deras  mengakibatkan ia tewas tenggelam.  setelah dilakukan pencarian, willian dimakamkan pada 22 Oktober 1872 di Durian Gadang Silokek, Sijunjung.

Pembukaan tambang batu bara Sawahlunto oleh belanda membawa berbagai dampak terhadap berbagai sarana dan prasarana , jalan-jalan, gegung-gedung perkantoran,pemukiman buruh dan pelabuhan yang  dibangun lebih cepat dari pada tambang itu sendiri. Hal ini dapat dilihat adanya pembangunan rel kereta api di Sawahlunto dan Sijunjung yang pembagunan awalnya dilakukan pada masa pemerintahan belanda jalur sawahlunto-muaro sijunjung dan Riau di buat dengan tujuan untuk mempermudah akses pengagkutan batu bara dari sawahlunto menuju selat malaka.

Namun karena adanya pemindahan kekuasaan dari pemerintahan belanda ke pemerintahan jepang pembangunan sempat terhenti dan kemdian dilanjutkan oleh pemerintah Jepang pada tahun 1942-1945, pembangunan rel memakan waktu yang cukup lama karena saat pembangunannya hanya menggunakan tenaga manusia tanpa bantuan alat dengan kondisi alam yang cukup ekstrim, seperti hutan dengan tebing tinggi serta rawa-rawa.

Jalur kerata api non aktif antara sawahunto-muaro Sijunjung- hingga pekan baru sepanjang 246 KM yang dibangun oleh dua pihak yang berbeda yaitu belanda dan jepang dengan menggunakan sistim kerja paksa tanpa dibayar, dan memanfaatkan tahanan perang yang kabarnya menewaskan puluhan ribu manusia itu, menjadi jalur utama pada masa kedudukan jepang mengingat pada waktu itu, batu bara merupakan bahan bakar utama yang amat mendesak untuk berperang. Hingga saat ini masIh dapat kita temukan jejak pembangunan tersebut seperti di daerah Muaro yang terdapat rel kerta api tersebut dan di daerah durian gadang Silukah, Durian gadang  Sijunjung juga dapat kita temukan lokomtif C,  kereta api dan sudah dijadikan benda Cagar budaya oleh pemerintah.

Jadi, dapat kita lihat Sungai Batang Kuantan merupakan sungai yang sangat berpengaruh di wilayah sijunjung, baik dengan potensi yang dimilikinya hingga nilai-nilai sejarah yang terdapat didalamnya. Hal inilah yang menjadikan potensi wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi di wilayah sijunjung, seperti geopart Silokek yang merupakan wisata alam yang sangat indah dengan nilai-nilai sejarahnya yang menarik dan sudah ditetapkan sebagai  geopark Nasional pada tahun 2018.

Kemudian Sijunjung juga dikenal dengan tempat wisata religi dan wisata budaya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kunjungan dari masyarakat dari dalam maupun luar daerah yang berkunjung dan berziarah ke makam tokoh-tokoh agama yang ada di Sijunjung.  Dan wisata budaya dibuktikan dengan ditetapkanya perkampungan Adat Padang Ranah sebagai salah satu Cagar Budaya Nasional  karena nilai-nilai penting yang di punyainya.  Rumah gadang merupakan salah satu wujud budaya Matrilinial yang dimiliki orang Minangkabau, serta dengan berbagai tradisi-tradisi yang terus di lestarikan hingga saat ini.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img