28 C
Padang
Senin, Agustus 2, 2021
Beritasumbar.com

Pendidikan Sekolah Yang Humanis
P

Kategori -

Abstrak

Pendidikan adalah tugas dan tanggung jawab bersama untuk mengembangkan kesadaran dan wawasan antar manusia demi kelangsungan kehidupan. Usaha dalam meningkatkan kesadaran, kepribadian anak, serta pengembangan kreativitas melahirkan pendekatan pendidikan yang disebut dengan “humanisasi” dalam proses pendidikan sekarang.

Diperlukan usaha untuk menciptakan sekolah yang humanis dalam rangka menciptakan dunia pendidikan yang merdeka bagi murid maupun guru. Pendidikan humanis mempunyai konsep bahwa manusia sebagai subjek yang memiliki kemampuan menghadapi dunia dan lingkungan hidupnya, serta kemampuan untuk mengatasi dan memecahkan masalah-masalah yang akan dihadapi manusia itu sendiri.

Sekolah humanis adalah sekolah yang mencintai, memberikebebasan dalam berkreativitas sesuai dengan minat dan bakatnya peserta didik. Tujuan kurikulum humanis harus ada perkembangan pribadi yang dinamis, integritas, dan otonomi sikap kepribadian yang sehat dengan lingkungan. Guru sebagai inisitor, motivator, dan fasilitator dalam menjalan pembelajaran sehingga memecahkan permasalahan-permasalahan. Peserta didik memahami potensi diri mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.

PENDAHULUAN

  Pendidikan merupakan suatu proses yang dapat ditempuh baik itu melalui pendidikan formal, non formal maupun informal. Dengan demikian, pendidikan dapat dilaksanakan di mana saja dan di situasi apapun sehingga pendidikan dapat dinikmati oleh siapa saja. Tanpa melihat status sosial, ras, suku, budaya, dan lain sebagainya, karena pendidikan merupakan hak bagi setiap manusia yang ada di muka bumi, agar kemudian dapat menciptakan manusia-manusia yang berkualitas, produktif, dan merdeka.

Kaitan dengan itu, agar proses pembelajaran dalam praktik pendidikan dapat berjalan secara efektif maka diperlukan adanya pemahaman terhadap berbagai teori-teori pembelajaran yang telah banyak dikemukakan oleh para ahli pendidikan. Oleh karena itu,pengkajian terhadap teori-teori pembelajaranakan sangat bermanfaat bagi para guru, maupun para praktisi pendidikan pada umumnya, karena dengan adanya pengkajian secara mendalam terhadap teori-teori tersebut akan semakin membuka gerbang keberhasilan dalam dunia pendidikan.

  Namun demikiankeberhasilan dalampendidikan tidak serta merta dapat terwujud dengan mudah, harus ada kesadaran dari semua pihak terutama guru yang notabenenya merupakan ujung tombak pendidikan, dengan demikian agar keberhasilan dalam dunia pendidikan dapat terwujud maka diperlukanlah guru-guru yang memiliki kreatifitas serta kualitas yang mumpuni, yang mengerti akan hakikat pendidikan, sehingga apa yang kemudian dilakukan dalam sebuah proses pendidikan merupakan suatu yang benar-benar ditujukan untuk kemanusiaan.

  Berdasarkan hal tersebut maka penulistertarik untuk memformulasikan berbagai teori-teori yang ada untuk kemudian dijadikan sebuah konsep pendidikan yang lebih humanis, karena selama ini jika melihat realitas pendidikan yang ada maka akan terlihat sebuah pemandangan yang sangat tidak humanis baik itu pendidikan yang berlangsung dalam sebuah lembaga umum (Non Agama) maupun lembaga pendidikan Agama.

PERMASALAHAN

Masih banyak persoalan yang menjadi beban pengelolaan pendidikan dan pengajaran. Mulai dari beban ajar yang terlalu banyak dan padat, sampai pada profesionalitas guru yang masih belum memadai dan penghargaan finansial terhadap para pendidik yang masih sangat rendah.

Dalam bahasan ini masalah yang terkait erat adalah standar keberhasilan belajar yang masih menekankan bidang intelektual dan sekaligus sentralisasi standar mutu (UNAS: Ujian Nasional), yang mengakibatkan masyarakat terjerumus pada keyakinan bahwa hasil UNAS adalah satu-satunya ukuran keberhasilan peserta didik dan juga sekolah sebagai lembaga pendidikan.

Hasil UNAS menentukan ranking mutu sekolah, tanpa memperhatikan banyak aspek lain yang mungkin diperoleh oleh peserta didik atau lembaga sekolah yang ada. Singkatnya sistem evaluasi dan UNAS yang diselenggarakan masih mengkerdilkan peserta didik sebagai pribadi manusia dan sekolah sebagai lembaga pendidikan, menjadi satu aspek saja yaitu kecerdasan yang diukur oleh UNAS (kasarnya soal pilihan ganda atau benar salah).

Pada jaman kemajuan teknologi sekarang ini, sebagian besar manusia dipengaruhi perilakunya oleh pesatnya perkembangan dan kecanggihan teknologi (teknologi informasi). Banyak orang terbuai dengan teknologi yang canggih, sehingga melupakan aspek-aspek lain dalam kehidupannya, seperti pentingnya membangun relasi dengan orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial di dalam masyarakat, pentingnya menghargai sesama lebih daripada apa yang berhasil dibuatnya, dan lain-lain.

Seringkali teknologi yang dibuat manusia untuk membantu manusia tidak lagi dikuasai oleh manusia tetapi sebaliknya manusia yang terkuasai oleh kemajuan teknologi. Manusia tidak lagi bebas menumbuhkembangkan dirinya menjadi manusia seutuhnya dengan segala aspeknya. Keberadaan manusia pada zaman ini seringkali diukur dari “to have” (apa saja materi yang dimilikinya) dan “to do” (apa saja yang telah berhasil/tidak berhasil dilakukannya) daripada keberadaan pribadi yang bersangkutan (“to be” atau “being”nya).

Dalam pendidikan perlu ditanamkan sejak dini bawa keberadaan seorang pribadi, jauh lebih penting dan tentu tidak persis sama dengan apa yang menjadi miliknya dan apa yang telah dilakukannya. Sebab manusia tidak sekedar pemilik kekayaan dan juga menjalankan suatu fungsi tertentu. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand !”

Masalah pendidikan yang cukup penting untuk dibenahi adalah proses pembelajaran yang hanya menekankan pada aspek hafalan, ingatan, “memorizing” belaka. Ini disebabkan beberapa faktor; guru mengajar hanya menggunakan metode ceramah melulu, bentuk soal yang hanya pilihan berganda, penanaman pengetahuan yang tidak sampai pada konsep/pengertian dan nilai, dan suasana kelas yang aktif-negatif (seperti misalnya aktif mendengarkan, aktif mencatat) namun tidak aktif-positif (seperti misalnya aktif bertanya, aktif berdiskusi, aktif melakukan percobaan, aktif “mengalami”, aktif merefleksikan).

Oleh karena itu kalau pendidikan mau benar-benar membantu peserta didik untuk menumbuhkembangkan aspek-aspek dirinya, perlu dikembangkan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek ingatan, hafalan, memorizing (berbasis materi), namun sampai pada aspek penalaran dan kemampuan menggunakan keterampilan secara baik serta sifat berpikir yang aktif positif. Pembelajaran dan pendidikan yang menjadikan peserta didik memiliki kompetensi tertentu.Dalam hal ini pembelajaran tujuh kebiasaan manusia efektif yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey sangat bermanfaat untuk dikembangkan dalam dunia pendidikan. Penting pula menerapkan pendidikan dan pembelajaran berdasarkan kecerdasan jamak yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Penting pula bahwa setiap institusi pendidikan menerapkan pendidikan nilai sesuai dengan tingkat dan jenisnya.

Di tengah-tengah maraknya globalisasi komunikasi dan teknologi, manusia makin bersikap individualis. Mereka “gandrung teknologi”, asyik dan terpesona dengan penemuan-penemuan/barang-barang baru dalam bidang iptek yang serba canggih, sehingga cenderung melupakan kesejahteraan dirinya sendiri sebagai pribadi manusia dan semakin melupakan aspek sosialitas dirinya.

Oleh karena itu, pendidikan dan pembelajaran hendaknya diperbaiki sehingga memberi keseimbangan pada aspek individualitas ke aspek sosialitas atau kehidupan kebersamaan sebagai masyarakat manusia. Pendidikan dan pembelajaran hendaknya juga dikembalikan kepada aspek-aspek kemanusiaan yang perlu ditumbuhkembangkan pada diri peserta didik.

Hasil dan PembahasanPendidikan Humanisme

  Pendidikan merupakan mengarahkan dan menjalankan pengalaman bagi setiap manusia, John Dewey bahwa pendidikan adalah proses rekonstruksi dan reorganisasi pengalaman, dan yang menumbuhkan kemampuan dan mengarahkan jalan pengalaman berikutnya. Pendidikan membutuhkan aktualisasi diri dalam pengalaman yang sudah dilakukan untuk menuju pengembangan masa depan individu. Konsep ini memandang bahwa manusia sebagai subjek dalam menghadapi dunia mempunyai kemampuan dari diri manusia. Humanis bahasa Latin:

  humanus berarti manusia dan memiliki arti manusiawi atau sesuai dengan kodrat manusia (Mangunhardjana, 1997: 93). Pendidikan Humanis adalah pendidikan yang bukan hanya mengembangkan kualitas kognitif akan tetapi juga mengembangkan psikomotorik dan efektif, sehingga dalam proses pembelajaran nilai kemanusiaan yang terdapat dalam diri peserta didik dapat dikembangkan.

Pendidikan yang humanis lebih menekankan bagaimana cara menjalin komunikasi secara personal dan kelompok dalam lingkungan sekolah. Karakter dalam pendidikan humanis dengan asumsi positif yaitu peserta didik mempunyai akal dan sama dalam pengetahuan, untuk mengaktualisasi dirinya peserta didik diberi kebebasan.

Pendapat-pendapat para pakar psikologi tentang pendidikan humanistik: (Arbayah, 2013: 206-207)

1. Abraham Maslow (1908-1970)

Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik.  Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Hierarchy of needs (hirarki kebutuhan) dari Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki lima macam kebutuhan yaitu physiological needs (kebutuhan fisiologis), safety and security needs (kebutuhan akan rasa aman), love and belonging needs (kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki), esteem needs (kebutuhan akan harga diri), dan self-actualization (kebutuhan akan aktualisasi diri) (Winkel, 1987: 186).

a) Kebutuhan Fisiologis

Jenis kebutuhan ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar semua manusia seperti, makan, minum, menghirup udara, dan sebagainya. Termasuk juga kebutuhan untuk istirahat, buang air besar atau kecil, menghindari rasa sakit, dan, seks. Jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka tubuh akan menjadi rentan terhadap penyakit, terasa lemah, tidak fit, sehingga proses untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya dapat terhambat. Hal ini juga berlaku pada setiap jenis kebutuhan lainnya, yaitu jika terdapat kebutuhan yang tidak terpenuhi, maka akan sulit untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi.

b) Kebutuhan akan Rasa Aman

Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah terpenuhi secara layak, kebutuhan akan rasa aman mulai muncul Keadaan aman, stabilitas,proteksi, dan keteraturan akan menjadi kebutuhan yang meningkat. Jika tidak terpenuhi, maka akan timbul rasa cemas dan takut sehingga dapat menghambat pemenuhan kebutuhan lainnya.

c) Kebutuhan akan Rasa Kasih Sayang

Ketika seseorang merasa bahwa kedua jenis kebutuhan di atas terpenuhi, maka akan mulai timbul kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki. Hal ini dapat terlihat dalam usaha seseorang untuk mencari dan mendapatkan teman, kekasih, anak, atau bahkan keinginan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas tertentu seperti tim sepakbola, klub peminatan, dan seterusnya. Jika tidak terpenuhi, maka perasaan kesepian akan timbul.

d) Kebutuhan akan Harga Diri

Kemudian, setelah ketiga kebutuhan di atas terpenuhi, akan timbul kebutuhan akan harga diri menurut Maslow, terdapat dua jenis, yaitu lower one dan higher one. Lower one berkaitan dengan kebutuhan seperti status, atensi, dan reputasi. Sedangkan higher one berkaitan dengan kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, prestasi, kemandirian, dan kebebasan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka dapat timbul perasaan rendah diri dan inferior.

e) Kebutuhan akan Aktualisasi Diri

Kebutuhan terakhir menurut hirarki kebutuhan Maslow adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Jenis kebutuhan ini berkaitan erat dengan keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri. Menurut Abraham Maslow, kepribadian bisa mencapai peringkat teratas ketika kebutuhan-kebutuhan primer ini banyak mengalami interaksi satu dengan yang lain, dan dengan aktualisasi diri seseorang akan bisa memanfaatkan faktor potensialnya secara sempurna.Dari penjelasan diatas disimpulkan pendidikan humanisme yaitu pendidikan yang harus mencapai ke-5 kebutuhan tersebut.

2. Carl Ransom Rogers (1902-1987)

Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu kepribadian seseorang mengatasi masalah kehidupan. Carl Rogers menyakini masukan yang ada pada diri seseorang sesuai dengan pengalamannya dan secara mutlak mengarah pada pemenuhan kebutuhan dirinya sendiri.

Menurut Rogers dalam Budi Agus Sumantri, ada dua tipe belajar, yaitu kognitif (kebermaknaan) dan eksperimental (pengalaman). Guru memberikan makna (kognitif) bahwa tidak membuang sampah sembarangan dapat mencegah terjadinya banjir. Jadi, guru perlu menghubungkan pengetahuan akademik ke dalam pengetahuan kognitif (Sumantri & Ahmad, 2019: 13). Rogers menegaskan, dalam pengembangan diri seorang pribadi akan berusaha keras demi aktualisasi diri (self actualisation), pemeliharaan diri (self maintenance), dan peningkatan diri (self inhancement) (Arbayah, 2013: 207).

  Perspektif para humanis terlihat sebagai penempatan sebab pelaku (‘illaf fai’iliah) dan sebab tujuan(‘illah ghayah) di dalam diri manusia sehingga individu bisa mengaktualisasikan segenap potensi dirinya tidak hanya dalam bentuk yang terasing dari sebab-sebab di luar, tetapi bahkan juga dalam posisi yang mengemban tujuan dari perwujudan dirinya, dan individu ini sepenuhnya bertumpu pada dirinya sendiri dalam proses aktualisasi diri, pemeliharaan diri, dan peningkatan diri (Arbayah, 2013:207).Rogers menyatakan ada lima hal yang penting dalam proses belajar humanisme, yaitu: (Siregar, 2011: 37)

a) Hasrat untuk belajar: keinginan untuk belajar dikarenakan adanya

dorongan rasa ingin tahu manusia yang terus menerus terhadap dunia sekelilingnya. Dalam proses memecahkan jawabannya, seorang individu mengalami kegiatan-kegiatan belajar.

b) Belajar bermakna: seseorang yang beraktivitas akan selalu mempertimbangkan apakah aktivitas tersebut mempunyai makna bagi dirinya. Jika tidak, tentu tidak akan dilakukannya.

c) Belajar tanpa hukuman merupakan belajar yang terlepas dari hukuman

atau ancaman menghasilkan anak bebas untuk melakukan apa saja, dan mengadakan percobaan hingga menemukan sendiri suatu hal yang baru.

d) Belajar dengan daya usaha atau inisiatif sendiri: menunjukkan tingginya motivasi internal yang dimiliki. Siswa yang banyak inisiatif, akan mampu untuk memandu dirinya sendiri, menentukan pilihannya sendiri dan berusaha mempertimbangkan sendiri hal yang baik bagi dirinya.

e) Belajar dan perubahan: keadaan dunia terus berubah, karena itu peserta didik harus belajar untuk dapat menghadapi serta menyesuaikan kondisi dan situasi yang terus berubah. Dengan begitu belajar yang hanya mengingat fenomena atau menghafal kejadian dianggap tak cukup.

  Pendidikan Humanisme dalam Lingkungan Sekolah

  Aktivitas belajar salah satu kebutuhan manusia. Belajar bisa diartikan aktivitas memperoleh pengetahuan dari orang yang dianggap lebih tahu kepada orang yang kurang tahu. Pendidikan merupakan salah satu usaha dalam menumbuhkan dan mengembangkan prestasi dan potensi seseorang yang sesuai dengan hakikat dan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan. Pendidikan merupakan segala sesuatu dalam kehidupan yang mempengaruhi pembentukan berpikir dan bertindak individu (Soyomukti, 2010: 29). Pendidikan dalam arti yang khusus yaitu pengajaran yang diselenggarakan di sekolah sebagai tempat mendidik, agar memiliki kemampuan kognitif, kesiapan mental, kesadaran yang berguna bagi masyarakat, menjalin hubungan sosial sesama, dan memiliki tanggung jawab pribadi dan masyarakat (Soyomukti, 2010: 40-41).

  Teori pendidikan humanistik yang muncul pada tahun 1970-an bertolak dari tiga teori filsafat, yaitu: pragmatisme, progresivisme dan eksistensisalisme. (Knight, 1982: 82). Ide utama pragmatisme dalam pendidikan adalah memelihara keberlangsungan pengetahuan dengan aktivitas yang dengan sengaja mengubah lingkungan (Dewey, 1966: 344). Pragmatisme melihat pendidikan sebagai kehidupan dalam ruang lingkup belajar yang demokratis dan menjadikan semua orang berpartisipasi dalam membuat keputusan. Pengaruh dari pemikiran pragmatisme menjadi faktor utama lahirnya pendidikan yang progresivisme dan humanisme. Pragmatisme dalam pendidikan adalah bahwa:

(1) Peserta didik (siswa) adalah subjek yang memiliki pengalaman.

(2) Guru bukan orang yang tahu kebutuhan siswa untuk masa depannya.

(3) Materi/kurikulum harus sesuai kebutuhan siswa yang menekankan proses daripada materi.

(4) Metode pembelajaran harus memberikan kebebasan kepada siswa untuk mencari pengalaman belajar yang berguna.

(5) Kebijakan pendidikan mengikuti arus perubahan sosial (Arbayah, 2013: 208).

  Pendidikan Amerika sejak tahun 1920-1950-an menjadikan pendidikan yang progresivisme sebagai teori dominan, disebabkan oleh kuatnya pengaruh, knight mencatat, dan alasan hilangnya eksistensi teori dikarenakan program, ide, dan gagasan pendidikan progresif yang telah dikembangkan oleh teori lain. Pendidikan progresivisme dikembangkan pada pendidikan humanisme.

Pengaruh terakhir lahirnya pendidikan humanisme karena eksistensialisme,teori ini menekankan pada keunikan dari individual seorang anak. Keunikan yang terdapat pada diri seorang anak yang menjadikan pendidikan humanis upaya mencari jati diri seorang anak dan membantu seorang anak bebas dan bertanggung jawab dalam memilih, dengan adanya kebebasan maka akan membantu seorang anak dalam mengembangkan potensinya secara maksimal.

  Teori belajar humanistik juga menitikberatkan pada metode student-centered, dengan menggunakan “komunikasi antar pribadi” yaitu berpusat pada peserta didik dengan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik untuk dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam suatu kehidupan. Dewantara (1962: 14-15), menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah supaya dapat memajukan kesempurnaan hidup peserta didik, yaitu selaras dengan kodratnya, serasi dengan adat-istiadat, dinamis, memperhatikan sejarah bangsa dan membuka diri pada pergaulan dengan kebudayaan lain. Yang terpenting dari adalah proses suasana (emotional approach) dalam pembelajaran bukan hasil dari belajar. Seorang guru harus lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang dalam proses pendidikan.

Penulis: HJ. DEMINA, M.PD, & ANNISA ISTIANAH
(MAHASISWI DAN DOSEN IAIN BATUSANGKAR)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

MENUJU MEJA MAKAN

Cerita Berseri: Seribu Asa untuk Bahagia #Seri 5/1000cerita Oleh : H. Nofrijal, MA Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Utama (PUMA)IV-e Kembali ke meja makan, pernah menjadi “trendy topic” pada tahun...
- Advertisement -

Kawa Naik Daun Terima Kujungan Tim Penilai Pemuda Pelopor Provinsi Sumatera Barat

Limapuluh Kota_ Beritasumbar.com _ Pada tahun 2021 ini, Kawa Naik Daun dipercaya sebagai peserta lomba Pemuda Pelopor tingkat provinsi Sumatera Barat, mewakili Kabupaten Limapuluh Kota, menerima kunjungan dari tim penilai lomba Pemuda Pelopor tingkat Sumbar Pada Selasa 27/07. Bertempat dikediaman M.Hadid Qosim.ST sekaligus rumah produksi Kawa Naik Daun, Padang Ambacang Situjuh Limo Nagari Kab. Limapuluh kota.

Pohon Kebahagiaan, Watering..

Cerita Berseri: Seribu Asa untuk Bahagia Seri 3/1000 Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Utama (PUMA) IV-e Di hamparan hijau sawah yang subur, sumber pengairannya berasal dari banyak penjuru mata...
- Advertisement -

Tiga ASN Kankemenag Padang Panjang Mengikuti Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Pejabat Fungsional Penyuluh Agama Islam Melalui Jalur Penyesuaian/Inpassing

Padang Panjang, BeritaSumbar.com,_Tiga ASN Kankemenag Kota Padang Panjang mengikuti Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Pejabat Fungsional Penyuluh Agama Islam melalui Jalur Penyesuaian/Inpassing, Selasa (27/07/2021).

BNPT dan YHPB bersama Pemuda-Mahasiswa Berikan Bantuan pada Mahasiswa Perantauan dan Masyarakat Terdampak Covid-19

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) bekerjasama dengan Yayasan Harmoni Pemersatu Bangsa (YHPB) membuat gerakan bakti sosial, bertajuk ‘Pemuda dan Mahasiswa Bergerak untuk Indonesia Harmoni: Bakti Sosial kepada Mahasiswa Perantauan se-Indonesia di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi (Jadetabek), dan masyarakat terdampak pandemi Covid-19’.
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Mengenal Politik Praktis & Pragmatisme

Dalam praktik perebutan maupun mempertahankan sebuah kekuasaan Politik Praktis dan Pragmatisme seolah menjadi dua hal yang sulit dipisahkan, khususnya di negara Demokrasi seperti Indonesia.

Filosofi Lidi

Dari filosofi pohon kelapa yang sangat banyak manfaatnya, bahkan hampir seluruh bagian tanaman kelapa tersebut memberi manfaat untuk kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna tentu seharusnya juga memberi manfaat dan berperan menjaga bumi dan lingkungan setelah mengambil manfaat untuk kehidupan. Sesuai juga dengan perintah Tuhan dalam ajaran agama bahwa tujuan Tuhan menurun-kan manusia ke muka bumi ini adalah untuk beribadah dan berbuat yang bermanfaat.

Raih Keridhaan Allah melalui Etos Kerja

Dalam Manajemen Pendidikan Islam, etos kerja (semangat/motivasi kerja) dilandasi oleh semangat beribadah kepada Allah Swt. Maksudnya, bekerja tidak sekedar memenuhi kebutuhan duniawi melainkan juga sebagai pengabdian kepada Allah Swt,

Rugi Rasa Untung

Apakah beberapa fenomena terbalik yang terjadi ditengah masyarakat bangsa ini atau mungkin juga ditengah masyarakat dunia adalah pertanda bahwa kiamat sudah dekat ? Wallahu a’lam bishawab hanya Allah pencipta langit dan bumi yang tahu persis.

Mengatur Konflik dengan Teknik Mind Mapping

Konflik. Ketika kita mendengar kata itu, kebanyakan orang akan membayangkan seperti perang, rusuh, gontok-gontokan, atau orang yang berkelahi antarkampung. Tidak, sebenarnya konflik bisa dimulai dari sesuatu yang kecil. Kalau menurut psikologi, konflik itu bisa dimulai dari ketika kita merasa ada perbedaan, entah perbedaan pendapat atau perasaan tentang sesuatu hal.

DPW PTPI Sumbar Buka Bimbel & Bimtes CPNS 2021 Online

Dewan Pimpinan Wilayah Perkumpulan Trainer Profesional Indonesia Wilayah Sumatera Barat (DPW PTPI Sumbar) resmi membuka kegiatan Bimbingan Belajar (BIMBEL) dan Bimbingan Test CPNS 2021...

BUMN Berburu di Kebun Binatang

Sangat menarik menyimak perjalanan PT POS Indonesia sebuah perusahaan BUMN yang pionir dalam bidang jasa pengiriman barang dan serta pengiriman uang dalam bentuk wesel.

Kita Pancasila

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki komitmen dan memahami buah pemikiran dan cara pandang hidup yang disarikan para pendiri bangsa. Mereka telah membuat rumusan atau intisari yang digali dari jiwa bangsa ini, dari ruh bangsa ini, dari sikap hidup bangsa ini, yang berbhineka dan penuh nilai-nilai luhur.

Menanamkan Pendidikan Karakter Kepada Anak Sejak Dini

Pendidikan karakter memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan dan sangat menarik untuk diteliti, terutama karena pendidikan karakter berorientasi pada pembentukan karakter siswa.

Pentingnya Penggunaan Dan Pemanfaatan Teknologi Ditengah Pandemi

Pandemi covid 19 merupakan tantangan bagi kita sampai saat ini bagaimana kita menyikapinya dalam melaksanakan berbagai kegiatan. Mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, politik, sosial dan lainnya. Seluruhnya merasakan dampaknya.
- Advertisement -