Solok,Beritasumbar.com, – Dalam upaya mendukung pertanian berkelanjutan dan meningkatkan nilai tambah limbah ternak, tim dosen dan mahasiswa dari Program Studi Agroteknologi melaksanakan kegiatan Pengabdian Kemitraan Masyarakat (PKM) bersama Kelompok Tani Minang Saiyo di Kabupaten Solok. Kelompok tani ini dikenal aktif dalam bidang pertanian dan peternakan, terutama dalam pengelolaan kotoran sapi menjadi pupuk organik.
Kegiatan pengabdian ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Batch 3 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendikbudristek Tahun Anggaran 2025.

Tim pengabdian diketuai oleh Meisilva Erona, S.P., M.Si, dengan anggota Nika Rahma Yanti, S.TP., M.P, dan Nike Karjunita, S.P., M.Si, serta melibatkan mahasiswa Program Studi Agroteknologi. Fokus kegiatan ini adalah penerapan teknologi granulasi kompos berbasis bahan lokal seperti kotoran sapi dan hijauan guna menghasilkan pupuk organik dalam bentuk granular (butiran padat) yang lebih efisien, mudah diaplikasikan, dan memiliki daya simpan lebih lama.
Tahapan kegiatan diawali dengan diskusi bersama mitra untuk mengidentifikasi kondisi lapangan dan kebutuhan kelompok tani. Dari diskusi tersebut, diperoleh gambaran bahwa sebagian besar petani masih menggunakan kompos biasa yang sulit diaplikasikan dan memiliki efisiensi rendah dalam penyerapan hara oleh tanaman.
Selanjutnya dilakukan pelatihan dan uji coba alat granulator menggunakan bahan dasar kompos kotoran sapi dan hijauan milik kelompok tani. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa bahan organik tersebut dapat diolah menjadi kompos granular yang padat, tidak mudah hancur, dan memiliki bentuk menarik. Tim pengabdian juga membantu mitra dalam pembuatan desain label dan kemasan promosi produk untuk meningkatkan nilai jual dan daya saing di pasaran.

Sebagai langkah lanjutan, kompos granular hasil inovasi ini diujicobakan pada tanaman hortikultura, untuk membandingkan efektivitasnya dengan kompos biasa. Pengujian ini bertujuan untuk melihat kinerja pelepasan unsur hara secara lambat (slow release) dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan serta produktivitas tanaman hortikultura.
Ketua tim pengabdian, Meisilva Erona, S.P., M.Si, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat tani dalam menghadirkan inovasi teknologi tepat guna. “Melalui teknologi granulasi kompos, kami berharap kelompok tani mampu mengelola limbah ternak menjadi produk bernilai ekonomi dan ramah lingkungan. Kompos granular ini juga mendukung sistem pertanian berkelanjutan yang efisien bagi petani hortikultura di daerah Solok,” ujarnya.
Dengan adanya kegiatan ini, Kelompok Tani Minang Saiyo diharapkan dapat menjadi percontohan dalam penerapan pertanian sirkular (circular farming) di Sumatera Barat — di mana limbah peternakan diolah kembali menjadi sumber daya produktif bagi lahan pertanian. Program ini sekaligus memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat pedesaan.