spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Pandemi Covid-19 Telah Merubah Manusia Menjadi Srigala
P

Kategori -
- Advertisement -

Padang,BeritaSumbar.com,-Betul apa yang telah dicetuskan oleh Plautulus di dalam Asinaria dulu pada tahun 195 sebelum masehi yaitu homo homini lupus yang berarti manusia adalah serigala bagi manusia yang lainnya. Bagaimana tidak, sejak Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi global oleh WHO, begitu banyak peristiwa yang menyayat hati terjadi di Indonesia, sebuah tragedi kemanusiaan yang membuat manusia berhenti menjadi manusia. Frasa homo homini lupus cocok sebagai bentuk penggambaran bahwa manusia selalu melakukan kekejaman kepada manusia lainnya.
Penggambaran frasa itu bisa kita ketika banyaknya jenazah pasien PDP dan positif Covid-19 ditolak oleh warga untuk dimakamkan di daerahnya sendiri. Kejadian tersebut pernah terjadi di TPU Baki Nipa-Nipa, Manggala, Makassar dan Gowa, lalu di Desa Tumiyang, Banyumas, Jawa Tengah. Kasus serupa juga terjadi di Teluk Betung, Bandar Lampung. Kemudian di Kelurahan Bedahan, Kota Depok. Yang lebih menyayat hati lagi dan menghilangkan kemanusiaan adalah ditolaknya jenazah seorang perawat positif Covid-19 di Semarang, semasa hidupnya dia telah berjuang untuk kebaikan dan merawat orang-orang namun ketika wafat dia tidak mendapatkan balasan yang sama. Jenazah perawat yang malang itu setelah banyak mengalami penolakan akhirnya dimakamkan di Bergota, Kompleks Makam Keluarga Rumah Sakit Dr. Kariadi Kota Semarang. Frasa homo homini lupus ternyata bisa menyerang siapa saja tanpa peduli kebaikan apa saja yang telah dilakukannya, dimana manusia bukan lagi menjadi manusia, namun telah menjelma menjadi serigala.
Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan terhadap penularan dari jenazah yang terinfeksi virus Covid-19. Proses pemakaman telah melalui prosedur medis yang ketat agar virus pada jenazah tidak menular kepada orang-orang atau mencemari lingkungan disekitarnya. MUI juga telah mengeluarkan fatwa Nomor 18 Tahun 2020 dan Kementrian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam juga telah membuat edaran tentang tata cara penyelenggaraan jenazah penderita Covid-19 sesuai dengan syariat Islam. Virus adalah makhluk hidup yang hidupnya bergantung kepada inang. Jika inang tempat hidupnya mati, maka beberapa jam setelahnya virus juga akan mati dengan sendirinya. Tubuh jenazah juga dibungkus dengan plastik untuk mencegah penularan pasca kematian yang kemungkinan bisa menular kepada petugas medis atau keluarga jenazah sebelum dikuburkan. Jadi tidak alasan secara medis ataupun syariat Islam untuk menolak pemakaman jenazah yang terinveksi virus Covid-19.
Lain daripada itu, sebenarnya masyarakat juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena melakukan penolakan terhadap pemakaman jenazah yang terinfeksi virus Covid-19. Fenomena ini menjadi bukti bahwa masih kurangnya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terhadap pandemi Covid-19 yang sedang terjadi. Masyarakat begitu banyak mengonsumsi bom ketakutan yang mereka dapatkan dari media sosial dan media massa dan sangat minim sekali tentang edukasi, sehingga bencana kemanusiaan seperti ini akhirnya terjadi. Kegiatan edukasi dan sosialisasi tidak terbatas hanya menjadi tanggung jawab instansi pemerintah baik itu pusat atau daerah, namun menjadi tanggung jawab bersama. Institusi pendidikan seperti Universitas bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui kegiatan pengabdian, institusi keagamaan juga bisa memberikan pemahaman kepada jemaahnya masing-masing tentang bagaimana edukasi yang tepat sehingga bencana kemanusiaan seperti sekarang ini tidak terjadi lagi.
Manusia bisa menentang frasa ini homo homini lupus untuk membunuh serigala didalam diri menggunakan frasa yang dicetuskan oleh Seneca yaitu homo homini socius, yang berarti manusia adalah sesuatu yang sakral bagi manusia lainnya. Frasa ini maksudnya adalah manusia merupakan entitas yang bisa saling bekerja sama untuk mendukung satu sama lain. Melawan wabah yang sedang terjadi dengan saling membantu meringankan beban baik secara materil atau moril merupakan sebuah pilihan yang bijak untuk membunuh serigala di dalam diri manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, bukanlah pilihan yang baik untuk saling menerkam ketika keadaan yang tidak menguntungkan bisa jadi sama-sama terjadi kepada kedua belah pihak yang sama-sama menerkam tersebut.
Oleh: Robby Jannatan
Dosen Biologi FMIPA Universitas Andalas

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img