Membincang Pemuda dan Kewirausahaan

Oleh: Risko Mardianto

Pemuda wajib menyadari sejumlah permasalahan mendasar yang dihadapi oleh bangsa dan negara. Masalah-masalah itu antara lain kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang masih ada di sebagian masyarakat kita, dan simpul-simpul persatuan dan kesatuan yang goyah karena lunturnya rasa nasionalisme. Oleh karena itu, empat pilar dalam kehidupan berbangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI perlu diangkat kembali untuk diimplementasikan. Kedua, para pemuda hendaknya tidak hanya pandai mengkritisi keadaan, namun juga harus cerdas mencari alternatif yang tepat dan yang paling mungkin dilaksanakan. Dengan memahami masalah-masalah tersebut, para pemuda tidak akan mudah menyalahkan, apalagi menganggap enteng kemampuan bangsa sendiri. Ketiga,organisasi pemuda dan kemahasiswaan secara umum, harus mampu merespon permasalahan aktual kepemudaan, kemasyarakatan dan kebangsaan, sekaligus proaktif mencari dan menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi.

Pengamatan terhadap Kondisi Kepemudaan, Peran dan partisipasi pemuda dalam pembangunan, terutama yang berkaitan dengan kewirausahaan dan tenagakerjaan, relatif masih belum menggembirakan. Demikian pula kualitas pemuda dalam pendidikan. Data Susenas 2008 menunjukkan, sekitar 1,27% jumlah pemuda belum/tidak pernah sekolah; 17,34% masih/sedang bersekolah; dan 81,40% sudah tidak bersekolah lagi.

Penyalahgunaan obat-obatan psikotropika dan narkotika, premanisme, serta minimnya sarana dan prasarana kepemudaan dalam beraktifitas merupakan faktor yang turut memperbesar masalah kepemudaan. Dalam kategori Iptek, tantangan pemuda masa depan adalah meningkatkan penguasaannya sekaligus menekan ekses negatif dari kemajuan Iptek. Ekses negatif muncul dalam beragam bentuk, mulai dari penyalahgunaan dalam produksi atau konsumsi pornografi sampai kejahatan yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi, pembajakan kartu kredit, penyebarluasan informasi yang destruktif, peningkatan potensi terorisme, kekerasan, dan sebagainya.

Masalah berikutnya adalah tingginya tingkat pengangguran terbuka. Menurut data Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) 2008, tingkat pengangguran terbuka dari golongan pemuda lebih condong di perkotaan dibandingkan di perdesaan, yaitu 20,75% dibandingkan 15,3%. Penyebab ketimpangan angka pengangguran ini, karena lapangan kerja yang tersedia tidak sesuai dengan kondisi tenaga kerja yang ditawarkan, serta kompetensi dan kualifikasi pencari kerja dengan kebutuhan pasar kerja, tidak sesuai.
Persoalan wawasan kebangsaan, bela negara, cinta tanah air merupakan faktor yang tidak kalah penting. Munculnya orientasi yang berlebihan kepada kegiatan-kegiatan politik praktis seputar kekuasaan juga menjadi masalah bagi pemuda. Akibat orientasi ini, pemuda menjadi lemah dalam mempelopori kegiatan-kegiatan di bidang keswadayaan dan kesukarelawanan, penumbuhan modal sosial dan pekerja sosial, penumbuhan kreasi seni, budaya, ekonomi kreatif, serta olahraga.

Dari pengamatan sebagaimana di atas, cukup jelas bagi kita kondisi pemuda Indonesiasaat ini. Pertanyaannya adalah:apakah pemuda kita mampu bangkit untuk Indonseia yang lebih maju, mandiri dan bermartabat? Untuk menjawab itu semua, kita perlu merumuskan dan mencari terobosan, solusi kreatif, inovatif, mendorong peran pemuda bagi kemajuan dan kemandirian bangsa kedepan, untuk mewujudkan kemakmuran yang dicita-citakan.

Bangkitkan Kewirausahaan Pemuda

Seorang Ilmuwan Amerika bernama David McClelland, pernah menjelaskan bahwa suatu negara disebut makmur jika mempunyai jumlah wirausahawan minimal 2% dari jumlah penduduknya. Namun, saat ini jumlah pengusaha Indonesia hanya 0,24% dari jumlah penduduk. Jika jumlah penduduk Indonesia sekitar 240 juta, maka negeri ini membutuhkan setidaknya 4,2 juta pengusaha untuk mencapai minimal 2% jumlah usahawan.

Jumlah usahawan yang hanya 2% dari jumlah penduduk, artinya terdapat dua orang dari setiap 100 orang penduduk yang membuka lapangan pekerjaan. Ini berarti, 1 orang pengusaha menghidupi 49 orang lain yang bukan pengusaha. Angka ini akan melonjak menjadi 400-an orang yang harus ditanggung oleh seorang pengusaha jika saat ini baru terdapat 0,24% penduduk Indonesia yang menjadi wirausahawan. Jumlah ini tentu sangat tidak sebanding, dan menunjukkan bebanpenduduk yang harus ditanggung para pengusaha kita.

Pengusaha adalah pihak yang secara ekonomis menanggung elemen masyarakat lain yang bukan pengusaha. Untuk itulah, kita perlu membangkitkan jiwa kewirausahaan dan memulai sebuah bisnis (entrepreneur) yang mampu menanggung kehidupan diri dan kehidupan masyarakat. Entrepreneurship menjadi penting karena pengusaha pulalah yang menjadi ujung tombak perekonomian suatu negara. Merekalah yang memimpin dan menentukan jalan usahanya sesuai bidang industri masing-masing, yang sebetulnya ikut menentukan arah pergerakan ekonomi dan industri.

Melalui tulisan opini ini, saya menitipkan tiga hal yang harus kita mulai dari sekarang, yakni pertama, di dalam diri pemuda perlu ditanamkan rasa nasionalisme, kebhinekaan, dan persatuan di tengah-tengah masyarakat.

Kedua, mari kita maknai Kebangkitan Nasional tahun ini sebagai Kebangkitan Ekonomi Nasional dengan meningkatkan produktivitas, kemampuan kewirausahaan, dan daya saing produktivitas pemuda dalam aktivitas perekonomian. Untuk itu, perlu digarisbawahi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dengan Enam wilayah koridor ekonomi, yaitu Sumatera Timur, Pantai Utara Jawa, Kalimantan, Sulawesi Barat, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat, dan Papua. Ketiga, Pemuda dituntut makin kreatif, inovatif, produktif, dan memiliki kapasitas lebih agar, memiliki peluang yang besar untuk memainkan peran sebagai pelaku ekonomi potensial pada skala mikro, kecil, menengah, dan besar, baik di dalam maupun di luar negeri. Globalisasi pada era sekarang menuntut kapasitas, kualitas dan profesionalitas dalam segala bentuk, termasuk di dunia usaha.

Kita perlu mengingatkan kembali bahwa, UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, telah mengamanahkan bahwa pembangunan kepemudaan bertujuan untuk terwujudnya pemuda yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggungjawab, berdaya saing, serta memiliki jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, kepeloporan, dan kebangsaan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam kerangka NKRI. Oleh karena itu, entrepreneurship sangat penting, inovasi sangat penting sebagai penyangga sekaligus solusi dari pengurangan dan kemiskinan di negeri ini.