25.9 C
Padang
Rabu, Januari 26, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Manajemen Kesehatan Diri Di Masa Pandemi Covid-19
M

- Advertisement -

Ns. Mulyanti Roberto Muliantino, S.Kep., M.Kep
Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Pandemik merupakan penyebaran luas (mendunia) penyakit baru yang disebabkan agen biologis. Pandemik memiliki beberapa karakteristik yaitu merupakan penyakit baru (paling sering: zoonosis, penyakit akibat virus), penyebaran tingkat global dan sebagian besar mayarakat tidak memiliki kekebalan tubuh.

Covid-19 pertama kali ditemukan di Provinsi Hubei, China pada tanggal 31 Desember 2019, dengan temuan 27 kasus pneumonia dengan penyeba yang tidak diketahui. Pasien mengalami gejala klinis batuk kering, demam, sesak napas atau dispnea, infeksi kedua lapang paru pada gambaran foto ronxent.

WHO secara resmi mendeklarasikan bahwa Covid-19 sebagai penyakit yang dipicu oleh virus corona sebagai penyakit emergensi infeksius dan menjadi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) yang menjadi ancaman global dunia. Coronavirus merupakan virus RNA strain tunggal positif, memiliki kapsul, sering berbentuk bulat atau elips dengan diameter 80 x 60 nm. Coronavirus memiliki protein S (spike protein) di permukaan virus, spike protein ini berfungsi dalam penempelan dan masuknya virus ke dalam sel inang.

Infeksi Covid-19 menimbulkan gejala utama berupa demam (suhu > 38oC), batuk dan kesulitan bernapas, dapat ditemukan fatigue/ keletihan, nyeri otot atau mialgia dan diare. Gejala yang timbul mulai dari ringan, sedang dan berat. Dalam mengatasi penularan Covid-19 yang infeksius, masyarakat harus memiliki manajemen kesehatan diri dan menerapkan tindakan-tindakan pencegahan dengan baik dan benar. Menurut Warsito tahun 2018 manajemen diri atau self management merupakan kemampuan pasien dalam mengelola diri sendiri sehingga dapat memenuhi kebutuhan dirinya. Program manajemen diri menjadi upaya dan dukungan yang dilakukan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam mengelola kesehatan mereka secara mandiri mencakup pengkajian kesehatan diri, mengetahui masalah kesehatan diri, menentukan tujuan dan pemecahan masalah.

Manajemen diri dalam masa pandemik Covid-19 bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien terkait penyakit Covid-19, meningkatkan kemampuan koping pasien dan meningkatkan perilaku pencegahan penularan. Langkah-langkah manajemen diri yang harus dilakukan yaitu a) memakai masker, b) mencuci tangan, c) menjaga jarak, d) menghindari kerumunan, dan  e) meningkatkan imunitas tubuh.

Penggunaan masker dapat melindungi dan mengurangi resiko penularan dari percikan droplet orang ke orang lain, serta akan memperkecil area semburan virus ke lingkungan sekitar. Individu harus menggunakan masker setiap beraktivitas keluar rumah atau ketika berinteraksi dengan orang lain. Cara pemakaian masker yang benar berdasarkan Pedoman Kemenkes RI  yaitu 1) biasakan mencuci tangan terlebih dahulu sebelum menggunakan masker, dapat menggunakan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer, 2) pasang masker, pastikan hidung, mulut dan dagu tertutup seluruhnya oleh masker, 3) bagian masker yang berwana berada di luar/ depan dan bagian berwarna putih yang menempel ke wajah atau berada di bagian dalam, dan 4) tekan bagian atas masker yang ada kawatnya untuk menyesuaikan dengan bentuk hidung.

Tangan merupakan media utama yang dapat mengakibatkan penularan atau berpindahnya suatu penyakit. Tangan digunakan untuk memegang berbagai benda, yang kita tidak tahu kebersihannya. Contohnya saat berada di kendaraan umum, tangan kita memegang handle besi pegangan, yang mungkin sebelumnya sudah dipegang orang yang flu atau batuk. Tanpa disadari, tangan kita langsung digunakan untuk makan, padahal sudah terkontaminasi dengan virus atau bakteri dari handle besi tadi. Dan terjadilah penularan atau transmisi penyakit, jika imunitas tubuh dalam keadaan lemah maka akan terjadi infeksi penyakit. Sehingga sangat penting bagi kita untuk sering mencuci tangan untuk menjaga kebersihan tangan dan dapat terhindar dari berbagai penyakit. Mencuci tangan merupakan salah satu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam menjaga kesehatan dan kebersihan diri sendiri.

Waktu-waktu yang diutamakan untuk mencuci tangan antara lain sebelum makan, setelah buang air besar, sebelum menjamah makanan, sebelum menyusui atau menyiapkan susu bayi dan setelah beraktifitas. Sering mencuci tangan dan mencuci tangan harus dilakukan dengan benar. Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, selama 20 detik agar efektif membunuh virus maupun bakteri. Mencuci tangan juga dapat menggunakan hand sanitizer jika tidak ada air. Hal ini perlu dilakukan sesering mungkin, terutama saat memegang benda-benda dari luar, ketika memegang bagian wajah, bersin, batuk dan lain-lain.

Menjaga jarak aman yaitu minimal 1-2 meter dengan orang lain agar terhindar dari semburan droplet yang tidak disadari. Hal ini penting dilakukan  untuk mengurangi resiko saat berinteraksi dengan orang lain, terutama saat mereka batuk, bersin dan berbicara. Semakin jarak posisi dalam berinteraksi lebih baik karena semakin memperkecil resiko terpapar droplet.

Resiko terpapar Covid-19 lebih tinggi di tempai ramai, terutama tempat yang berventilasi tidak memadai. Disini orang-orang dapat menghabiskan waktu dan berinteraksi dalam jangka waktu lama dengan jarak dekat. Contohnya restoran, cafe, klub kebugaran dan lain-lain. Menghindari 3Cs: spaces the are closed, crowded or involve close contact. Hindari ruang tertutup, padat dan kontak jarak dekat, terutama ruangan yang ventilasi tidak memadai. Sering ditemukan kasus dan menjadi klaster besar pada tempat-tempat seperti ini, misalnya kantor dengan ventilasi yang tidak memadai dan tertutup, orang-orang sering berbicara dengan jarak dekat sehingga mempermudah penularan Covid-19.

Imunitas dapat ditingkatkan dengan asupan pola makan yang sehat. Dalam rekomendasi Kementerian Kesehatan RI, individu penting untuk membatasi konsumsi gula yang berlebihan, konsumsi gula yang berlebihan akan menghambat penyerapan vitamin C. Vitamin C berguna untuk meningkatkan daya imun atau kekebalan tubuh. Selain itu, hal penting yang juga perlu dilakukan dalam menerapkan pola makan yang sehat adalah membatasi konsumsi garam atau natrium. Langkah penting lainnya adalah menghindari penggunaan zat 4P yaitu perasa, pewarna, pengawet dan pemanis yang berasal dari bahan tambahan pangan buatan. Karena zat buatan ini berbahaya bagi kesehatan tubuh dan dapat memicu pembentukan sel kanker. Pola makan sehat juga dengan membatasi konsumsi lemak yang berlebihan. Asupan lemak yang tinggi akan mengakibatkan terjadinya resistensi insulin, yang akhirnya akan menyebabkan terjadi inflamasi atau peradangan kronik. Hal penting lainnya adalah dengan memperbanyak konsumsi buah dan sayur. Pada buah dan sayur banyak terdapat vitamin dan elektrolit yang diperlukan untuk meningkatkan imunitas tubuh. Langkah terakhir yaitu dengan membudayakan memakan masakan rumahan. Masakan rumah pada umumnya menggunakan berbagai rempah yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Tindakan lain dalam meningkatkan kekebalan tubuh adalah rutin melakukan aktivitas fisik. Pandemik Covid-19 membuat orang untuk tinggal di rumah, banyak duduk dan sulit untuk melakukan kegiatan olahraga yang biasa dilakukan. Padahal saat ini sangat penting untuk aktif melakukan aktivitas, meskipun hanya istirahat sejenak dari duduk, melakukan 3 atau 4 menit gerakan fisik intensitas ringan dapat menbantu melemaskan otot, meningkatkan sirkulasi darah dan aktifitas otot. Aktifitas fisik dianjurkan minimal selama 30 menit setiap hari atau setara dengan 10.000 langkah per hari. Pelaksanaan aktivitas fisik harus dilakukan secara teratur dan terukur. Aktivitas fisik dapat dilakukan mulai dari yang sederhana seperti jalan kaki, jogging dan lari di sekitar pekarangan rumah atau senam di halaman rumah. Individu sedapat mungkin menghindari gaya hidup sedentary (malas bergerak).

Dalam menjaga imunitas tubuh dan menghindari penyakit Covid-19, sangat penting untuk menghindari merokok. WHO mengemukakan dari 27 hasil studi observasional ditemukan 1,4 -18,5% pasien rawat inap Covid-19 adalah perokok. Perokok beresiko 14 kali lebih tinggi untuk terinfeksi Covid-19. Selain itu perokok juga memiliki resiko 2 kali lebih tinggi kebutuhan ventilator dan perawatan ruangan intensif atau ICU dibanding pasien non perokok. Studi meta analisis di China menemukan dari 2986 pasien Covid-19 sekitar 7,6% adalah perokok. Hasil penelitian Varvadas et al juga mengemukakan hubungan yang signifikan antara merokok dengan kejadian Covid-19, termasuk status perokok dengan kebutuhan ruangan intensif, pemakaian ventilator dan kematian.

Bagi individu yang memiliki penyakit penyerta (komorbiditas), perlu untuk melakukan pengendalian penyakit penyerta. Orang-orang dengan penyakit komorbitas atau penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, asma dan ginjal menjadi kelompok yang rentan terpapar virus Covid-19. Kelompok dengan komorbitas ini merupakan kelompok yang beresiko mengalami perburukan gejala jika terpapar virus corona.

 Jika merasa tidak sehat, langkah yang dapat dilakukan antara lain mengetahui berbagai gejala Covid-19. Gejala yang sering ditemukan dan paling umum berupa demam, batuk, dan kelelahan. Gejala lain yang dapat timbul yaitu kehilangan rasa dan bau, nyeri sendi dan otot, sakit kepala, hidung tersumbat, diare, sakit tenggorokan, dan ruam di kulit. Tetap di rumah dan isolasi diri, walaupun memiliki gejala ringan seperti batuk, sakit kepala, demam ringan dan hingga sembuh. Jika mengalami demam, batuk dan kesulitan bernapas atau gejala yang lebih parah segera hubungi bantuan medis.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img