26 C
Padang
Kamis, Februari 2, 2023
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Ikbal Tarigan ajarkan Pentingnya Relasi Sosial di Camping Refleksi Modul Nusantara
<

Kategori -
- Advertisement -

Penyebab banyaknya lulusan sarjana yang mengganggu telah disajikan dalam penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah mengulas tentang mengapa banyak sarjana yang mengganggu. Pada penelitian yang dimuat pada Jurnal Kependudukan Indonesia Vol. 10 No.1 Juni 2015 tersebut, terungkap sejumlah penyebab banyaknya lulusan sarjana yang menganggur, antara lain:

1. Lulusan sarjana tidak sesuai kebutuhan, hasil penelitian McKinsey, UNESCO, dan ILO (2008) menemukan adanya ketertarikan antara sistem pendidikan dengan dunia kerja di Indonesia. Kesenjangan tersebut yaitu lulusan yang menghasilkan perguruan tinggi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan pengguna kerja. Hal ini berkaitan dengan adanya fakta tantangan ketenagakerjaan di era global yaitu kekurangan kesempatan kerja produktif sebagai akibat ketidakstabilan dan fluktuasi yang terjadi pada ekonomi global. Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap tingginya tingkat ledakan di antaranya adalah: kesempatan kerja yang terbatas, kualifikasi pekerjaan yang tidak sesuai, minimnya kemandirian pencari kerja untuk berwirausaha.

2. Sarjana sulit mencari kerja karena berkembangnya teknologi, era globalisasi berdampak arus mobilitas tenaga kerja antar negara menjadi semakin tinggi. Hal ini menyebabkan persaingan menjadi semakin ketat, pekerja asing akan mudah masuk dan bekerja di Indonesia sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi yang dimilikinya.

3. Minimnya sarjana berkualitas.

Berbagai permasalahan dan permasalahan yang dijelaskan di atas merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh seluruh elemen yang ada di negara dan bangsa Indonesia, khususnya pemerintah dan Lembaga Pendidikan, sehingga generasi emas yang tangguh dan berkualitas dapat diwujudkan. Salah satu hal yang mendesak dan penting untuk dilakukan adalah menyembunyikan nilai-nilai perilaku (karakter) dalam pendidikan. Hal ini perlu dilakukan agar dapat terwujudnya SDM yang amanah, memiliki rasa hormat, bertanggung jawab, adil, peduli, dan memiliki rasa cinta tanah air, sehingga dapat tercapai tujuan untuk menghadapi tahun 2045, yaitu generasi emas yang unggul dan tangguh       

Melaui dasar masalah ini, kegiatan Refleksi pada tanggal 26 November 2022 mahasiswa program modul Nusantara diadakan dalam bentuk Motivasi Camping Bersama Kak Ikbal, seorang motivator yang sudah sering mengampu kegiatan outbond. Dalam kegiatan ini kita melakukan kegiatan asah otak, bermain dan melepas penat sementara. Suhu dingin yang menembus kulit hinga tulang tidak begitu dihiraukan dikarenakan Kak Ikbal berhasil membawa suasana hangat ditempat camping tersebut. Bukan hanya tentang keseruan saja yang dibagikan oleh Kak Iqbal tapi juga mengenai betapa pentingnya relasi dalam menjembatani masa depan kita.

Relasi yang kita miliki saat ini adalah teman yang ada disebelah kita, melakukan yang terbaik demi menjaga relasi bukan suatu kemunafikan, melainkan sebuah hal dasar dalam hubungan kemanusiaan. “kita tidak akan tau akan jadi siapakah teman yang disebelah kita ini, jadi presiden kah, pengusaha kah, pengacara kah, dan lain-lain dan siapa tahu kita akan membutuhkan bantuan mereka suatu saat nanti” Iqbal Tarigan dalam sela pembahasan terkait relasi.

Melalui pelatihan yang disajikan mas ikbal, salah satu dosen modul nusantra UNAND, Boby febri Krisdianto, bahwa pentingnya membangun hubungan sosial. Hubungan sosial terbangun dengan cara memahami siswa, mendengarkan, masuk ke dunia mereka, memposisikan diri sebagai mereka untuk mengetahui bagaimana sudut pandang mereka, dan lainnya. Terkadang kita perlu masuk dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda agar mampu lebih dalam memahami suatu hal. Membangun hubungan sosial ini merupakan fondasi penting keberhasilan proses belajar dan proses keterlibatan dalam kelas. Jika relasi sosial ini sudah terbangun, maka akan lebih mudah bagi dosen dalam mengajak mahasiswa untuk merasakan “bahagia” berkuliah, semangat mengejar mimpi, dan menjadi versi terbaik bagi diri mereka.

Sejatinya, secanggih apapun.Mahasiswa juga manusia. Sebagai sesama manusia, dosen perlu selalu membangun percakapan yang bermakna. Percakapan bermakna bisa diawali dengan pertanyaan sederhana seperti: apa kabar kamu hari ini, bagaimana kondisi keluarga, bagaimana kondisi kekinian yang sedang faktual dan sebagainya. Percakapan seperti ini adalah langkah awal membangun hubungan sosial yang memanusiakan hubungan. Mahasiswa akan merasa diperhatikan dan dipahami sehingga hubungan ini akan sangat berdampak pada proses pembelajara

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img