Sijunjung,BeritaSumbar.com,-Beruntung saat ini, pemerintah melalui Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan penggunaan karet alam sebanyak 2.542 ton sebagai bahan campuran aspal dalam penanganan jalan nasional tahun 2019.

Dengan demikian, pemerintah akan menyerap hasil getah karet alam di seluruh daerah sentra produksi karena penggunaan karet tersebut juga sebagai upaya untuk menyerap hasil karet nasional di tengan penurunan harga karet dunia.

Ihwal itu sangat berdampak kepada petani karet yang ada dikabupaten Sijunjung. Sebab harga getah karet petani di Kabupaten Sijunjung, saat ini terus mengalami kenaikan dari sebelumya Rp.7.500/ kg menjadi Rp 9000/ kg seiring tingginya permintaan komoditas tersebut ditingkat agen penampung lokal.

“Hari Rp 9000 per kilogram, sudah harga jemput ke tempat. Kalau tiga minggu lalu masih di kisaran Rp7.500 per kilogram karena saat ini kebutuhan agen semakin banyak,” kata Joni penakik muda yang ada di Kabupaten Sijunjung pada hari Minggu (26/5) saat menimbang hasil takikannya.

Dalam beberapa pekan terakhir, kondisi harga tampung getah karet (50 persen bersih) hasil penakik terus menujukkan kenaikan harga secara berangsur, padahal harga komoditas itu pernah jatuh hingga kelevel terendah yakni Rp4.000/ kg pada pertengahan 2018.

Dikutip melalui Sahabat Rakyat,Ebid Diana Putra selaku pemerhati perekonomian petani dengan wadah Lansek Manih Foundation menjelaskan, harga getah karet yang ada dikabupaten Sijunjung memang tidak merata alias bervariasi, sebab dibeberapa tempat penjualan atau penampungan getah karet berbeda beda. Namun perbedaan itu, tidak terlalu jauh, hanya kisaran Rp. 400 sampai Rp. 600 dari angka jual paling tertinggi Rp.9000.

“Memang harga getah karet sekarang menaik dengan mencapai harga tertinggi Rp. 9000. Harga penjualan petani dibeli oleh pembeli memang bervariasi namun tidak terlalu jauh perbedaannya, mungkin ada penilaian tertentu terhadap hasil getah para petani yang membuat bervariasi tersebut” paparnya.

Sosok muda yang acap disapa Ebid berpendapat, bahwa getah karet petani kualitasnya lumayan baik dibandingkan beberapa minggu lalu, sebab dalam dua pekan terakhir intensitas curah hujan tergolong sedikit, hanya terjadi saat malam hari sehingga getah karet tidak banyak bercampur air.

“Kalau getah karet banyak campuran air, maka bisa lebih murah karena beratnya pasti beda. Tetapi bila bersih (50 persen),” kata dengan mengasumsi.

Sementara itu Ebid Diana Putra memaparkan, sejogjanya di Kabupaten Sijunjung hingga kini tercatat hampir semua petani menghasilkan perekonomian dari tetesan air getah dibatang karet. Hingga rasa syukur jelang lebaran tersirat dari wajah para petani dengan adanya kenaikan yang sangat membantu kebutuhan perekonomian petani sebelum lebaran.

“Yah, Alhamdulillah sebelum lebaran ini banyak kebutuhan yang haus dilengkapi dalam menyambut hari kemenagan Idul Fitri. Hampir semua petani berharap harga getah karet tetap stabil hingga lebaran. Paling tidak petani pun merasakan mendapat THR walau dari batang getah. Alias bisa barayo juo” pungkasnya dengan semangat.

Sumber: FRA Sahabat Rakyat
Pewarta :Rezki Aryendi

loading...