29 C
Padang
Minggu, Juli 25, 2021
Beritasumbar.com

CURHAT NYI BLORO; RATU LAUT KIJING
C

Kategori -

“Berani karena benar, takut karena salah,
Rajin pangkal pandai (pintar), bisa karena biasa,
Hemat pangkal kaya, boros pangkal miskin,
Maka pelajarilah sebab musababnya itu,
& berharaplah takdir bisa lebih baik
Agar menjadi sebuah karunia”

Suatu pagi menjelang siang, Tan Gindo punya agenda mengundang panitia pelatihan vokasi menjahit yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat ketika dalam survey dan disepakati oleh lima forum desa terdampak di cafe Asbuy langggannya. Sebagai pendamping, RBK dan PMLI Pelindo sebagai sponsor kegiatan hanya mencoba sebagai fasilitasi kegiatan. Sebelumnya, tercatat dalam laporan sudah berlangsung beberapa kegiatan seperti pelatihan IT dan Media, Pelatihan Boga, Sablon dan Pertanian; namun mendapat tanggapan negative dari beberapa masyarakat dampingan, tokoh penting di forum desa dan aparatur lainnya.

Cukup panas informasi ini di kepala Tan Gindo ketika ada masalah kegiatan tersebut tidak sesuai harapan, bahkan sebagian masyarakat dampingan ada yang berniat membatalkan kegiatan yang sudah disusun bersama. “Lucu, kegiatan ini sudah disurvey menjadi kebutuhan dan disepakati bersama, kok jadi masalah, ada apa ini?” ungkap Tan Gindo bertanya-tanya. Persoalan ini kemudian sempat jadi pembahasan alot dalam rapat manajemen di RBK sehingga acara nya dibilang kegiatan “ecek-ecek” dan menganggap acara ini tampa Pelindo-pun bisa diadakan oleh pihak desa dan oleh masyarakat lain.

“Benarkah demikian adanya, apa persamaanya dan apa perbedaannya, sehingga bisa disbanding-bandingkan dengan begitu mudah?” ujar Tan Gindo melontarkan pertanyaan dalam sebuah diskusi kritis. Kemudian menjadi pembahasan internal tim pendamping dan pihak manajemen RBK. “Jangan-jangan ada sesatu yang tidak pas pada tempatnya atau karena sebuah kebiasaan yang sudah terjadi, ketika ada pelatihan yang sama juga tidak begitu terasa manfaatnya bagi masyarakat dampingan” ungkap Tan Gindo lebih lanjut.

Baca juga kisah “Menantang Matahari” bag. 8; Bangkitkan Kesadaran !

Hasil diskusi kemudian menyimpulkan bahwa untuk kegiatan berikutnya harus pertimbangkan kembali banyak hal, termasuk urusan remeh temeh yang tidak boleh di anggap enteng. Seperti kata orang bijak “betapa banyak orang dijalanan mudah jatuh oleh kerikil yang halus, ketimbang batu besar yang terang dimatanya” ungkap Tan Gindo merenung. Maka dari itu dalam pelaksanaan pelatihan vokasi menjahit yang akan segera dilaksanakan termasuk pelatihan-pelatihan berikutnya berharap ada sedikit perbaikan, kebetulan Tan Gindo dapat jatah sebagai koordinator kegiatan kala itu “harus bisa lebih antusias, nih…” ujarnya penuh harap.

Rapat evaluasi kali ini dilakukan untuk mempertimbangkan dan mensepakati kegiatan tetap bisa berlangsung atau harus diundur kembali. Yang jelas semua orang atau berbagai pihak terkait sangat berharap tetap bisa berlanjut karena sebelum ini lebih kurang dua bulan sudah tertunda-tunda pelaksanaanya, “sungguh sebuah kesabaran yang tidak sedikit” ujar para pendamping sesekali menggerutu.

Begitu juga masyarakat dampingan dan pihak manajemen RBK sendiri. Padahal kegiatan tersebut sudah sangat biasa dilakukan di tengah-tengah masyarakat apalagi bagi PMLI yang dikenal sebagai sebuah pusat pelatihan penyiapan Sumber Daya Manusia untuk pelabuhan. Semua orang apalagi pejabat penting mungkin sudah mengetahui sekali sepak terjangnya PMLI, “masak pelatihan yang beginian saja bisa repot urusannya, aneh” ujar Tan Gindo sedikit kesal.

Sejuruh demi sejuruh evaluasi persiapan kegiatan kemudian berlangsung, dengan semangat bersama bak pasukan perang siap bertempur Tan Gindo membicarakan segala kemungkinan.”Man-teman mari kita lihat bagaimana skenario dan strategi kegiatan kedepan, apa yang menjadi kendala, apa yang dibutuhkan agar kegiatan tetap berlangsung dan tidak terundur-undur lagi pelaksanaanya” ujar Tan Gindo membuka rapat kali itu.

Fokus pembahasan tetap pada tugas dan tanggung jawab diberikan, “mari kita lakukan pada batas tanggung jawab yang dimiliki, urusan yang kecil-kecil dalam pelatihan kali ini mari kita selesaikan, urusan yang besar-besar itu kita serahkan pada RBK dan PMLI sebagai atasan kita” ujar Tan Gindo tegas. “Sebagai pelaksana teknis dan ujung tombak di masyarakat tentu kita harus siap dengan segala resiko, kalau gagal pasti kita yang menanggung akibatnya, kalau berhasil jangan berharap dapat nama” ujar Tan Gindo memberikan tantangan pada tim pelaksana.

Berdasarkan berbagai pengalaman yang dilalui, Tan Gindo berupaya menggiring tim pelaksana bagaimana memanfaatkan potensi dan kekuatan yang ada agar tetap menjadi lebih baik. Tan Gindo yang juga ternyata suka menonton film Kungfu Cina ternama itu, mencoba membuat ilustrasi ”Ibarat jurus Tai Chi Master, mari kita serap energy alam yang disekitar kita sebaik mungkin ketika sudah menjadi kekuatan besar kita akan lempar kepada lawan (masalah) yang ada didepan mata kita dengan cantik, agar semua terpental, doaaaar…ha.ha.ha” ujar Tan Gindo tertawa sambil serius.

Demikian rapat evaluasi finalisasi tersebut selesai tak begitu lama, meski dipertangahan diskusi sebagian tim harus segera berangkat ke Pontianak untuk segera menyelesaikan kebutuhan peralatan kegiatan yang sudah mendesak. Namun rapat tetap berlangsung baik dan lancar, “Alhamdulillah, tim ini luar biasa sekali, jika masih dalam semangat yang sama; insya Allah acara bisa dilakukan dengan sukses” ujar Tan Gindo membatin. Begitu lah harapan ditumpangkan, semoga menjadi pengalaman terbaru kembali untuk menjawab berbagai persoalan yang dianggap remeh temeh oleh berbagai orang dan tokoh.

Selepas menutup rapat Tan Gindo bersama beberapa orang tim santai sejenak menghabiskan konsumsi rapat yang masih tesisa sambil berbincang santai dan bergembira. Seorang ibu panita lokal bernama Leni jadi topik gurauan Tan Gindo, diperkirakan masih berumur 35-an, cukup cantik, karena berjiblab jadi tidak bisa melihat warna kulit yang sebenarnya, hanya terlihat seperti sedikit kuning langsat, mungkin karena pengalaman dan bergaulan ibu Leni cukup mudah akrab dalam pertemuan tersebut. Namun ketika dilihat nama di WhatsApp-nya terlihat ber-inisial “Nyai”, sambil pura-pura bertanya “Nama ibu sebenarnya siapa sih, kok berinisal Nyai?” ujar Tan Gindo memancing pertanyaan. Ibu tersebut menjawab “orang-orang memanggil saya nyai karena dapat suami orang Subang Jawa Barat, padahal saya orang asli Kijing-Mempawah” ujarnya lugas.

“Lha sejauh itu dapat suami, dapat dari mana, apa dulu pernah nyasar atau gimana?” ujar Tan Gindo cengengesan, bergurau “Bukan pak, dulu saya pernah merantau yang sama dengan suami ketika di Malaysia, kami kerja dalam satu pabrik, kebetulan si Akang dulu sering berjumpa dan bertemu dengan saya dalam bertugas, jadi tik tok begitulah” ujar si Nyai tersenyum mengingat nostalgianya. Tan Gindo kemudian melanjutkan pertanyaan lebih mendalam dan mengupas pengalaman nostalgianya si Nyai tersebut. “Lho, udah bisa sukses dan ketemua jodoh di rantau kok malah pulang, kenapa?” ujar Tan Gindo. “Ya, begitulah pak e, tidak mudah hidup dirantau dan tak semudah di inginkan, jadi kita putuskan berkembang dikampung sajalah, sayang karena tak ada modal juga akhirnya sulit berkembang” ujar Nyai setengah curhat.

Tan Gindo akhirnya ketawa-ketiwi mendengar curhatan si-Nyai, sambil celoteh “Nah ini menarik lagi untuk kita bahas, dapat kita kasih judul kisah Nyai si Ratu Kijing” ungkap Tan Gindo kelakar. Tiba-tiba ada teman di sebelah Tan Gindo kebetulan beliau admin pendamping Sungai Kunyit Dalam, namanya Adit; ganteng, berambut sedikit ikal, bertubuh jangkung dan berwajah serius tapi suka juga bercanda, kemudian menyalib pembicaraan “tanggung pak, bikin saja kisah si Nyai Blorong Ratu Laut Kijing” ujarnya terpingkal-pingkal. “Okeh, sepakat kita buat kisahnya dengan “Nyi Bloro; Ratu Laut Kijing”, karena cinta dan harapannya tertumpang di Memapawah khususnya daerah Kijing kita nisabahkan saja” ungkap Tan Gindo bertambah semangat dan kembali bersama ketawa-ketiwi.

Seperti kebiasaanya Tan Gindo bercanda dalam hal ini bukan sekedar bercanda saja, tapi ada maksud dan tujuan untuk membongkar masalahnya karena curhatan si Nyai hanya satu dari fakta keluhan masyarakat yang telah ditemui di sepanjang desa. Sejuruh kemudian Tan Gindo melanjutkan pertanyaan menusuk “modal apa yang Nyai butuhkan, bukannya sudah banyak pengalaman di rantau dan sudah bisa membuat usaha kecil-kecilan seperti menjahit itu” ujar Tan Gindo mendesak. “Modal uang lah pak, tampa uang mana mungkin kita bisa bergerak saat ini, kalau adapun tidak cukup” ungkap si Nyai menjawab serius. Kemudian Tan Gindo kembali bertanya mendesak “apakah uang adalah masalah utama, ada masalah lain yang kira-kira harus dibenahi dulu?’ ujar Tan Gindo tersenyum.

Si Nyai akhirnya menjawab agak separuh ragu, “ya ngak jugalah pak, masih ada yang mesti saya pelajari, mungkin saja belum punya ilmu dalam membuat pola desain pakaian, sehingga belum sanggup dan berani membuat baju sendiri, yang bisa hari ini hanya tukang tambal baju saja dengan upah secukupnya dan tergantung pesanan” ujar si-Nyai. “Nah kan jelas, bukan hanya persoalan uang ternyata, pengakuan ini yang penting” ujar Tan Gindo kembali tersenyum. Kemudian Tan Gindo mengulas beberapa contoh kejadian dan tuntutan masyarakat dampingan yang serupa dengan pertanyaan si Nyai. “Tapi ini tidak sama dengan kasus Nyai ya.., agak bedalah, Nyai Leni; wanita hebat” ujar Tan Gindo mengelak. Karena Nyi Leni sudah ada muatan kesadarannya dan ingin belajar lebih jauh sehingga sudah sering aktif dalam kegiatan forum desanya.

……….

“Rata-rata masyarakat umumnya memang berkeluh tentang masalah yang sama bahkan ada yang ngotot dalam menghadapi masalah hari ini dan malah dikait-kaitkan langsung dengan kehadiran Pelindo II, padahal jauh hari sebelum kehadiran Pelindo II sebenarnya masyarakat sudah mengalami hal yang serupa, masih sulit untuk berkembang dan tak kunjung dapat maju dengan baik, bahkan berbagai kesempatan dan bantuan modal serta berbagai pelatihan sudah banyak dilakukan; namun tak juga berobah nasibnya” ungkap Tan Gindo tegas. “Anehnya tiba-tiba Pelindo II menjadi tumbal atau si-kambing hitam atas segala persaoalan hari ini, jadi kita terkesan tidak adil juga menghakimi kehadiran perusahaan ini, justru harusnya kehadiran perusahaan harus bisa kita jadikan peluang” Ungkap Tan Gindo kembali menimpal pembicaraanya.

“Bin salabin ala kadabra” begitulah sebuah kejadian, peristiwa dan masalah sangat mudah dilempar dan digelindingkan di depan publik dan menjadi pembicaraan panas ditengah-tengan masayarakat tampa bisa menyelami masalahnya lebih jauh. ”Apakah kita yang tidak siap menghadapi kenyataan, apakah pemerintahan yang sudah semena-mena, atau perusahaan yang dengan kuasa modal bisa jual beli kebijakan untuk kepentingan usahanya?” ujar Tan Gindo melempar pertanyaan. Beberapa pertanyaan diatas jelas menjadi sebuah tantangan bahkan ancaman baru jika kita uraikan sebab akibatnya. Bak “menantang matahari”, siapa tidak siap akan hangus terbakar, siapa bisa memanfaatkannya akan dapat keberkahan.

Kemudian Tan Gindo bertambah ber api-api menjelaskan temuan dan keanehan dilapangan, dimana setiap bantuan yang diberikan banyak terbentur dan kegagalan. Bahkan sebagian masyarakat menolak akan bantuan yang bersifat kelompok. “Saya pesimis dengan kegiatan dan bantuan kelompok karena belum ada yang berhasil dan yakin masyarakat tidak mau” ujar Tan Gindo mengutip pembicaraan seorang tokoh yang sedikit terlihat ngotot. Waktu itu Tan Gindo sempat sedikit emosional juga mendengar ucapanitu dan berbalik bertanya “maaf bapak, coba sebutkan satu contoh bantuan yang bersifat pribadi juga berhasil” ujar Tan Gindo penasaran. Pertanyaan tersebut juga tak mampu dijawab oleh tokoh tersebut, karena faktanya juga begitu fatal lagi yang ditemukan.

Persoalan aneka bantuan dan support pihak luar, desa dan manapun sepertinya semakin diperparah oleh system yang juga telah berkembang. Terutama dari pihak pemerintah sendiri, betapa banyak bantuan modal dan dampingan yang telah diberikan selama ini tak kunjung ada kepuasan dan mengalami kebuntuan. Program sudah berjalan, proyek sudah menghabiskan dana ratusan bahkan miliaran tapi sedikitpun tidak dirasakan manfaatnya, malah masalah baru yang kemudian muncul. Banyak masalah akhirnya juga diredam dan tidak ada penyelesaian sama sekali, kemudian yang gampang tertuduh lagi-lagi adalah pada kesiapan masyarakat. “Tak jarang akhirnya pemerintah setempat terutama kepala desa yang lama terkesan hanya bisa mengotori piring dan melemparkan kepada kepala desa pengganti yang baru untuk cuci piring” ujar Tan Gindo kesal dalam sebuah pertemuan.

Menurut pandangan Tan Gindo, apapun yang direncanakan, sekecil apapun dan bagaimana-pun sebuah kegiatan harus dapat berarti dan bermakna dapat dilakukan. Terkait kehadiran pembangunan Pelindo II banyak masyarakat dampingan yang menuntut lebih jauh dari proses pendampingan ini; yang dilihat hanya sekedar materi belaka bahkan seolah-olah dengan uang, bantuan modal yang cukup atau ganti rugi saja semua persoalan selesai. Padahal ketika ada modal uang berapapun jumlahnya jika tidak terkelola secara baik dan benar semua banyak yang hancur dan berkhir sia-sia belaka.

Pernah terucap oleh Tan Gindo kepada beberapa orang, masyarakat dampingan bahkan tokoh pending desa “maaf, dalam program pendampingan saat ini uang tidaklah sangat berarti bahkan kecil bagi pihak perusahaan, berapapun nanti yang kita butuhkan cepat atau lambat pasti akan bisa terpenuhi dan terfikirkan, persoalannya adalah seberapa mampu kita pertanggung jawabkan kegiatan ini dengan baik secara prosedur dan tata kelolanya; bayangkan saja uang yang baru kita kelola dalam hitungan jutaan saja sudah menjadi biang keributan dan merusak mental masyarakat; apalagi sudah terhitung ratusan dan miliaran juta; apa yang akan terjadi” ujar Tan Gindo berikan logika sederhananya.

“Sebagai orang yang sedikit berpengalaman, saya berani mengatakan ketika kita semua belum bisa dipercaya orang, pemodal atau siapapun secara publik; jangan harap mereka mau membantu kita untuk dapat berkembang” ujar Tan Gindo kembali tegaskan. “Maka dari itu dengan peluang kegiatan hari ini sekecil apapun modalnya kita harus mampu buktikan bahwa kita mampu kelola kegiatan ini dengan baik dan benar bahkan jauh lebih bermanfaat, ketika berhasil berarti untuk urusan berikutnya kita dapat dipercaya lagi bahkan siap untuk mengurus dana sebesar apapun, mari kita bantah bahwa masyarakat bukan makhluk bodoh yang tidak mampu kelola uang bantuan dan modal besar manapun, kelak suatu hari” ujar Tan Gindo berucap lebih semangat.

Sikap positif ini lah yang dikembangkan oleh Tan Gindo selama dilapangan, karena menurut hematnya persoalan masyarakat kita bukan pada persoalan kebutuhan modal uang atau materi belaka tapi lebih pada keterampilan dan sikap bagai mana memperbaiki tata kelola. “Coba kita perhatikan bukan hanya di desa-desa kita, hampir semua desa di Indonesia yang pernah kami jalani saat ini tata kelolanya hancur, padahal setiap tahun dana yang dikucurkan tidak lah sedikit, rata-rata hampir 2 Milyar tiap tahunnya tapi sudah berapa desa-desa yang berhasil dalam menata diri dalam pembangunan” ujar Tan Gindo membuka pengetahuan pada berbagai momen kesempatan diskusi.

Dalam sebuah diskusi pengurus forum desa Tan Gindo juga pernah membandingkan persoalan materi, uang dan hutang dalam berbagai kegiatan atau usaha masyarakat dengan system pemberdayaan Masjid Munzalan-Pontianak ketika beberapa hari lalu pernah mendampingi pengurus masjid (DKM) se-Sungai Kunyit. “Betapa sebenarnya untuk sebuah modal pembangunan sebenarnya kitapun, bangsa ini sebenarnya tak perlu berhutang ke negera manapun, seperti ummat Islam misalnya punya potensi Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf, begitu juga ummat agama lainnya juga punya system ekonomi keummatan tersendiri” ujar Tan Gindo membuka wawasan.

“Bayangkan, melalui kekuatan ummat atau masyarakat sebuah Masjid Muzalan dapat menggerakkan ekonomi hingga 9 milyar tiap bulannya dengan berbagai cabang kegiatan ekonomi, bahkan sekarang sedang membangun gedung berlantai 6, murni tampa hutang dan pinajaman bank atau pengusaha manapun” ujar Tan Gindo menginformasikan keberhasilan pemberdayaan Masjid tersebut. Lantas bagaimana kondisi kebanyakan masyarakat kita hari ini, yang setiap saat mengeluhkan “sedikit-sedikit mengeluh tak ada modal uang untuk bergerak, bahkan sedikit sedikit doyan berhutang, sedikit-sedikit hanya menuntut ini dan itu untuk dapat berbuat dan berkembang” ujar Tan Gindo membuat sindiran.

“Maka dari itu mari kita belajar kembali melihat potensi diri dan belajar pada mereka yang sudah berhasil untuk mandiri dan maju dengan kaki sendiri” ujar Tan Gindo. Sepertinya ditengah-tengah masyarakat sudah menyebar penyakit sebuah ketergantungan bahkan tidak mengenali lagi potensi yang adalam dirinya sendiri, cendrung hanya banyak menuntut sejenih bantuan-bantuan apalagi yang bersifat modal tunai tampa ada pendampingan yang terukur.

Parahnya hampir setiap kegiatan desa atau dimanapun banyak kejadian kalau tidak ada “amplop” semua tidak akan dapat berjalan bahkan sebagian besar mau terlibat mengikuti kegiatan apapaun hanya memang karena sebuah amplop tersebut ketimbang kesempatan ilmu yang telah diraihnya. Apalagi selama issue Covid-19 bantuan-bantuan tunai seperti itu hampir 80% sudah menghabiskan anggaran-anggaran desa dimanapun di Indonesia,” pestalah dengan uang-uang pembagian” ujar Tan Gindo kembali terkesan sinis.

………………

Begitulah masyarakat Indonesia akhirnya menjadi masyarakat yang “naif’ dalam kehidupan sehari-hari. “Akan seperti apa masyarakat generasi Indonesia dimassa akan datang” ujar Tan Gindo menggerutu. Parahnya Negara Indonesia juga terkesan doyan berhutang, terkasan boros dalam anggaran bahkan tak sedikit berita kebocoran tingkat tinggi terjadi dari pusat pemerintahan “masyarakat sibuk mengurus uang amplop dan recehan sementara para pejabat dan penguasa yang lain sibuk merampok uang rakyat dengan uang trilliunan dan jarang serius diproses serta tak kapok-kapoknya” ungkap Tan Gindo tambah sinis lagi dalam sebuah diskusi kritis.

Demikian akhirnya curhat “Nyi Bloro” berujung pada terbongkarnya borok bangsa kita-Indonesia. “Hari ini kita mesti bersedih, namun tak ada jalan lain bagi kita berpangku tangan terutama pada generasi muda, kita harus bangkit setapak demi setapak untuk negeri ini, agar semua bisa diperbaiki, minimal untuk diri kita sendiri dan dimulai dari lingkungan terkecil, maka mari belajar dari mereka yang sudah berpengalaman, dari segala kegagalan dan nilai-nilai luhur massa lalu bangsa ini; sampai tuntas setuntas-tuntasnya dan jangan sekedarnya saja jika ingin merobah sesuatu” ujar Tan Gindo menutup sebuah pembicaraan penuh makna, teringat pituah ranah Minang;

“Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi. Kalau tali kaia panjang sajangka, lauik dalam usah didugo, Pandai karano batanyo, tahu karano baguru. Sadang baguru kapalang aja, lai bak bungo kambang tak jadi. Kunun kok dapek dek mandangga, indak dalam dihalusi”.

Pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi. Kalau pengetahuan baru sedikit jangan dicoba mengurus pekerjaan yang sulit namun kerjakan apa yang bisa dilakukan. Pengetahuan dan pengalaman diperoleh karena belajar dan banyak bertanya kepada orang yang tahu. Setiap menuntut pengetahuan jangan putus ditengah atau harus mendalam, dan kurang mamfaatnya jika hanya dengan mendengarkan saja, lebih baik belajar untuk melakukan sesuatu secara sungguh-sungguh.

Bersambung ke bag. 10

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Kunjungan Wagub Sumbar Ke Sijunjung, Ini Rangkaian Kegiatannya

Sijunjung, beritasumbar.com - Wakil Gubernur Sumatera Barat Audy Joinaldy mengunjungi Kabupaten Sijunjung pada Kamis, 22/7 dengan sejumlah rangkaian kegiatan bersama pemkab setempat. Selama berada berada...
- Advertisement -

Sebungkus ES Cindua “Merubah Tangis Menjadi Senyum” Pada Program Jumat Barokah.

Sijunjung, BeritaSumbar.com,--Apapun bisa dilakukan seseorang, yang penting ada kemauan dan usaha yang maksimal. Seperti yang dikerjakan oleh seorang Bapak yang bernama Fadhlur Rahman Ahsas, yang hari ini menjadi penggerak UMKM dengan melakukan berdagang ES Cindua Sagu Abak dengan berkeliling memakai motor buntutnya.

Khutbah Arafah Di Masjid Namirah

Khutbah Arafah dari Masjid Namirah tanggal 9 Dzulhijjah 1442 Hijriyyah/19 Juli 2021 Masehi disampaikan oleh Fadhilatu Syaikh Dr. Bandar bin Abdul Aziz Balilah Hafizhahullah (semoga Allah menjaganya).
- Advertisement -

Seluruh Jajaran ASN Kankemenag Kota Padang Panjang Ikuti Takbiran Virtual

Padang Panjang, BeritaSumbar.com,_Kakankemenag Kota Padang Panjang H. Gusman Piliang, beserta seluruh jajaran ASN Kankemenag Kota Padang Panjang mengikuti Semarak Malam Takbiran Idhul Adha Virtual bersama Presiden Republik Indonesia, Senin (19/07/2021) Pukul 19.30 Wib secara Virtual via Zoom Meeting, Channel You Tube, Tv Nasional, dan Medsos Kementerian Agama Republik Indonesia

Padang Panjang PPKM Level 4, Kakankemenag Ikuti Rapat Bersama Walikota

Padang Panjang, BeritaSumbar.com,_Kakankemenag Kota Padang Panjang diwakili Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Wahyu Salim mengikuti Rapat Persiapan Pelaksanaan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 23 Tahun 2021 Tentang Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Mikro dan Mengoptimalkan Posko Penanganan Corona Virus Disease 2019 di Tingkat Desa dan Kelurahan Untuk Pengendalian Penyebaran Covid-19 serta Evaluasi Pelaksanaan PPKM Darurat di Kota Padang Panjang, Rabu (21/07/2021)
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Mengenal Politik Praktis & Pragmatisme

Dalam praktik perebutan maupun mempertahankan sebuah kekuasaan Politik Praktis dan Pragmatisme seolah menjadi dua hal yang sulit dipisahkan, khususnya di negara Demokrasi seperti Indonesia.

Filosofi Lidi

Dari filosofi pohon kelapa yang sangat banyak manfaatnya, bahkan hampir seluruh bagian tanaman kelapa tersebut memberi manfaat untuk kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna tentu seharusnya juga memberi manfaat dan berperan menjaga bumi dan lingkungan setelah mengambil manfaat untuk kehidupan. Sesuai juga dengan perintah Tuhan dalam ajaran agama bahwa tujuan Tuhan menurun-kan manusia ke muka bumi ini adalah untuk beribadah dan berbuat yang bermanfaat.

Raih Keridhaan Allah melalui Etos Kerja

Dalam Manajemen Pendidikan Islam, etos kerja (semangat/motivasi kerja) dilandasi oleh semangat beribadah kepada Allah Swt. Maksudnya, bekerja tidak sekedar memenuhi kebutuhan duniawi melainkan juga sebagai pengabdian kepada Allah Swt,

Rugi Rasa Untung

Apakah beberapa fenomena terbalik yang terjadi ditengah masyarakat bangsa ini atau mungkin juga ditengah masyarakat dunia adalah pertanda bahwa kiamat sudah dekat ? Wallahu a’lam bishawab hanya Allah pencipta langit dan bumi yang tahu persis.

Mengatur Konflik dengan Teknik Mind Mapping

Konflik. Ketika kita mendengar kata itu, kebanyakan orang akan membayangkan seperti perang, rusuh, gontok-gontokan, atau orang yang berkelahi antarkampung. Tidak, sebenarnya konflik bisa dimulai dari sesuatu yang kecil. Kalau menurut psikologi, konflik itu bisa dimulai dari ketika kita merasa ada perbedaan, entah perbedaan pendapat atau perasaan tentang sesuatu hal.

DPW PTPI Sumbar Buka Bimbel & Bimtes CPNS 2021 Online

Dewan Pimpinan Wilayah Perkumpulan Trainer Profesional Indonesia Wilayah Sumatera Barat (DPW PTPI Sumbar) resmi membuka kegiatan Bimbingan Belajar (BIMBEL) dan Bimbingan Test CPNS 2021...

BUMN Berburu di Kebun Binatang

Sangat menarik menyimak perjalanan PT POS Indonesia sebuah perusahaan BUMN yang pionir dalam bidang jasa pengiriman barang dan serta pengiriman uang dalam bentuk wesel.

Kita Pancasila

Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki komitmen dan memahami buah pemikiran dan cara pandang hidup yang disarikan para pendiri bangsa. Mereka telah membuat rumusan atau intisari yang digali dari jiwa bangsa ini, dari ruh bangsa ini, dari sikap hidup bangsa ini, yang berbhineka dan penuh nilai-nilai luhur.

Menanamkan Pendidikan Karakter Kepada Anak Sejak Dini

Pendidikan karakter memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan dan sangat menarik untuk diteliti, terutama karena pendidikan karakter berorientasi pada pembentukan karakter siswa.

Pentingnya Penggunaan Dan Pemanfaatan Teknologi Ditengah Pandemi

Pandemi covid 19 merupakan tantangan bagi kita sampai saat ini bagaimana kita menyikapinya dalam melaksanakan berbagai kegiatan. Mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, politik, sosial dan lainnya. Seluruhnya merasakan dampaknya.
- Advertisement -