31 C
Padang
Minggu, Mei 19, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Bersiteru Masalah Gelar Adat, Niniak Mamak Dari Nagari Sialang Datangi Polres 50 Kota
B

Kategori -
- Advertisement -

Limapuluh Kota, BeritaSumbar.com – Niniak mamak Pasukuan Melayu Nagari Sialang, Kecamatan Kapur IX terus mempermasalahkan pemakaian gelar Datuak Bandaro Kayo oleh pihak lain.

Buntut dari itu, sejumlah niniak tersebut mendatangi Mapolres 50 Kota pada Selasa (2/5) siang untuk memproses perkara tersebut. Menurut niniak mamak, mereka merasa dirugikan atas pemakaian gelar Datuak Bandaro Kayo oleh bukan dari keturunan dari Nagari Sialang. Tak hanya rugi secara adat tetapi dirugikan secara pemakaian identitas.

“Kami sudah menghadap petugas di Mapolres Limapuluh Kota. Nanti, apabila tidak ada kesepakatan pemakaian gelar adat ini, maka kami akan melaporkan ke ranah hukum,” ujar Fatri Madrika Rales Datuak Bandaro Kayo Pasukuan Melayu Nagari Sialang usai keluar dari ruangan SPKT Polres Limapuluh Kota.

Saat mendatangi Mapolres Limapuluh Kota, Fatri Datuak Bandaro Kayo itu didampingi oleh Niniak Datuak Rajo Dibalai Pucuak Soko Andiko 44 serta Zainal Datuak Usang dan sejumlah niniak mamak Nagari Sialang lainnya. Kedatangan mereka disambut sejumlah petugas SPKT Mapolres.

Niniak mamak dari Nagari Sialang itu, melakukan konsultasi dengan petugas Polres terkait permasalahan yang mereka hadapi.

Kepada petugas, dijelaskan oleh niniak mamak bahwa gelar adat Datuak Bandaro Kayo yang disandang oleh salah seorang warga Nagari Koto Lamo berinisial FL itu tidak sah secara adat Niniak Nan Barampek Kapur IX. Bahkan, ucapnya gelar tersebut terkesan dirampas dari Nagari Sialang dan dibawa ke Koto Lamo.

Gelar tersebut, ucapnya lagi juga dimanfatkan FL untuk berkampanye sebagai Bakal Calon Anggota DPRD Limapuluh Kota Daerah Pemilihan II Kapur IX-Pangkalan dari Partai Golkar.

Karena merasa gelar di rampas, akhirnya setiap spanduk milik FL yang terpasang di Nagari Sialang tulisan Datuak Bandaro Kayo pada spanduk tersebut dicoret oleh anak kemenakan dari Datuak Bandaro Kayo Sialang.

“Berdasarkan sejarah adat Kapur IX, sejak dunia ada, gelar Datuak Bandaro Rajo itu adanya di Nagari Sialang. Karena pemakaian gelar ini sudah dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi oleh orang lain sehingga merugikan kami di Nagari Sialang. Karena itu kami mendatangi Mapolres Limapuluh Kota. Begitupun, gelar Datuak Bandaro Kayo yang tertulis di spaduk milik FL di Nagari Sialang dicoret dengan cat hitam oleh anak kemenakan Sialang,” ucapnya.

Dijelaskannya lagi, pemakaian gelar Datuak Bandaro Rajo itu harus sepengetahuan Niniak Datuak Rajo Dibalai Pucuak Soko Andiko 44. Tetapi, Niniak Rajo Dibalai sekaligus mamak tertinggi itu dari Niniak Nan Barampek Kapur IX tidak pernah mengetahui gelar Datuak Bandaro Kayo sudah dikukuhkan di Nagari Koto Lamo.

“Saya sebagai Niniak Mamak Rajo Dibalai tidak pernah mengetahui penobatan gelar Datuak Bandaro Kayo di Koto Lamo. Seharusnya, saya sebagai pucuk adat tertinggi untuk Andiko 44 termasuk di Kapur IX yang melakukan pemasangan Soluak (penutup kepala) untuk penobatan seorang yang diangkat jadi Datuak. Ini tidak pernah saya lakukan bagi Datuak Bandaro Kayo di Koto Lamo,” ujarnya lagi.

Petugas Mapolres, menyarankan agar niniak mamak yang merasa dirugikan itu agar melakukan musyawarah dan mufakat serta membahas soal adat ditingkat Kerapan Adat Nagari setempat. Apabila tidak ada kesepakatan atau mediasi kedua belah pihak, barulah dilakukan melalui jalur hukum.

Sedangkan, FL Datuak Bandaro Kayo Pasukuan Pitopang Nagari Koto Lamo mengaku, dirinya tidak pernah merampas gelar yang disandangnya itu. Katanya, Datuak Bandaro Kayo yang disandangnya itu merupakan hasil keputusan dari Andiko Nan Batigo yang membawa gelar tersebut ke Nagari Koto Lamo.

“Saya tidak pernah merampas atau merebut gelar Datuak Bandaro Kayo. Andiko Nan Batigo yaitu Datuak Bandaro Hijau, Datuak Bandaro Kuniang dan Datuak Bandaro Sati yang menyarankan agar gelar Datuak Bandaro Kayo dibawa ke Koto Lamo. Itu juga persetujuan Niniak Rajo Duo Balai di Muaro Takus,”ujar FL Datuak Bandaro Kayo beberapa hari lalu.

FL Datuak Bandaro Kayo juga mempertanyakan, kenapa kini-kini gelar tersebut dipermasalahkan. Padahal, penyandang gelar terdahulu yaitu almarhum Aziz Haili sudah lama meninggal dunia. “Sejak Pak Aziz Haily meninggal, gelar Datuak Bandaro Kayo tidak ada yang melanjutkan (dilipek). Kemudian Andiko Nan Batigo menyarankan agar gelar tersebut dibawa ke  Nagari Koto Lamo. Saya hanya menerima saja dan gelar ini pun sudah dilewakan secara adat”katanya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img