26 C
Padang
Kamis, Februari 2, 2023
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Berbilukang dari Hulu, Berlayar ke Kuantan
B

Kategori -
- Advertisement -

Oleh: Ilham Yusardi

Batang Kuantan. Kalau kita bayangkan menyusuri sungai ini dari muara (baca:mulutnya) yang menganga di selat Malaka, pantai timur Sumatera (Pulau Emas), terus menyongsong arus air sampai hulunya ke arah barat pedalaman pulau Sumatera, menyisir di lembah-lembah Bukit Barisan, melewati berbagai negeri-negeri bernama: Teluk Kuantan, sampai ke Lubuk Ambacang. Kemudian di bagian ke hulu, mulai dari Muaro, Muko-Muko, Palukahan, Siluka, Silokek, hingga Durian Gadang.

Jauh ke belakang di kurun awal abad ke-19, keramaian di selat Malaka oleh bangsa Eropa yang keranjingan merencah-rencah tanah air bangsa lain, demi lada, kopi, kayu manis atau segala rempah-rempah hasil bumi, serta butiran emas merayu mereka untuk mendapatkan barang itu ke ‘tangan pertama’ yang berada di pedalaman dataran tinggi Minangkabau. Sungai-sungai yang terbuka untuk disusuri, penduduk-penduduk ramah dalam berdagang, memberi keyakinan untuk hasil yang menguntungkan, untuk perputaran ekonomi yang lebih kencang. Batang Kuantan, sungai berair cokelat itu menjadi pintu utama untuk sampai ke hulu, ke jantung dataran tinggi Minangkabau yang penuh harapan itu.

Sejarawan Inggris, Christine Dobbin, mencatatkan pada tahun 1820-an hingga 1830-an, kampung-kampung di lembah Sumpur menghasilkan banyak kopi yang nantinya dibawa ke Durian Gadang yang disebutnya berada di kawasan Indragiri. Akan tetapi pada tahun berikutnya kopi harus dibawa ke gudang di Buo yang berada di lembah yang berdekatan dengan sungai Batang Kuantan. kira-kira 30 mil jaraknya dari Durian Gadang.

Kata Dobbin lagi, meski masyarakatnya menghidupi diri sendiri dengan bercocok tanam, pada waktu yang sama perniagaan hasil bumi terutama kopi dan kayu manis terus berjalan. Pada paro pertama abad ke-19, Durian Gadang menjadi tempat penyaluran kopi, yang dihilirkan melalui Batang Kuantan. Sebelum tahun 1847, kampung itu mengekspor 800 sampai 1.000 pikul kopi per tahun. “Berpenduduk padat dan makmur.” Kapal-kapal, bahkan kapal laut, datang dari hilir Indragiri ke situ, untuk “membeli kopi dari penduduk dan menukarnya dengan barang-barang dagangan”.

Gusti Asnan, dalam Sungai dan Sejarah Sumatera menegaskan, bahwa kampung-kampung tua seperti Silokek dan Durian Gadang di masa perdagangan di pantai timur Sumatera, muncul sebagai pelabuhan perlintasan (entrepot) penting di Batang Kuantan, kawasan Hulu Indragiri. Di sana, sebagaimana banyak kampung yang serupa di Minangkabau, hadir sebagai desa-desa (nagari) yang memiliki komponen niaga besar. Umumnya beberapa desa juga memusatkan diri dalam penggalian emas.

Negeri-negeri kampung di pinggir Batang Kuantan tidak saja berperan sebagai pelabuhan transit bagi saudagar atau perantau Minangkabau yang menuju pantai timur Sumatra yang dari hulu, tetapi menjadi pelabuhan perlintasan dari saudagar atau pengelana dari Jambi yang datang dari selatan.

Tapi siapa yang menyangkal bahwa Batang Kuantan yang membentang di kesunyian lembah terjal Bukit Barisan itu, walaupun jarak antara Muaro dan Lubuk Ambacang yang hanya sekitar 50 (lima puluh ) kilometer saja, dengan ketinggian yang berbeda antara keduanya, aliran air yang arusnya deras, penuh riak, dapat mengancam keselamatan? Bahkan mitologi yang hidup dalam masyarakat di aliran Batang Kuantan ini, yang tersalin dalam Midden Sumatra karya P.J Veth menyampaikannya:

Dahulu kala, ketika kampung Muaro baru dihuni, dua orang laki-laki pergi dari sana dengan perahu ke Indragiri untuk mengambil sehelai kapas putih untuk digunakan sebagai kain kafan ibu salah satu dari mereka yang telah meninggal. Dalam perjalanan kembali ke Palukahan, antara Durian Gadang dan Danau Si, mereka menemukan arus yang sangat deras sehingga mereka tidak dapat memajukan perahu. Mereka terpaksa masuk ke air, dan menarik perahu ke pantai dengan tali diikatkan di pinggang. Di sana perahu itu dipautkan dengan batu yang diletakkan di bawahnya. Kemudian kedua pria itu bersumpah bahwa tempat itu tidak akan dapat dilayari setiap saat, dan siapa pun yang mencoba melewatinya akan terbalik dengan perahunya. Begitulah sumpah mereka, dan karena itu jeram di Palukaban tidak dapat dilalui.

Lalu mereka menarik perahu agak jauh ke darat, lalu meluncurkannya lagi dan berlayar ke hulu. Di Muko-muko mereka tidak dapat lagi berjalan lebih jauh, harus meninggalkan perahu lagi dan menyeretnya ke tepi sungai, dan sekarang mereka juga bersumpah di sana bahwa tempat itu tidak akan dapat dijelajahi setiap saat, dan siapa pun yang mencoba berlayar, akan berbelok. Begitulah sumpah mereka dan itulah mengapa jeram di Muko-Muko tidak dapat dilalui. Dari Muko-muko mereka terus berlayar ke hulu menuju Muaro.

Tahu alasan kenapa tempat itu dinamakan Muko-muko? Karena ketika kedua orang itu datang ke tempat itu, mereka membasuh mukanya (muko: Minangkbau, berarti muka atau wajah) dengan air. Itulah sebabnya tempat itu dinamakan Muko-Muko. Daerah yang berjeram kuat yang sulit dilalui.

Berbilukang dari Hulu
Lalu kemudian, dengan apa orang-orang dan perniagaan itu dilayari di Batang Kuantan yang pada sebagian tempat berarus (jeram) kuat itu? Konon cerita dari mulut ke mulut, kampung tepi sungai bernama Silukah dan Durian Gadang itu itu memiliki ahli pembuat perahu bilukang. Bahkan jikalau raja Pagaruyung hendak berlayar ke Malaka, perahu dan nakhodanya berasal dari Silukah. Boleh dan wajar saja, sebab di nagari itu segala kayu besar tersedia untuk membuat perahu. Kayu tidak ke mana dicari, dan tukang yang ahli sekalian nakhodanya ada di sana.

Maka kemudian, tersebutlah bilukang, perahu yang cukup tangguh untuk mengarungi riak Batang Kuantan yang pada tempat-tempat tertentu cukup merepotkan. Perahu lesung kayu tak bercadik.

Butuh keahlian khusus untuk menakhodainya. Kalau nakhoda tak pandai, alamat karam dibalikkan hantaman jeram. Tapi bagi orang Silukah, Silokek dan Durian Gadang telah menjadi pakaian batinnya. Nakhoda tidak sendirian. Untuk menjaga bilukang tetap dalam pengawasan dan pada jalur yang bagus, nakhoda ditolong awak perahu yang disebut anak sendo. Bilukang bisa membawa penumpang paling banyak 7 (tujuh) orang saja. Keberadaan anak sendo menjadi penting ketika Bilukang melewati arus deras alias jeram yang kuat. Mereka membantu menjaga keseimbangan perahu agar tidak oleng, agar Bilukang tidak terbalik.

Tidak itu saja, jangan menganggap anak sendo sebagai awak kapal yang hanya mengurus jalannya perahu bilukang. Tenaga di pangkal lengan mereka serta kelincahan mereka melompat dibutuhkan saat bongkar dan menaikkan kembali barang dagangan ketika bilukang tersangkut dan berhadapan dengan jeram yang sangat berbahaya untuk dilewati. Obdeijn sebagaimana yang dikutip Gusti Asnan, menuliskan, “di Batang Kuantan ini ada tempat yang disebut kawasan jeram 120 rintangan (honderd en twintig plagen). Sedikitnya ada 10 jeram yang memaksa nakhoda memutuskan untuk menyuruh anak sendo untuk membongkar muatan perahunya, sebelum melewati jeram itu dan kemudian menaikkan kembali muatan setelah perahunya melewati jeram tersebut.”

Pelayaran dengan bilukang biasanya dimulai dari Muaro, Silokek atau dari Durian Gadang. Nakhoda menyukai waktu pagi untuk memulai keberangkatan. Kebiasaan itu demi untuk menghindari cuaca buruk dalam perjalanan, atau pula menenggang waktu yang dihabiskan di atas bilukang. Sering saja bilukang itu berhenti untuk membongkar dan memuat barang akibat jeram yang kuat, atau permintaan saudagar yang ingin singgah di pemukiman kampung pinggir sungai. Kira-kira waktu sekarang, bisa habis waktu 2 (dua) jam perjalanan untuk sampai ke pangkalan di Durian Gadang. Kalau perahu bilukang tidak singgah di Durian Gadang, maka akan tiba di Lubuk Ambacang ketika matahari terbenam menjelang magrib.

Untuk menjaga ketenteraman para saudagar yang menyewa atau yang memiliki bilukang sendiri pun pergi berombongan. Paling sedikit setiap rombongan terdiri dari 10 (sepuluh) perahu bilukang. Barang yang dibawa harus dimasukkan ke dalam goni. Setidaknya barang-barang yang dibawa harus diikat menjadi satu. Pengepakan satuan ini dimaksudkan untuk mempermudah anak sendo untuk membongkar dan memuat kembali jika terpaksa berhadapan dengan jeram Batang Kuantan.

Mengarungi Batang Kuantan dengan rombongan ini merupakan upaya untuk saling tolong-menolong dalam pelayaran. Anak sendo antar bilukang akan bekerja sama untuk membongkar dan memuat kembali barang dagangan. Selain itu, tentu saja dengan rombongan yang besar, mengantisipasi terjadinya hadangan perampok dalam pelayaran.

Berlayar Ke Kuantan
Daerah sekitaran hulu Batang Kuantan ini menjadi tempat bagi para pedagang maritim datang untuk membeli kopi dari penduduk dan untuk menukarnya dengan barang-barang dagangan. Untuk sampai ke pantai timur Sumatera, maka pelabuhan-pelabuhan kecil di lembah muara Batang Sinamar di sekitar Buo dan Sumpur adalah pintu utamanya. Para pedagang dengan bilukang mengarungi aliran Batang Kuantan ke tempat-tempat pengumpulan barang di hulu sungai Indragiri seperti di Siluk dan di Durian Gadang.

Selama berabad-abad perdagangan hasil bumi dan emas dilakukan lewat jalur ini. Namun melalui jalur ini pula masuk pengaruh asing ke Minangkabau. Pilihan untuk jalur dari barat atau timur tentu saja berbeda, menurut keamanan di Selat Malaka. ketika Minangkabau atau tepatnya Tanah Datar mula-mula memasuki fokus sejarah tampak jalur pantai barat lebih disukai oleh pedagang-pedagang India. Ini berkaitan dengan melemahnya Sriwijaya dan situasi selat yang tidak menguntungkan.

Batang Kuantan tidak sepenuhnya untuk diarungi dengan perahu bilukang. Daya angkut barang dengan perahu bilukang tidak terlalu besar. Hanya sekitar 30 sampai 60 Pikul saja (1 pikul sekira 60 kg). Barang dagangan yang dibawa dengan bilukang, seperti kopi dan kayu manis itu nantinya kan dioper ke perahu atau kapal lebih besar di pelabuhan transit berikutnya yang berada Lubuk Ambacang. Dengan kapal yang lebih besar yang mampu memuat 80 pikul, para saudagar itu seterusnya diangkut ke berbagai pelabuhan niaga di semenanjung malaka.

Asnan pun menyebutkan, di era yang lebih dekat, sekitar awal abad ke 20, Di samping dengan perahu tradisional, sekira tahun 1908 antara Rengat dan Teluk Kuantan, telah beroperasi kapal uap berukuran kecil atau sedang milik KPM. Kemudian sejak tahun 1920, sudah hadir kapal motor milik orang Tiongha dan ada juga milik pemerintah. Walau kemudian masa yang disebut “zaman maleset”, ekira tahun 1930-an perahu motor berkurang dengan drastis dalam ekonomi yang sulit. Biasanya dengan perahu dari rengat menuju teluk kuantan berlangsung 3 sampai 4 hari.

Tidak disangkal, melalui jalur pelayaran Batang Kuantan inilah, Minangkabau yang jauh di tengah pulau Sumatera menjadi terhubung dengan dunia luar. Kawasan yang kini bagian dari kecamatan Sijunjung, di kabupaten Sijunjung pernah menjadi gerbang Minangkabau untuk terhubung dengan pergaulan dan perdagangan global di kawasan Melaka.

Hanya saja, arus waktu dan dinamika kehidupan yang keras juga mengubah budaya manusia dan moda transportasi masyarakatnya. Jalur perhubungan air di daerah itu mungkin sudah sehebat dulu lagi. Dari pada bersakit-sakit dahulu di atas perahu bilukang, orang kini mungkin memilih duduk manis di dalam mobil untuk sampai ke Teluk Kuantan.

Namun generasi hari ini mestinya bisa mengambil pelajaran dari masa itu. Misalnya, dahulu daerah yang kini terlingkup dalam kawasan Geopark Silokek itu pernah menjadi pusat penghasil kopi dan rempah-rempah yang laku di pasar dunia. Perlu dipikirkan, apa tumbuhan produktif yang bisa ditanam oleh generasi saat ini di sana untuk menopang hidup warganya? Usaha apa yang mungkin dilakukan agar menjadi alasan warganya untuk tidak ikut ‘mengaruk’ serpihan emas dengan cara-cara ilegal yang merusak lingkungan? Wisata. Merekonstruksi peradaban lama Silokek, Durian Gadang dan sekitarnya dengan bilukangnya mungkin satu ide kecil saja. Bukankah wisata dapat ditumbuhkan dari narasi sejarah yang kolektif?

Ilham Yusardi
Pemerhati Budaya & Wisata

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img