Tanah Datar, BeritaSumbar.Com — Proses penjaringan Direktur Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Alami Batusangkar terus menyedot perhatian publik. Seleksi yang seharusnya menjadi ajang mencari figur profesional untuk membenahi perusahaan daerah itu kini dibayangi isu tarik-menarik kepentingan dan dugaan kedekatan dengan kekuasaan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun hingga Jumat (1/5/2026), sedikitnya 14 orang telah mendaftarkan diri sebagai bakal calon direktur. Para pendaftar berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari internal PDAM Tirta Alami hingga figur yang memiliki pengalaman di PDAM daerah lain.
Anggota panitia seleksi, Yusrizal, membenarkan jumlah pendaftar tersebut. Ia mengatakan, saat ini proses seleksi masih berada pada tahap verifikasi administrasi.
“Masih tahap pemeriksaan kelengkapan berkas. Setelah ini akan masuk ke tahapan lanjutan sesuai mekanisme seleksi,” ujarnya.
Meski demikian, tahapan seleksi tidak lepas dari sorotan. Munculnya nama seorang tenaga ahli Bupati Tanah Datar yang juga tergabung dalam tim percepatan pembangunan memicu spekulasi di tengah masyarakat. Isu mengenai adanya “orang dalam” kembali mencuat dan menimbulkan keraguan terhadap independensi proses seleksi.
Sorotan tersebut secara tidak langsung juga mengarah pada komitmen Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, khususnya Bupati Eka Putra, dalam memastikan seleksi jabatan strategis di lingkungan BUMD berjalan objektif, transparan, dan bebas intervensi.
Sejumlah kalangan menilai, jika pengisian jabatan strategis seperti direktur PDAM kembali diwarnai kepentingan politik, dampaknya tidak hanya akan terasa pada kualitas manajemen perusahaan, tetapi juga pada menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.
Salah seorang warga, Oped (54), mengatakan masyarakat berharap proses seleksi benar-benar mengutamakan kapasitas dan rekam jejak calon.
“Kalau yang dipilih karena kedekatan, bukan kapasitas, maka yang hancur bukan hanya kinerja PDAM, tapi juga kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Kritik serupa disampaikan tokoh masyarakat adat, Basrizal Dt Rangkayo Basa. Ia menegaskan, penjaringan direktur PDAM harus berlandaskan kompetensi, integritas, dan pengalaman, bukan kepentingan politik.
“Jangan sampai jabatan ini hanya diisi oleh barisan politik kepala daerah. PDAM butuh orang yang mampu menyelesaikan masalah, bukan menambah beban,” tegasnya.
Menurut Basrizal, direktur yang terpilih nantinya harus benar-benar independen, profesional, dan mampu membawa PDAM Tirta Alami keluar dari berbagai persoalan yang selama ini membelit.
Saat ini, PDAM Tirta Alami disebut menghadapi sejumlah tantangan serius. Selain tunggakan pelanggan yang hampir menyentuh **Rp7 miliar**, tingkat kebocoran air juga dinilai masih tinggi. Kondisi tersebut berdampak langsung pada hilangnya potensi pendapatan perusahaan daerah.
Dalam situasi itu, kehadiran direksi baru dinilai sangat penting. Sosok pemimpin yang dibutuhkan bukan hanya memahami teknis pengelolaan air minum, tetapi juga memiliki keberanian melakukan pembenahan secara menyeluruh, mulai dari manajemen, pelayanan, hingga tata kelola keuangan.
Karena itu, publik berharap panitia seleksi dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga integritas proses penjaringan. Transparansi dan akuntabilitas dinilai menjadi kunci agar seleksi tidak hanya bersifat formalitas, tetapi benar-benar menghasilkan figur terbaik untuk memimpin PDAM Tirta Alami.
Kini, masyarakat Tanah Datar menunggu hasil dari proses tersebut: apakah seleksi ini akan melahirkan figur profesional berbasis meritokrasi, atau justru kembali menguatkan stigma lama tentang dominasi kepentingan politik dalam pengisian jabatan di lingkungan BUMD. (McD)