Tanah Datar – BeritaSumbar.com ,- Delapan bulan lebih pascabanjir bandang (galodo) 2024, ratusan hektar sawah di Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, masih terbengkalai dan tak tersentuh perbaikan. Warga korban galodo mengeluhkan belum adanya perhatian serius terhadap lahan pertanian mereka yang kini berubah menjadi semak belukar.
Zainal, yang akrab disapa Mainan, salah seorang petani korban galodo, menggambarkan kondisi memprihatinkan sawahnya dengan kalimat yang menyayat hati.
“Aia dak ado, tali banda putuih, lahan lah tumbuah duri,” ujarnya.
“Air tidak ada, saluran irigasi putus, lahan sudah ditumbuhi semak belukar.”
Zainal mengaku sudah berkali-kali didatangi petugas untuk pendataan, namun hingga kini belum ada kejelasan bantuan maupun perbaikan yang menyentuh lahan sawahnya.
“Sudah berkali di lakukan pendataan, tapi tidak ada realisasi. Saya sudah putus harapan kepada pemda dan cuma bisa berharap kepada Tuhan,” katanya dengan nada lelah.
Kondisi ini, menurutnya, bukan hanya ia sendiri yang merasakan. Hampir semua warga yang sawah dan ladangnya terdampak banjir bandang di wilayah Lima Kaum mengalami nasib serupa. Mereka tidak bisa lagi mengolah sawah karena ketiadaan air dan rusaknya jaringan irigasi.
Di beberapa nagari dalam wilayah Kecamatan Lima Kaum, areal persawahan yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan utama warga kini tampak terbengkalai. Saluran irigasi yang rusak parah membuat aliran air tidak lagi sampai ke petak-petak sawah.
Akibatnya Musim tanam tertunda berulang kali, Petani kehilangan minimal satu hingga dua musim panen, Banyak lahan yang kini dipenuhi semak belukar dan rumput liar
Petani mengaku tidak punya kemampuan finansial dan teknis untuk memperbaiki irigasi secara swadaya. Mereka berharap ada program pemulihan yang menyentuh langsung persoalan dasar: air dan akses mengolah lahan.
Bagi warga Lima Kaum, sawah bukan sekadar lahan, tetapi juga sumber utama ekonomi keluarga. Sejak galodo melanda dan merusak lahan serta jaringan irigasi, pendapatan mereka praktis terhenti.
Sebagian petani terpaksa beralih menjadi buruh harian lepas, bekerja serabutan, atau merantau sementara untuk menyambung hidup. Namun, bagi yang sudah berumur dan tidak lagi kuat bekerja di tempat lain, situasi ini menjadi beban tersendiri.
“Dulu sawah inilah tumpuan hidup kami. Kini kami hanya bisa melihat dari jauh, lahan yang dulu hijau kini sudah tumbuh duri,” keluh vera warga lain yang sawahnya juga terkena bencana galodo.
Warga korban galodo di Lima Kaum menegaskan, bantuan yang mereka butuhkan bukan sekadar sembako sesaat, melainkan pemulihan jangka panjang yang bisa mengembalikan mereka ke aktivitas bertani seperti semula.
Mereka menilai, kunci utama pemulihan ekonomi petani pascagalodo adalah Perbaikan saluran irigasi (tali banda), Normalisasi aliran air, Pembersihan dan penataan lahan yang tertimbun material dan semak, Pendampingan dan bantuan sarana produksi (benih, pupuk, dan alat)
Hingga berita ini diturunkan, warga mengaku masih menunggu langkah konkret pemerintah daerah. Di tengah rasa kecewa dan putus asa terhadap proses yang mereka anggap lamban, satu-satunya pegangan mereka kini hanyalah doa dan harapan akan adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada petani kecil di Tanah Datar.
“Kalau aia alun tibo, sawah indak bisa basawah. Jan sampai kami di awak kampuang jadi tamu di lahan sendiri,” tutup Zainal, menahan haru. (McD)