spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Penguatan Karakter Mahasiswa Program Pertukaran UNAND di Bukit Tinggi
P

Kategori -
- Advertisement -

Bukittinggi,BeritaSumbar.com,- Pendidikan senantiasa menjadi penopang bagi suatu negara, wilayah dan daerah tersebut untuk tetap berdiri. Sebab pendidikan mampu menciptakan wawasan bagi individu dan sosial dalam mencapai selamat lahir dan bathin. Penyelenggaraan pendidikan tersebut tentunya harus berakar pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya budaya bangsa sebagai semangat dalam pembangunan Indonesia, baik segi pembangunan fisik maupun pembangunan psikososial atau mentalnya.

Sederet orang ternama dalam lintas sejarah peradaban Indonesia seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Chairil Anwar, Ki Hadjar Dewantara adalah nama-nama yang telah berhasil mengukir peradaban nusantara dengan berbagai kekhasan perjuangannya.

Mereka dibangun dengan sistem pendidikan yang berbasiskan pada budaya. Budaya yang telah melarang mereka untuk berpikir, berperilaku dan berbuat untuk menciptakan pembangunan bangsa yang dilandasi dengan nilai-nilai Kebudayaan sebagai sebuah identitas atau karakter yang tidak bisa dimiliki bangsa-bangsa lainnya.

Bukittinggi adalah jawaban untuk mempelajari budaya dan berperilaku bangsa. Salah satu kelompok modul nusantara Unand, yaitu TaTiSa, sepakat untuk destinasi Modul Nusantara selanjutnya adalah mengukir kebersamaan di Bukit Tinggi.

 Minggu jam 6 pagi, 20 November 2022 kebhinekaan di Bukit Tinggi bersama TaTiSa dimulai. Destinasi pertama yang TaTiSa jumpai adalah air terjun Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar, air terjun yang memiliki ketinggian 30 meter dari atas permukaan tanah dengan air yang kehijauan jernih dan dingin menambah sensasi mengesankan ketika melakukan persinggahan di air terjun tersebut. Dengan jadwal destinasi yang padat membuat TaTiSa tidak bias berlama-lama melakukan persinggahan di Lembah Anai tersebut.

 Bobby Febri Krisdianto selaku dosen Modul Nusantara memberikan penawaran kepada anak-anak TaTiSa untuk pergi ke Bika Tapi Talago untuk menyicipi minuman kawan dan bika yang ada di tempat itu, tanpa menolak anak-anak TaTiSa pun langsung menyetujuinya. Menikmati kawah dan bika khas Minang ditepian Telaga memang sangat nikmat. Tanpa berlama-lama kita langsung bergegas menuju Bukittinggi dan tempat pertama yang dikunjungi adalah Panorama Ngarai Sianok.

     Panorama Ngarai Sianok adalah Titik Pemandangan di Bukittinggi. Lembah curam atau biasa disebut dengan jurang yang terletak di perbatasan Kota Bukittinggi, ini sangatlah sempit dikelilingi oleh bukit-bukit bertebing curam yang dihiasi dengan aliran sungai kecil ditengahnya itulah Ngarai Sianok. Pemadangan yang ditawarkan di Ngarai Sianok sangatlah indah dan asri serta sejuk. Setelah menikmati panorama di sana, dengan penuh pertimbangan TaTiSa memutuskan untuk masuk dan menjelajahi Lubang Jepang yang merupakan bagian dari destinasi di Ngarai Sianok.

Ketika baru menginjakkan satu anak tangga di Lubang Jepang, hawa mengerikan tidak dapat dipungkiri. Gelap, mencekam, sedih, dingin, dan sesak merupakan hal yang saya sebagai penulis rasakan selama berada di tempat tersebut. Satu demi satu ruangan kami jelajahi dipandu dengan tour guide yang bertugas memandu jalan kami, serasa dipantau dan dilihat oleh banyak orang merupakan bagian dari perasaan anak-anak TaTiSa. Masing-masing punya preferensi tersendiri tentang ruangan atau “kamar” mana yang menakutkan. Tapi, menurut saya sendiri bagian paling mencekam adalah “dapur” ruangan paling sempit diantara semua ruangan yang ada, terdapat lubang kecil menuju sungai dengan ketinggian 70 meter di atas permukaan laut itu merupakan hal paling mengerikan dalam Lubang Jepang tersebut dan ruangan tersebut sudah dibuat untuk kedap suara dan tidak ada yang bias mendengar suara walau sekecil apapun ketika berada di dalamnya.

 Setelah dari Lubang Jepang, destinasi selanjutnya yang tidak bias dilewatkan ketika berada di Bukittinggi adalah Rumah Kelahiran Bung Hatta. Saya berada di sana bisa mengetahui fakta bahwa Bung Hatta berasal dari keluarga terpandang bisa dilihat dari bentuk rumahnya yang besar, elegant, dan mewah untuk ukuran jaman dahulu. Tidak hanya dari rumahnya, tempat beliau untuk menuntut ilmu juga sudah menandakan beliau berasal dari keluarga kaya dan cendekiawan.

     Walaupun sudah berada di abad 20, rumah kelahirannya masih sangat otentik dengan rumah megah pada zaman dahulu kala. Rumah tersebut sangat nyaman dan aman, terdapat sumur tua di salah satu bilik kamar tersebut. Di rumah itu juga ada kamar mandi dengan bak yang panjang khas pada zaman terdahulu.

Setelah melakukan istirahat, sholat, dan makan. Tanpa berleha-leha dan tidak ingin membuang-buang waktu, TaTiSa memutuskan untuk pergi ke Benteng Fort De Kock. Benteng yang dibangun oleh kapten Bouer ini menjadi tempat perlindungan dan pertahanan bagi lima desa adat yang ada di sekitar bukit dari perang padri yang telah berlangsung selama satu dekade.

Berhubung Benteng Fort De Kock satu naungan dengan kebun binatang. TaTiSa yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langsung bergegas menuju kebun binatang dengan melewati jembatan Limpapeh yang menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.

Ketika masuk hal yang pertama kali disaksikan adalah gajah yang sedang makan dan TaTiSa disambut oleh burung-burung berkicauan di dekat gerbangnya. Terdapat banyak sekali hewan yang ada di taman margasatwa tersebut, ada jenis burung, jenis unggas, jenis reptil, jenis mamalia, dan jenis invertebrata. Tempat tersebut sangat nyaman dan asri untuk dijadikan sebagai taman margasatwa.

Setelah semuanya puas dan senang bisa melihat semua jenis hewan yang ada, destinasi terakhir adalah Jam Gadang. Tempat paling ikonik di Sumatera Barat. Tidak lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke Jam Gadang ketika berada di Sumatera Barat, monument yang merupakan hadiah dari Ratu Belanda pada tahun 1926 yang diberikan kepada sekretaris kota Bukittinggi yang menjabat pada tahun 1926 yaitu Hendrik R Rookmaaker.

Setelah melakukan segala aktivitas di Jam Gadang, semuanya bersiap-siap untuk pulang. Semakin banyak moment yang dibuat bersama maka semakin menyakitkan ketika dihadapkan dengan perpisahan. Tersisa 40 hari lagi menuju kepulangan masing-masing mahasiswa,kebersamaan yang telah terbangun dengan harmonis antar anggota maahasiswa program pertukaran.

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img