Sijunjung,BeritaSumbar.com,- Berpulangnya Buya Ahmad Syafii Maarif sangat membuat bangsa ini berduka. Terkhusus bagi Kabupaten Sijunjung yang merupakan daerah kelahiran beliau. Disaat-saat terakhir pengabdian beliau, beliau masih memikirkan masa depan Muhammadiyah. Padahal dokter sudah mengingatkan kalau Buya tidak boleh banyak fikiran apalagi sampai terbebani. Mengingat kesehatan dan usia beliau yang sudah renta.
Salah satu pembangunan yang sedang berjalan dan selalu beliau pantau progresnya adalah Pembangunan Gedung Dakwah Ahmad Syafii Maarif yang beralamat di jantung Kabupaten Sijunjung. Ditambah lagi, Buya Pi’i (Panggilan Akrab Buya ASM) juga mengutus 2 orang Anak Panah yang masih muda dan sangat aktif bermasyarakat. Mereka adalah Ustad Sidiq dan Ustad Inggit. Semangat dan I’tikad baik buya untuk Muhammadiyah di Sijunjung, membuat semangat Kader AMM Sijunjung menggelora.

Bahkan tidak tanggung-tanggung. Salah satu pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah yang langsung diawasi pembangunannya oleh Kepala Kejaksaan Negeri(Kajari) adalah Gedung Dakwah Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif. Kebetulan beliau dahulunya kader Aktif di IRM. Semangat Buya Ahmad Syafii Maarif mengalir deras di tubuh Bapak Efendri Eka Saputra (Kajari Sijunjung). Padahal beliau belum pernah bertemu dengan Buya sekalipun. Tidak mengharap imbalan apapun.
“Kepergian Buya membuat duka bangsa ini. Terkhusus bagi Muhammadiyah dan Sijunjung. Saya sudah lama mengidolakan sosok Buya. Semenjak saya di IRM dan kuliah dulu, nama Buya sudah sangat akrab ditelinga saya. Ketika saya mendapat amanah di tugaskan di Sijunjung, yang saya cari pertama adalah Muhammadiyah. Saat saya mendapat kabar kalau di sijunjung sedang ada pembangunan Gedung Dakwah Ahmad Syafii Maarif, dengan suka rela saya menawarkan diri untuk menjadi pengawas pembangunan gedung dakwah ini. Karena saya tidak ingin Buya kecewa. Para donatur kecewa. Karena saya merasa Maha Karya Buya untuk Sijunjung adalah Gedung Dakwah Ahmad Syafii Maarif ini. Padahal belum pernah sekalipun saya bertemu dengan Buya.
Mungkin itu pula lah yang bisa saya berikan untuk kelurga besar yang sudah membesarkan saya”, Kata Bapak Kajari di rungan kerjanya.
“Sosok Buya merupakan contoh dan tauladan bagi bangsa ini. Beliau tidak punya beban dan kepentingan apapun ketika mengeluarkan pendapat. Bukan atas dasar like and dislike. Bukan karena kedekatan dan unsur politik. Tapi sangat Normatif dan Objektif. Saya secara pribadi merasa sangat kehilangan. Semoga di Sijunjung lahir Buya Syafii baru di generasi yang akan datang ini. Meskipun tidak akan sebaik dan sesempurna Buya, paling tidak mendekati”, tutup Eka Kajari dengan raut wajah sedih.
AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah) Sijunjung merasa sangat bersyukur dan berterima kasih dengan adanya Gedung Dakwah Ahmad Syafii Maarif ini. Belum sempat keluarga besar Muhammadiyah Sijunjung mengucapkan terima kasih, Buya sudah berpulang ke Rahmatullah. Padahal proses pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif sudah selesai secara anggaran. Meskipun pengerjaannya masih dalam tahapan Finishing.
“Sungguh kepergian buya membuat Indonesia menangis.
Terkhusus keluarga besar Muhammadiyah dan Sijunjung. Setiap 2 hari sekali beliau me WA saya untuk menanyakan progres pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif. Awalnya beliau tidak restu nama beliau dicatut untuk nama Gedung Dakwah Muhammadiyah ini. Tapi karena permohonan dan desakan keluarga besar Muhammadiyah Sijunjung, beliau akhirnya membolehkan.
Saya sebagai putra daerah Sijunjung yang juga dibesarkan di Sumpur Kudus merasakan betul jasa dan pengabdian Buya. Kalau bukan karena asbab beliau, belum tentu saya bisa kuliah dan tamat di Al Azhar Kairo Mesir. Sebelum kepergian beliau, buya memang berpesan untuk tidak menangisi dan meratapi kepergian beliau. Bukan kepergian beliau yang membuat kita menangis. Tapi kenangan dan jasa beliau dimasa hidup yang membuat kita tertegun. Entah dengan apa akan kita balas. Hanya doa yang bisa kita kirimkan untuk beliau”, kata Fakhrul Rozi Burda, LC MUd, Komisioner KPU Sijunjung. (HHB)