Ditulis oleh: Irsyad Syafar (Anggota Legsilatif DPRD Provinsi Sumbar)
Pemerintah sangat sering mengatakan bahwa subsidi BBM hanya memberikan uang kepada orang kaya. Ratusan triliun habis dibakar untuk orang kaya. Betulkah demikian? Padahal orang kaya di Indonesia ini tidak lebih dari angka 10%. Selebihnya kelas menengah ke bawah. Bahkan para pengusaha pemegang kekayaan Indonesia tidak sampai angka 2% dari seluruh rakyat Indonesia.
Artinya, pemakai BBM bersubsidi mayoritasnya adalah rakyat miskin dan kelas menengah kebawah. Merekalah para tukang ojek, pengendara motor, pemilik angkot, biskota, sopir truk, mobil pribadi menengah ke bawah dll. Termasuk para penumpang umum, mereka adalah “pengguna” BBM bersubsidi secara tidak langsung.
Masuk juga ke dalam kelompok ini, para petani, nelayan dan pedagang-pedagang kecil yang berpindah dari satu pasar tradisional ke pasar yang lain, dari awal pekan ke akhir pekan. Total-total semua golongan tsb, mereka bisa lebih dari 150 juta orang.
Pemerintah menyatakan bahwa kenaikan 2000 rupiah bbm akan memberikan pemasukan 100 triliyun lebih bagi negara. Dan angka tersebut mayoritasnya berasal dari saku orang2 miskin dan menengah kebawah. Berarti negara ini diselamatkan oleh pengorbanan orang2 miskin. Orang kaya tak ada atau belum ada pengorbanan. Bahkan para pengusaha besar akan senang dengan kenaikan bbm ini, sebab pengusaha2 kecil akan gulung tikar.
Pemerintah menyatakan bahwa untuk mengantisipasi efek kenaikan bbm, rakyat miskin diberikan KIS, KIP dan KKS. Semua kartu2 ini anggarannya sudah ada sebelum bbm dinaikkan. Sebab kalau anggarannya belum ada, pemerintah tidak boleh mengeksekusinya. Harus ditetapkan dulu oleh DPR. Berarti kompensasi yang diberikan kepada rakyat bukanlah dari kenaikan bbm ini.
Pemerintah menjanjikan bahwa angka 100 triliun lebih itu akan digunakan untuk membangun infrastruktur, jalan, sekolahan, rumah sakit dan lain2. Kapan itu akan dilaksanakan? Jelas hanya bisa di APBN-P. Karena APBN sudah selesai. Kalaupun dipercepat, takkan mungkin sebelum bulan april 2015. Karena akan tender dulu, studi kelayakan dan sebagainya. Tapi rakyat miskin, melaratnya dari sekarang, membeli barang dan sembako dengan harga mahal dari sekarang, menanggung mahalnya transportasi dari sekarang.
Sementara orang kaya yang benar kaya, sudah lama tak pakai bbm subsidi, tak beli barang2 murah, sering belanja dengan standar atas. Mereka tidak terlalu dirugikan dengan naiknya bbm. Bahkan pedagang asing yang berjualan diindonesia, terutama jualan minyak, mereka sangat-sangat diuntungkan dengan kenaikan bbm. SPBU mereka mulai ramai didatangi kendaraan2 pribadi. Karena harga bbm mereka tidak jauh berbeda dengan bbm kita, sedangkan kualitasnya mereka bisa lebih baik.
Kalau semua ini adalah karena kebodohan sipengambil kebijakan, maka itu adalah sebuah musibah. Jika ini adalah pembodohan, maka musibah yang lebih besar. Jika ini adalah pesanan pihak asing atau aseng, atau pihak-pihak yang berkepentingan dibelakang penguasa, maka itu musibah yang lebih besar lagi.
Maka, hasbunallahu wa nikmal wakil… kita orang beriman harus semakin bertawakkal kepada Allah, memperkuat usaha dan menguatkan persatuan umat serta mencerdaskan rakyat agar tidak mudah terpedaya dengan citra dan pencitraan…
Jayalah negeriku, redhalah Tuhanku…