32 C
Padang
Senin, April 15, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Sekilas Sejarah Jembatan Ratapan Ibu
S

- Advertisement -

Payakumbuh,BeritaSumbar.com,-Proklamasi kemerdekaan negeri ini sudah memasuki usia ke 73. Berbagai kenangan akan perjuangan nak negeri baik sebelum sampai mempertahankan kemerdekaan menjadi ukiran sejarah bangsa ini. Setiap daerah memiliki sejarah masing masing dalam melawan penjajah. Begitu juga dengan Luak Limopuluah (Payakumbuh & Limapuluh Kota) Sumatera Barat.
Daerah yang berjarak sekitar 120an km dari Kota Padang ibukota provinsi Sumatera Barat ini memiliki kenangan akan pahitnya masa masa melawan penjajahan. Salah satunya yang melekat yaitu peristiwa jembatan ratapan Ibu.
Yang mana di jembatan ini puluhan pemuda pejuang masa agresi Belanda ke Ii di eksekusi tentara Belanda pada malam hari. Dengan mata tertutup,tangan terikat,para pejuang yang ditangkap Belanda digiring tengah malam buta ke Jembatan penghubung Pasar Payakumbuh dengan Labuah Basilang tersebut.
Sampai di atas jembatan,para pejuang di jejer sepanjang jembatan. Eksekutor tentara Belanda membidik dari tembing kiri bawah jembatan. Satu persatu jasad bersimbah darah para suhada berjatuhan kedalam Batang Agam.
Kejadian di atas jembatan ini dikenang dan diabadikan sebagai nama jembatan Ratapan ibu. Yang mana menggambarkan kesedihan orang tua yang kehilangan anaknya akibat kekejaman penjajah. Rata rata pejuang yang gugur pada masa itu masih berusia muda. Tangisan kaum ibu yang anaknya tewas sebagai suhada dalam mempertahankan kemerdekaan inilah diabadikan menjadi nama jabatan Ratapan ibu.
Sekitar tahun 1980 sebuah monumen perempuan menunjuk ke dalam aliran batang Agam dibangun. Monumen ini dibangun atas inisiatif Alm Guru Mardisoen komandan Gerilya Antara dan Alm,H Marlius pemuda pejuang.
Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan rekan rekan saya yang gugur di jembatan ini,Tulis Mardisoen di salah satu catatannya yang berjudul Pemuda Gerilya Antara Koto Nan Gadang Payakumbuh. Yang mana tulisan ini awalnya di buat tahun 1980 dan di ulang pada tahun 1995.
Selain monumen Ratapan Ibu,pada tahun 1980 tersebut juga dilakukan pemindahan makam para pejuang Antara. Sebuah komplek makam yang di beri nama Makam Pejuang 45 dibangun di Balai Jariang Koto Nan Gadang. Disini disemayamkan 41 pejuang yang gugur pada masa PDRI di Front Utara Payakumbuh.
Makam yang dulunya bertebaran dimana mereka gugur dan ditanam,dipindahkan ke Makam Pejuang 45 tersebut.(red)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img