spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Peneliti Kopi Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh Dorong Media Sosial Jadi Sarana Edukasi Proses Produksi dan Mutu Kopi
P

Kategori -
- Advertisement -

Payakumbuh,BeritaSumbar.com, — Tim peneliti kopi dari Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi masyarakat mengenai proses produksi, mutu, keamanan, dan ketertelusuran kopi. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem edukasi dan riset kopi yang menghubungkan hasil penelitian dengan informasi yang lebih mudah diakses oleh masyarakat.

Kegiatan penelitian dan edukasi tersebut diketuai Prof. Dr. Rince Alfia Fadri bersama tim melalui Ceri Coffee Education Research Institute (CERI). Selain melakukan penelitian terkait kopi Arabika, tim juga mengembangkan EcoTrace, sebuah sistem yang dirancang untuk mendukung ketertelusuran dan pengendalian mutu kopi dari hulu hingga hilir.

Melalui pendekatan tersebut, hasil penelitian tidak hanya berhenti pada laporan akademik, tetapi juga didorong untuk dapat diketahui dan dipahami masyarakat luas. Salah satu caranya adalah dengan mengemas informasi penelitian menjadi konten edukasi melalui media sosial.

Media sosial dipandang memiliki peran strategis karena mampu menyampaikan informasi secara cepat, visual, dan mudah diakses. Informasi mengenai kopi yang sebelumnya banyak disajikan dalam bentuk laporan teknis dapat diterjemahkan menjadi poster, video pendek, dokumentasi kunjungan lapangan, serta konten edukasi yang lebih dekat dengan masyarakat.

Mengenalkan Perjalanan Kopi dari Kebun hingga Cangkir

Materi edukasi yang dikembangkan tim peneliti mencakup perjalanan kopi sejak berada di kebun hingga menjadi produk yang siap dikonsumsi. Masyarakat diperkenalkan pada berbagai tahapan, mulai dari pemilihan dan pemanenan buah, sortasi, pengolahan pascapanen, pengeringan, hingga proses penyangraian.

Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa kualitas kopi sudah mulai ditentukan sejak proses pemanenan. Salah satunya melalui penerapan metode petik merah, yakni memilih buah kopi yang telah matang sempurna untuk diproses lebih lanjut. Praktik tersebut antara lain diamati dalam kunjungan penelitian ke Beranda Coffee & Roastery di Bukik Sonsang, Kabupaten Agam.

Tim juga mengamati berbagai metode pengolahan kopi di sejumlah sentra produksi. Di Koperasi Koerintji Barokah Bersama, Kabupaten Kerinci, misalnya, penelitian mencakup proses pemanenan red cherry, sortasi, pengolahan pascapanen, hingga pengembangan metode natural process untuk menghasilkan karakter kopi spesialti yang beragam.

Informasi tersebut kemudian dapat dikemas menjadi konten edukasi sehingga masyarakat tidak hanya mengetahui kopi sebagai minuman, tetapi juga memahami proses panjang yang menentukan kualitasnya.

Mutu Kopi Tidak Hanya Ditentukan Asal Daerah

Penelitian tim Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh juga memberikan perhatian terhadap hubungan antara proses pengolahan dan mutu kopi. Perbedaan metode pascapanen maupun penyangraian dapat menghasilkan karakter aroma dan cita rasa yang berbeda.

Hasil evaluasi mutu sensori menunjukkan bahwa optimasi proses pascapanen dan penyangraian menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan kualitas kopi Arabika. Pengaturan suhu dan waktu roasting yang tepat dapat membantu menghasilkan keseimbangan aroma, cita rasa, body, acidity, dan aftertaste, sekaligus mendukung pengembangan kopi spesialti bernilai tambah.

Temuan tersebut menjadi salah satu materi penting dalam edukasi publik. Konsumen diajak memahami bahwa kualitas kopi tidak hanya ditentukan oleh jenis dan daerah asalnya, tetapi juga oleh bagaimana kopi dipanen, diolah, dikeringkan, dan disangrai.

EcoTrace, Menghubungkan Kopi dengan Informasi Digital

Selain edukasi melalui media sosial, Prof. Dr. Rince Alfia Fadri bersama tim juga mengembangkan EcoTrace sebagai bagian dari inovasi penelitian kopi.

EcoTrace dirancang untuk mengintegrasikan pengendalian proses, keamanan pangan, mutu fungsional, mutu sensori, dan ketertelusuran dalam satu sistem. Setiap batch kopi dapat memiliki identitas digital melalui nomor lot dan QR Code yang kemudian dapat dikaitkan dengan informasi mengenai proses pascapanen, kondisi roasting, hasil pengujian akrilamida, aktivitas antioksidan, serta mutu sensori.

Konsep tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih transparan mengenai perjalanan kopi. Konsumen pada akhirnya tidak hanya mengetahui nama produk atau asal daerah kopi, tetapi juga dapat memperoleh gambaran mengenai proses yang telah dilalui produk tersebut.

Pengembangan EcoTrace sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pengendalian mutu dan ketertelusuran kopi Arabika secara berkelanjutan. Dalam penelitian tersebut, integrasi data mutu dan asal-usul produk dipandang dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memberikan nilai tambah bagi industri kopi.

CERI Kembangkan Ekosistem Edukasi dan Riset Kopi

Pengembangan inovasi tersebut berada dalam ekosistem Ceri Coffee Education Research Institute (CERI) bersama tim. CERI diarahkan sebagai ruang yang mempertemukan kegiatan edukasi, penelitian, dan pengembangan informasi mengenai kopi.

Selain pengembangan EcoTrace, CERI juga mengembangkan website CERI sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap informasi dan kegiatan seputar kopi. Kehadiran website tersebut menjadi pelengkap media sosial, sehingga informasi mengenai penelitian, edukasi, dan perkembangan kopi dapat dihimpun dalam satu ekosistem digital.

Jika media sosial digunakan untuk menyampaikan informasi secara singkat, visual, dan mudah dibagikan, website CERI dapat menjadi ruang informasi yang lebih lengkap untuk mendukung edukasi dan dokumentasi kegiatan. Dengan demikian, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh pengetahuan mengenai kopi, baik melalui konten singkat di media sosial maupun informasi yang lebih mendalam melalui platform digital CERI.

Dari Laporan Penelitian Menjadi Informasi Publik

Tim peneliti mengemas informasi hasil pengamatan dan penelitian dalam berbagai bentuk, seperti poster, video pendek, dan dokumentasi kegiatan lapangan. Publikasi dilakukan secara bertahap dengan alur yang dimulai dari proses panen, pengolahan, hingga berbagai metode pengolahan kopi.

Pendekatan ini membuat media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana dokumentasi atau promosi, tetapi juga sebagai jembatan antara dunia penelitian dengan masyarakat.

Melalui konten edukasi tersebut, istilah-istilah yang selama ini lebih banyak ditemukan dalam laporan penelitian dapat diperkenalkan kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih sederhana. Mulai dari red cherry, proses pascapanen, natural process, roasting, mutu sensori, antioksidan, hingga ketertelusuran kopi dapat diperkenalkan secara bertahap dan kontekstual.

Bagi tim peneliti Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, penyebarluasan pengetahuan menjadi bagian penting dari pengembangan kopi. Penelitian tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan data dan inovasi, tetapi juga bagaimana pengetahuan tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Melalui sinergi antara penelitian, CERI, pengembangan EcoTrace, website, dan media sosial, edukasi kopi diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Dengan semakin banyaknya informasi yang tersedia mengenai perjalanan kopi dari kebun hingga cangkir, masyarakat diharapkan semakin memahami nilai di balik secangkir kopi sekaligus semakin menghargai petani, pengolah, pelaku usaha, dan inovasi yang terus dikembangkan untuk meningkatkan mutu serta keberlanjutan kopi Indonesia.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img