32 C
Padang
Jumat, Juli 19, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Merdeka Vs Penyakit Mental Kolonial
M

Kategori -
- Advertisement -

BeritaSumbar.com,-Sebagai sebuah Negara yang berdaulat, semenjak 73 tahun yang lalu, dimulai detik nafasnya pada 17 Agustus 1945. Indonesia berkibar di Bumi Nusantara dan mendapat tempat yang mendalam di hati segenap rakyatnya yang disambut dengan suka cita sebagai harapan baru untuk hidup jauh lebih baik. Namun pertanyaan baru muncul, selama 73 Tahun merdeka apakah kita benar-benar merasakan betul anugerah yang ada pada negeri yang orang bilang syurga dunia ini, sebagai warga negara dari sebuah bangsa yang merdeka?.
Berbicara anugerah tentu kita harus mengembalikan tumpuan pandang kita pada masa kelam sebagai sebuah bangsa dan rakyat yang terjajah lahir dan bathin. Bung karno bilang kita terjajah selama 350 Tahun, dan selama itulah kita di jauhkan dari nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
Singkat cerita kemudian kita merdeka dari pemerintah kolonial Belanda yang sebegitu lama memerintah kita sebagai koloninya. Sebagai koloni Belanda yang baik tentunya kita harus tunduk dan patuh dengan apa apa yang diinginkan oleh pemerintah kolonial.
Pemerintah kolonial, seperti yang kita tahu dari beberapa bahan bacaan dan referensi lalu kemudian kita pelajari, terutama kita peroleh dari pelajaran sejarah, menceritakan bahwa pemerintah kolonial mempekerjakan pejabat pejabat yang dalam banyak kasus kejam, otoriter, dan korup.
Seringkali mereka memaksakan kehendaknya kepada rakyat Indonesia dengan sebegitu rupa dengan alasan merupakan kebijakan negara Belanda. Apa yang terjadi saat itu adalah bagaimana pejabat kolonial itu bertindak seolah sebagai bos yang harus dihormati oleh penduduk koloninya.
Sebagai manusia terjajah Kita dia anggap sebagai budak budaknya yang harus patuh tanpa boleh banyak protes. Namun, kenyataanya mereka adalah pribadi pribadi yang korup yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kondisi itulah yang pada akhirnya memunculkan ide nasionalisme di negara kita. Nah bagaimana keadaan mental kita setelah peristiwa-peristiwa budak tersebut? Setelah kita merdeka apakah situasi Negara kita ini semakin membaik? dan apakah ada perubahan yang berarti ketika pejabat kolonial itu digantikan oleh pejabat pejabat negeri sendiri?.
Tentunya kondisi ini masih banyak perdebatan yang sulit memang menemukan hasil yang absolut. Walaupun demikian Sebagai bangsa yang merdeka tidak dapat dipungkiri kita telah mengalami perubahan dalam berbagai hal seperti pembangunan,pendidikan dan pelayanan publik kiranya sudah dinilai baik.
Namun, terkait dengan mental pejabat pejabat publik yang menjalankan roda pemerintahan baik itu yang berkuasa di eksekutif, dan legislative, saya rasa kita masih sepakat belum ada perubahan yang benar-benar signifikan, dan bahkan saya rasa hampir sama dengan masa colonial, walupun atmosfer penjajahannya lebih manusiawi dan agak sedikit beradab. Hal tersebut dibuktikan dengan masih ditemui di negeri ini pejabat yang berkedudukan tinggi sewenang wenang terhadap bawahan, kemudian menyalahgunakan wewenang, membuat kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat dan lain-lain sebagainya.
Liat saja, berapa banyak raja-raja eksekutif dan legislative yang sudah menghuni jeruji besi akibat dari korupsi dan ketamakan yang diperbuatnya. Kemudian juga sering kita temukan pemerintah yang begitu arogannya ketika berhadapan dengan rakyat, serasa dia adalah raja yang harus di agung-agungkan dan sama sekali tidak ada ubahnya dengan zaman kolonial.
Kondisi di atas itulah yang menyebabkan tidak meratanya pembangunan sehingga saudara saudara kita yang berada jauh dengan pusat kekuasaan malah tidak merasakan kue pembangunan akibat kemerdekaan. Contohnya saja kasus E-KTP, masih banyak di daerah-daerah yang masih kesulitan untuk merealisasikan E-KTP dikarenakan tidak cukupnya alat untuk membuatnya.
Apakah masalahnya pada kekurangan anggaran? Tentu saja tidak, semua anggaran tersebut bahkan dinilai lebih dari cukup, karena ketamakan raja-raja kolonial zaman new lah membuat berantakan segalanya. Akhirnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tersebut semakin jauh dari kata wujud nyatanya.
Hal ini berakibat kepada sebagian saudara kita yang mereka terasing di negeri sendiri meski kemerdekaan telah lama kita jalani. Menarik untuk kita renungkan kembali, sudahkan kita mewujudkan kemerdekaan itu secara nyata dan utuh mengingat cita cita kemerdekaan kita adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?.
Apakah kita masih tetap akan bertahan dengan keadaan Negara yang semakin kritis ini dan berpura-pura lupa, kalau tidak bisa disebut menghianati, cita cita kemerdekaan yang telah digariskan oleh para founding father negara kita dalam sebuah teks Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 itu?.
Mari menundukan kepala dan sejenak merenungi nasib bangsa ini, sudahkah kita berjuang? Apakah masih terus berpura-pura berjuang sementara kita masih menyandang gelar sebagai pecundang. Semoga tulisan singkat ini mampu merefresh kembali pemahaman kita akan sebuah kemerdekaan, dan tidak silau dengan mental pejabat kolonial yang berorientasi kekuasaan dan materi.
Oleh : Riyan Betra Delza, S. Psi
Direktur FK institute.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img