spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Mahasiswa PMM 2 Unand: Dari Museum Menelusuri Jejak Toleransi Minangkabau
M

Kategori -
- Advertisement -

Padang,BeritaSumbar.com,- Mahasiswa dari berbagai daerah yang tergabung dalam program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Universitas Andalas 2 ikuti perjalanan Wisata Sejarah dalam kegiatan Modul Nusantara tentang Kebinekaan, Sabtu (17/09).

Mereka diajak menjelajahi Museum Adityawarman dan juga berbagai rumah ibadah yang ada di Kota Padang untuk mempelajari budaya Minangkabau dan juga toleransi yang ada.

Tema dari kegiatan ini adalah “Membaca Minangkabau di Museum Adityawarman dan Kunjungan Rumah Ibadah”

Saat memasuki museum, pemandangan pertama yang disuguhkan adalah sebuah tugu berwarna putih, bagian atasnya bulat dan di dasarnya terdapat relief yang mengisahkan sejarah Minangkabau. Tugu tersebut berada di tengah-tengah taman dan bernama Tugu Pahlawan, didirikan tahun 1950.

Di belakang tugu juga terlihat sebuah Rumah Adat Minangkabau atau Rumah Gadang yang dindingnya penuh dengan ukiran, atapnya yang melengkung seperti tanduk kerbau serta sebuah rangkiang yang berada di sisi kanan bangunan tersebut.

Mahasiswa PMM yang melakukan kegiatan wisata hari ini berasal dari kelompok 1. Mereka dibagi lagi menjadi empat kelompok kecil, satu persatu kelompok mulai memasuki museum. Kelompok kecil ini dipandu oleh Petugas Museum, mereka berjalan menjelajahi setiap ruangan.

Ruangan di museum ini memiliki berbagai tema mulai dari Zaman Purba, Peradaban Buddha, Peradaban Islam, Pakaian Adat, Satwa Lokal, Kain Tradisional, dan Kuliner Khas Daerah. Mahasiswa menikmati penjelasan dari pemandu mereka. 

Puas mengelilingi museum, mereka selanjutnya berangkat menuju Gereja Katedral Santa Theresia Padang, Gereja ini telah berdiri sejak tahun 1932. Di sana mereka belajar pentingnya toleransi dan saling pengertian antar masyarakat dan agama. Kata Romo Toto, dalam kehidupan ada nilai universal yang harus dihargai, bukan untuk diperdebatkan, saling mengenal akan membuat kita lebih rukun.

Dari Gereja, mahasiswa PMM melanjutkan kunjungan ke Mesjid Gantiang. Mesjid ini merupakan salah satu cagar budaya Kota Padang, berdiri sejak tahun 1805. Mahasiswa mendengar dengan saksama mengenai sejarah pembangunan mesjid yang penuh dengan nilai toleransi. “Struktur mesjid bagian luar dibangun pedagang Tiongkok, sedangkan pedagang Arab membangun bagian dalam mesjid” begitu penjelasan dari Al Mijun, seorang  pengurus Mesjid Gantiang.

Seharusnya, peserta PMM juga dijadwalkan berkunjung ke Kelenteng See Hien Kiong, namun karena ada acara tertutup yang sudah dijadwalkan pihak Kelenteng, maka para mahasiswa hanya bisa lewat di depannya dan melihat dari luar saja.

Saat hujan mulai turun, perjalanan tetap dilanjutkan menuju Wihara Budha Warman, didirikan tahun 1989. Rombongan mahasiswa PMM disambut  oleh Romo Sudarma dan Banthe Badrabuddhi. Sesi diskusi di dalam Wihara penuh dengan gelak tawa, mahasiswa sangat terhibur dengan pembawaan Banthe hingga diskusi menjadi interaktif.

Wihara ini berhasil membangun Sekolah Plus Manjhushri. Sekolah ini mencerminkan toleransi yang tinggi karena guru dan siswanya berasal dari berbagai agama. ”Orang yang merdeka adalah orang yang belajar” demikian pesan yang disampaikan Banthe Badrabuddhi.

Memang benar adanya, pendidikan akan mendorong orang-orang untuk menjadi manusia yang bijak. Mampu melihat kehidupan dari berbagai segi positif, termasuk hidup berdampingan dengan keberagaman Indonesia yang luar biasa.

Dengan pelajaran berharga hari ini peserta PMM diharapkan bisa memetik makna toleransi yang sangat diperlukan sebagai bangsa yang majemuk. Di Minangkabau sendiri, toleransi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak lama, karena keterbukaannya dan kemampuan berdialektika.

Dilaporkan oleh: Andrezal (Mahasiswa HI, FISIP, Unand)

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img