Padang,BeritaSumbar.com,-Dr Kresno Yulianto (Pakar Manajemen Museum Universitas Indonesia) pada acara Bimbingan Teknis Pengelola Museum Sumatera Barat yang digelar 24-26 April lalu di Hotel Aliga Padang menyebutkan bahwa Sumatera Barat memang Luar Biasa. Kaya dengan potensi Museum yang bakal mencerdaskan anak bangsa. Bekas Tambang Batu-Bara saja bisa disulap menjadi Objek Wisata Tambang di Sawahlunto, lengkap dengan museumnya.

Di Lima Puluh Kota juga tengah dibangun Proyek Museum Nasional PDRI.  “Ternyata di Bukittinggi juga ada Bank Nasional 1930, Bank Pribumi pertama di Indonesia. Juga sekaligus tempat magangnya Margono Joyohadikusumo yang memulai pendirian Bank Negara Indonesia (Bank BNI 46) di salah satu ruangan Bank Nasonal 1930 tersebut.

Apalagi cikal Peruri (Percetakan Uang Republik Indonesia) juga ada di Halaban, Sumatera Barat. Konon percetakan uang itu juga sangat terkait dengan Bank Nasional 1930 ini. Informasi ini baru saja saya peroleh dari teman saya Bapak Yulfian Azrial Budayawan Nusantara kebanggaan kita, yang juga penulis Buku Museologi pertama di Indonesia bersama Bu NoviyantiSH.MM. “Bila memang ada yang ingin membangun Museum Perbankan di sana. Ini tentu sangat luar biasa. Terus terang saya sangat mendukungnya… Apalagi in sangat spesifik. Belum ada Museum Khusus Perbankan Nasional di negara kita, ” ujar Dr. Kresno Yulianto”

Sementara Budayawan Yulfian Azrial ketika dihubungi secara terpisah membenarkan adanya gagasan untuk membangun Museum Perbankan ini.”Gagasan ini memang sudah lama saya sampaikan ke Pengurus Team pengembalian Bank Nasional 1930 yang berkantor di Gedung Perjuangan Bank Nasional 1930, Jl. Jenderal Sudirman No 25. Kota Payakumbuh.  Bahkan kemaren (27 April 2018) saya kembali membicarakannya dengan bapak Nusyirwan Abas Kamil.” ujar Yulfian Azrial. yang juga pernah menjadi Penggagas, Deklarator dan Pimpinan Forum Bisnis Pemuda ASEAN ini.

Museum Perbankan nasional Ini Akan Sangat Luar Biasa
Dijelaskan oleh Yulfian Azrial, Selain menjadi Bank Pribumi pertama, sebenarnya orang-orang yang terlibat di Bank nasional 1930 ini merupakan actor-aktor pejuang sejati dari kemerdekaan Republik Indonesia. Karena itu Bank Nasional 1930 ini tidak hanya berperan dalam memodali perjuangan kemerdekaan bangsa, tetapi juga menjadi lembaga sukarela dan penggalangan kekuatan masa dalam –masa-masa perjuangan.

“Dari Konsep perjuangan inilah satu-satunya Bank yang sejak awal telah menjalankan prinsip-prinsip syariah dan prinsip-prinsip bank modern yang sebenarnya. Bisa jadi dari sinilah munculnya gagasan Pasal 33 UUD 1945, bagaimana ekonomi gotongroyong (ekonomi berjamaah) menjadi kekuatan yang luar biasa. Bahkan Tokoh-tokoh Bank Nasional juga merangkap sebagai Konsultan bisnis bagi para nasabah, sehingga jaminan uang kembali tidaklah mengandalkan apalagi sampai mengincar ‘sitaan jaminan’ seperti praktek perbankan kapitalis saat ini,” jelas Alumni Fakultas Ekonomi Unand ini.

Kemudian para pejuang yang tergabung di bank Nasional ini juga yang menggerakkan penggalangan dana untuk membeli Pesawat Pertama untuk Republik Indonesia, a awal zaman kemerdekaan. “Sekarang lebih dikenal pula perjuangan Halim Perdana Kusuma dan Iswahyudi, yang gugur saat menerbangkan pesawat ini, ketimbang kisah perjuangan Amai-Amai yang rela melepas gelang, cincin dan kalung emasnya untuk membeli pesawat p[ertama untuk Republik Indonesia itu,” ujar Mak Yum, sapaan akrab Yulfian Azrial di kalangan generasi muda.
“Bayangkan… bila museum ini jadi, selain terkait dengan Bank Nasional sendiri sebagai institusi, maka tentu akan ada satu ruangan yang lemngkap dengan data terkait Perjuangan Dalam membei Pesawat Pertama. Satu Ruangan lagi bias jadi Ruangan Tan Malaka.Lalu Ruangan Bung Hatta yang juga bereperan di Bank Nasional ini. Ada Ruangan Didikan Suvbuh Muhammadiyah yang juga digerakkan Bank ini. Yang tak kalah istimewa tentu adalah Ruangan yang dulu pernah dijadikan tempat magang oleh Margono Joyohadikusumo. Ruangan yang pernah dipinjamkan sekaligus untuk kemudian menjadi lokasi tempat berdirinya Bank Negara Indonesia 1946 (Bank BNI) untuk pertama kali,” ujar Yulfian Azrial. (***)