25 C
Padang
Jumat, Januari 21, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Seragam “Militer” Loreng Brimob Disebut Kemunduran Polisi
S

Kategori -
- Advertisement -

Keputusan pemakaian seragam loreng untuk Korps Brigade Mobil (Brimob) disebut sebagai bentuk kemunduran institusi Kepolisian Republik Indonesia.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan, klaim Kapolri Jenderal Sutarman bahwa pemakaian kembali seragam loreng adalah sebagai salah satu bentuk revolusi mental tak berdasar.

Neta mengingatkan bahwa tahun 1999 saat Polri memisahkan diri dari  TNI, polisi juga lantas meninggalkan hal-hal yang berbau militer. Mulai dari atribut seragam, hingga penggantian nama di sisi pangkat para anggota Polri, semuanya diubah.

“Jadi, penggunaan kembali seragam loreng, dapat disebut juga sebagai bentuk kemunduran Polri. Karena sejak awal, polisi itu harus mengenakan atribut sipil, namun tetap profesional,” ujar Neta kepada CNN Indonesia, Ahad (23/11).

Menurut Neta, lebih dari itu, penggunaan kembali atribut loreng oleh Korps Brigade Mobil Polri memberi efek psikologis bagi anggota Polri ataupun TNI.

Bentrok di Batam, yang terjadi lima hari setelah Kapolri Jenderal Sutarman mengumumkan dikenakan kembali seragam loreng oleh anggota Korps Brigade Mobil, dinilai sebagi efek psikologis yang dirasakan anggota TNI dan Polri.

Neta menyebut, bentrok yang terjadi di Batam adalah bentuk dari rasa tidak rela para anggota TNI yang menilai dirinya sebagai militer sejati.

“Ada ketidakrelaan di TNI. TNI merasa mereka adalah militer, sedangkan mereka melihat polisi sebagai masyarakat sipil yang bertugas di bidang ketahanan,” ujar Neta

Tidak hanya memberi efek tak rela kepada anggota TNI, pengenaan seragam loreng oleh para anggota Brimob juga disebut Neta dapat menjadi pemicu sikap arogan dalam tubuh Polri. Alasannya, karakter militer sudah sangat kental melekat di seragam loreng. Di sisi lain, korps Brimob kerap disebut sebagai ‘militer’nya polisi.

“Jika hal-hal yang berbau militer dikenakan oleh yang bukan militer, sangat mungkin dapat memunculkan karakter arogan, represif sekaligus militeristik,” kata Neta.

Dia meyakini sikap arogan yang muncul saat mengenakan seragam loreng dapat menjadi pemicu bentrok lain yang tak pernah selesai antara TNI dan Polri. “Seperti yang terjadi di Batam,” ujarnya.

Seperti diketahui, pada Jumat lalu (14/11), Sutarman telah mengumumkan penggunaan seragam loreng kembali dalam perayaan ulang tahun Korps Brimob di Markas Komando (Mako) Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. (rdk/obs/cnn indonesia)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img