SEKOLAH MERDEKA-KU (1)

“Ketika ruh ditiupkan sang Khalik dalam Rahim ibumu dan diterima,
Sebuah modal hidup; mata, mulut, hati dan fikiran dan lainnya sudah tersedia
Namun, kenapa engkau penjarakan, merdeka-kanlah ia,
Agar kamu tidak menjadi budak belian dunia ini..”

Pagi menjelang siang, seperti biasa Tan Gindu sudah duduk dibangku kerja dan sebuah meja yang khusus dipinjamkan warga desa buatnya di Posko forum desa Kelapa 4 Sui. Duri II Mempawah dimana ia bertugas. Meski sudah mulai tua, suasana tempat kerjanya seperti masih muda dulu, terlihat berantakan sekali, kertas kerja berserakan dimana-mana, ada gelas kopi bekas, asbak rokok dengan setumpuk puntung yang belum diberes-berekan juga sejak semalam, piring bekas, aqua gelas kosong, dan buku-buku bacaan yang seperti habis berkelahi diatas meja, sementara Tan Gindo seperti tak ambil pusing.

Terkesan masih jorok sekali, bahkan ia sendiri suka kesal dan marah sendiri “dasar sudah tua bangka masih suka jorok, kapan tobatnya kau Tan Gindo..hix” bergumam mengukur diri sendiri. Beberapa waktu kemudian dengan santainya Tan Gindo menekan tobol on loptop baru nya, “eng..ing enng” kemudian loptop loading hingga hidup sempurna. Terlihat Tan Gindo otak-atik loptop mencari-cari sesuatu dalam file dan folder kerjanya.

Sebuah aplikasi Winamp meluncur di depan loptop dan sudah terlihat list lagu kesukaanya “na.na.na…teng, teng..teeng.”, ternyata sebuah tembang berjudul It`My Life dari Bon-Jovi. Rupanya Tan Gindo juga pencandu music barat khususnya Bon-Jovi, kepalanya goyang kiri-kanan dan kanan, dengan sesekali memukul ringan meja kerjanya ketika reff music mulai tinggi bersemangat sambil teriakan kecil “Its.. My Life…..” iringannya suara menggema. Untung saja tidak ada orang yang memperhatikan dari luar ruang kerja, jika ya pasti akan bilang “sepertinya di siang bolong ini Tan Gindo sudah kerasukan..ha.ha.ha”.

Baca juga “Menantang Matahari” bagian 3; Cudin Sahabat Yang Unik

Terlihat wajah penuh gembira dengan senyuman lebar dibibirnya, Tan Gindo lebih terlihat berghairah hari itu. Bagi pecandu atau maniak musik atau lagu apapaun mungkin sebagian hanya sempat ngambil hiburannya, tapi tidak untuk Tan Gindo karena kemanapun dan apapun ia melangkah pasti selalu mencoba memahami apa yang sedang dinikmati dan apa yang sedang dilakukannya. Otaknya seperti seorang robot pemikir, ada-ada saja yang jadi bahasannya seperti orang kurang kerjaan. Termasuk nyanyian Bon-Jovi “It` My Life” yang artinya lebih kurang “Inilah jalan hidupku”, sambil berfikir “apapun yang terjadi, mau kemana kedepannya saya akan selalu nikmtai saja jalan hidup ini dengan ikhlas dan senang” ujar Tan Gindo penuh santai, membatin.

Tan Gindo; Perasaan terjajah
Kebiasaan berfikir dan ingin memahami banyak hal membuat gaya berkomunikasi Tan Gindo lumayan unik ketika masih aktiv dibangku sekolah, kuliah, LSM dan lain-lainnya. Tan Gindo ini sering membuat pertanyaan atau pernyataan yang malah mendominasi, kadang mendebatkan apa saja sesuka hatinya, bahkan sering buat moderator atau pembawa acara kesal dan tidak beri kesempatan pada Tan Gindo berbicara “bentar Tan Gindo berikan kesempatan dulu pada orang lain, jangan se enak kamu saja” ujar meoderator tegas.

Kalau sudah dibatasi, apapun dan bagaimapun Tan Gindo sering akhirnya diam-diam saja di sebuah forum atau kegiatan dan tak pernah bertanya lagi. Membiarkan sebuah diskusi itu mengalir tampa peduli bagaimana hasilnya, tapi Tan Gindo tetap ikuti alur diskusi sampai selesai tampa beban pikiran lain, tampa peduli kemana akhirnya hasil diskui. Sambil diam-diam curi ilmu, data dan informasi yang dibutuhkan saja dan bergumam dalam hati “pusing amat, amat saja gak pusing, suka hatilah mau apa dibicarakan, penting tak penting saya pikirkan, yang jelas saya ingin banyak dapatkan sesuatu berharga sekecil apapun informasi, pengalaman dan pengetahuan agar kehadiran di forum ini tetap bermanfaat” ujarnya mengobati diri sendiri.

Baik ketika sekolah dan perkuliahan Tan Gindo juga sering juga begitu, kalau sudah dalam sesi diskusi Tan Gindo sangat bersemangat, tapi kalau sudah sesi ceramah dan banyak mendengar Tan Gindo akhirnya sering tertidur diruang kelas. Sewaktu di SMA dulu situasinya agak sedikit parah, perilaku tidur menjadi masalah tersendiri, kebetulan Tan Gindo adalah siswa kelas IPA 2 SMUN 2 Kota Payakumbuh, dulunya dikenal dengan SMA 3 Payakumbuh; sebuah sekolah Favorit di Kota itu, hampir rata-rata yang masuk sekolah disana adalah anak-anak hebat dari SMP lain. Makanya kalau di SMA Tan Gindo sudah jarang dapat juara, lawan tandingnya berat-berat dan harus akui terima kekalahan. Namun jika dilihat nilai raport semesteran, masih cukup lumayanlah,rata-rata diatas poin 7, 8 atau 9.

Belakangan Tan Gindo menyadari semua itu juga bukan karena orang lain, ada faktor puberitas, sering ketinggalan pelajaran, ada faktor kebiasaan belajar yang jelek dan ada juga dapat perhatian yang lebih menarik dari pada belajar yang “teks book”. Maklumlah, mungkin karena pelajaran IPA memang lebih banyak begitu, konsep dan teori ini dan itu, sehingga banyak para guru yang terjebak dengan metode ceramah. Akhirnya hampir disetiap pelajaran Tan Gindo sering tertidur, kadang dalam posisi kepala diatas meja menghadap kedepan, kekiri dan kekanan, bahkan sering tertidur dalam posisi duduk, untung saja Tan Gindo bukan type orang tidur ngorokan, kalau ya pasti akan sering dibully teman-teman, ha.ha.ha

Suatu hari, dikelas yang sama kebetulan Tan Gindo punya kawan sebangku yang unik lagi, namanya Dirius; teman yang cukup asyik dan nyentrik. Dia lebih ganteng dan pintar ketimbang Tan Gindo, secara fisik dan perawakannya memang nyaris sempurna, berkulit putih bersih, mudah akrab, ramah dan suka senyum. Setiap dia ketawa sangat menarik perhatian orang lain, Dirus jelas bukan lawan yang sebanding dengan Tan Gindo untuk takaran tersebut karena Dirus sempat masuk sampul majalah Coverboy dari Jakarta. Sehingga sambil kelakar sering kami panggil Dirus “Sang Kompor-boy”  

Tan Gindo sangat merasa minder kalau dekat-dekat Dirus diluar kelas, karena dia sering didekati dan diperebutkan oeh para cewek-cewek cantik disekolah. Makanya Tan Gindo jarang bermain-main bersamanya ketika jam Istirahat dengan Dirus, apalagi kalau ada acara teman-teman disekolah Tan Gindo hanya jadi pelengkap penderita saja.”Ogah main diluar bersama dirus, saya hanya jadi kambing congek, kalau saya ikutan mana ada cowok-cewek yang mendekat, mereka hanya acuhkan saya, lebih baik saya cari teman yang lain saja” pikir Tan Gindo menghindar.

Anehnya, kebiasaan tiduran mereka dikelas adalah sama, entah karena ketularan atau memang guru wali kelas sengaja mengelompokkan demikian. “dasar tukang tidur dikelas, biar tidur bareng saja sekalian..ha.ha.ha” begitu persangkaan Tan Gindo. Dalam kelakar mereka berdua sering punya idiom yang sama kalau sudah mulai ada guru mata pelajaran banyak yang suka ceramah dan yang membosankan “bro, siap-siap ambil posisi..he.he.he” ujar Dirus sumringah. Hebatnya meskipun suka tidur dalam kelas, pelajaran sekolahnya banyak yang bisa dia kerjakan sendiri, sementara Tan Gindo terpaksa selalu mendesak Dirus untuk mengajarkannya kembali bahkan sering pergi dan tidur kerumahnya untuk membuat tugas sekolah.

Suatu Ketika, mereka sempat dipindahkan ke meja paling depan, pas di depan meja tugas guru kelas. Hari itu kelas ada pelajaran biologi, guru itu suaranya memang pelan seperti hembusan dan alunanan musik merdu bak membuai banyak orang dalam mengajar dan suka sekali berceramah namun agak sedikit mudah marah kalau tersinggung. Perawakan ibu guru tersebut berbadan pendek kecil, berkaca mata besar, tidak memakai jilbab sehingga terlihat rambut setengah ikalnya sampai diatas bahu dan sedikit kelihat unik dengan mempunyai dua gigi besar dibagian atas seperti “Miki Mouse” alias ibuk “Mancik (Tikus)” kata para siswa mengungkapkannya, serba kebetulan nama beliau juga ibu Ros dan diplesetkan dengan sebutan ibu Mos.

Seandainya ibu Mos tau dan mendengar ucapan tersebut, beliau sangat teringgung dan langsung dengan muka merah, memanggil siswa yang bersangkutan dengan memasang rasa marah, tak jarang di omelin di depan orang banyak. “tidak sopan dan hormat, kamu sudah dapat dikatakan anak durhaka…coba ingat olehmu si Malin Kundang, kena kutuk jadi batu, banyak kehilangan keberkahan ilmu kamu, tau..!” ujar buk Mos pitam. Si siswa yang punya dasar penakut tentu pucat basi, sementara kalau siswa yang dasar nakal tentu ketawa terpingkal-pingkal kalau sudah jauh dari ibu Mos.

“Ya Allah ampuni kami yang sudah tidak menghormati para guru, maafkan dan ampuni lah kesalahan-kesalahan mereka..”ungkap bathin Tan Gindo kelak. Terutama ketika Tan Gindo dapat ganjaran juga pada saat telah mencoba menjadi seorang guru di SMP Raudhatul Jannah Payakumbuh; dimana Tan Gindo pernah mengabdi. “betapa sulit menghadapi perilaku para siswa, di dalam system pendidikan formal kita saat ini, satu sisi para guru dikejar target mata pelajaran, disisi lain para siswa memiliki kemampuan dan motivasi yang sangat bervariatif, lain kepala lain isinya, lain perangainya” ujar Tan Gindo sesekali kesal.

Karena Ibu Mos suka selalu berikan pelajaran dengan berceramah, sementara pelajarannya penuh terori dan konsep-konsep berat mereka berdua akhirnya kembali tertidur pulas dikelas meski sudah berada di paling depan, padahal mereka sudah berusaha untuk tidak tidur lagi dalam kelas bahkan mencoba pasang strategi “bro, kita saling bantu ya, kalau saya sudah mulai ngantuk cubit donk, begitu juga sebaliknya; deal? “ucapkan Tan Gindo menawarkan solusi. Tampa basi-basi Dirus berucap “oke, bro siiiiip” ujarnya Dirus semangat.

Namun apa dikata, karena memang berdua dasar tukang tidur, akhirnya mereka sama-sama tertidur dan tentu tak ada yang mencoba untuk menegur untuk saling cubit. Seketika itu, akhirnya ibu guru Biologi tersebut membiarkan mereka sebentar dan menjadikan mereka seperti mainan. Beliau berhenti sejenak mengajar kemudian sengaja berdiri pas di depan meja mereka berdua, bak menunggu mangsa yang siap ditangkap ibu guru bersikap diam dan perhatikan mereka sekitar beberapa menit, tentu mata para siswa langsung melihat kepada mereka berdua dan merobah suasana kelas menjadi tegang. Karena sudah pasti akan terjadi peristiwa menarik, anehnya tak ada siswa yang tertawa karena rata-rata memeng takut pada ibu Mos tersebut (terhening)

“Doaaar….” Guru tersebut langsung memukul meja diatas mereka dan tentu mereka berdua terperanjak tegang, detak jantung Tan Gindo berdebar kenjang seperti orang yang harus dilarikan ke rumah sakit, untung saja tidak jantungan “astagfirullah… “ ujar Tan Gindo, begitu juga Dirus kaget bukan kepalang dan mereka saling memandang tegang, tapi Dirus sedikit cengengsan saja sambil berucap “waduh, tertidur lagi..” ujar Dirus sambil mengusap matanya dan tersenyum. Si guru akhirnya ceramahin mereka didepan kelas “dasar anak malas, kerjanya cuma tiduran dikelas, ngapain kalian berdua semalam, begadang ya…, sudah dipindah kedepan masih bisa tidur…” ujar guru dengan muka menakutkan.

Dalam diam dan tegang Tan Gindo menggurutu “kami ini anak baik-baik buk, patuh dan tidak biasa keluar rumah, jangan bicara sembarangan.”ujar Tan Gindo menyembunyikan kekesalnnya. Begitulah hari-hari mereka dikelas sehingga mereka dapat sebutan siswa “tukang tidur”. Padahal bukan sepenuhnya demikian, ketika ada pelajaran menarik dan bisa mencerahkan kepala mereka, mereka masih tetap bisa terjaga dan tidak pernah ketiduran, tapi kalau sudah banyak berceramah atau pelajaran yang terasa agak mudah diserap mereka bisa mengikutinya atau ada guru yang menarik cara menyampaikannya meski pelajarannya berat. Apalagi kalau ada guru yang suka melucu sambil belajar dikelas tampa mengangkan dapat dipastikan mereka berdua tetap bugar dalam belajar.

Bersambung dalam cerita berikutnya; Sekolah Merdeka-ku (2)