27 C
Padang
Kamis, Januari 20, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Kisah Istri yang Berbagi Ginjal dengan Suami
K

Kategori -
- Advertisement -

PADANG – Kesetiaan Dwi Widati Putri (42) warga Payakumbuh, Sumatera Barat sebagai istri diuji saat harus merawat suaminya Jasril Rostian (50) yang terbaring tak berdaya karena mengalami gagal ginjal selama satu tahun.

Dwi pun setiap hari harus berjuang memikirkan bagaimana agar suaminya bisa sembuh dan tidak harus melakukan cuci darah setiap tiga bulan atau enam bulan hingga harus menguras keuangan keluarganya.

Setiap malam Dwi selalu berdoa agar suaminya yang telah memberi tiga anak yang kini masih berusia belasan tahun diberi jalan keluar untuk memperoleh kesembuhan. Bahkan, dia sempat mengalami putus asa sebelum memutuskan untuk mendonorkan satu ginjalnya agar sang suami yang dicintainya bisa mengalami kesembuhan.

Tekad itu akhirnya bulat setelah sebelumnya dokter menyatakan jika ginjalnya cocok untuk didonorkan kepada sang suami.

Berbagai persiapan dilakukan oleh kedua pasangan suami-istri ini untuk operasi donor ginjal yang akan dilakukan di RSUP M Djamil Padang.

Mereka bertarung hidup-mati selama tujuh jam bersama pisau bedah, jarum infus plus oksigen, dan alat pendeteksi tubuh lainnya.

Selama operasi ada dua kelompok dokter yang menangani kedua pasien itu, tim dokter dari RSUP M Djamil Padang dan dokter dari Rumah Sakit Dokter Cipto Mangunkusomo (RSCM) Jakarta kemudian dijadikan satu tim.

Menurut Ketua Tim Dokter Transplantasi Ginjal Syaiful Azmi, ada tujuh jam operasi cangkok ginjal ini dilakukan bersama dokter dari RSUP M Djamil Padang dan RSCM Jakarta. Operasi yang dilakukan perdana di Padang ini berjalan sukses dan cukup menegangkan bagi keluarga pasien yang menunggunya.

“Keberhasilan puncak yang kami lakukan itu ketika pembuluh darah tersambung, pasien penerima ginjal langsung mengeluarkan urine, itu terjadi pada pukul 14.00 WIB. Itu artinya ginjal yang dicangkokkan ke dalam tubuh pasien sudah berfungsi dengan baik,” ujar Syaiful.

Syaiful mengakui ada memang kendala kecil yang dihadapi saat melakukan operasi, tapi tidak menghambat jalannya pencangkokan tersebut. Masalah pertama adanya pembuluh darah tambahan pada ginjal yang tidak begitu jelas pada saat rontgen. “Pembuluh darah tampak sedikit di vena-nya, tapi kecil namun itu cepat diatasi,” kata Syaiful.

Masalah kedua adalah saat pemasangan cateter double lumen (CDL), sebelumnya pernah dipasangin, sehingga ketika pemasangan kedua, sempat mengalami kemacetan. “Setelah dibantu oleh dokter anestesi akhirnya pemasangan CDL tersebut dapat dilakukan dengan baik,” ujarnya.

Meski sukses dalam operasi, bagi Syaiful, ini belum sepenuhnya. Sebab, tim bedah baru lepas tanggung jawabnya apabila pasien telah melewati dua sampai tiga hari ke depan.

“Kita masih menunggu perkembanganya sampai tiga hari ke depan, jika tidak terjadi masalah operasi dan pascanya itu baru sukses,” ucap Syaiful.

Operasi perdana ini dilakukan di RSUP M Djamil ini, kata Syaiful, ditangani dua tim dari RSCM diketuai oleh Prof. Dr Endang Susalit bersama dua dokter bedah urologi, satu dokter anastesi, satu doter radiologi dan tiga perawat (anastesis, transplantasi, dan OKA).

Sedangkan dari Tim RSUP M Djamil Padang melibatkan dua dokter nefrologi, empat tim bedah dibagi ke dalam dua, dua dokter ke pendonor dan dua dokter penerima donor ginjal, satu dokter anetesi, satu dokter radiologi, dan dua perawat OKA.

“Totalnya ada 20 dokter yang dibagi 10 dokter di OKA penerima dan 10 dokter di OKA pendonor,” katanya.

Direktur RSUP M Djamil Padang, Irayanti Mudrika, menjelaskan keberhasilan ini sangat luar biasa apalagi ini beda gen dan beda darah. “Saya susah untuk menjelaskan, ini ada keajaiban, seperti cerita power love,” katanya.

Proses operasi sangat menegangkan apalagi ini pertama dilakukan di RSUP M Djamil Padang, sebagian dokter yang tidak masuk ke ruang operasi tersebut, bisa melihat di luar kamar operasi melaluhi layar televisi. Sementara keluarga hanya bisa menunggu di lantai tiga ruang operasi saja.

Ginjal Jasril diketahui tidak berfungsi sudah setahun, kondisi itu mengharuskan bapak tiga anak itu harus keluar dari tempat dia bekerja. Selama dia menjalani perawatan ini Jasril juga harus mengeluarkan biaya dari pribadinya sendiri sampai jutaan rupiah apalagi bolak-balik ke Jakarta.

Beruntung di Padang sudah bisa cuci darah jadi di Padang saja dilakukan. Menurut Yosi Gumala (46), kakak Dwi, saat sakit suami Dwi ini tinggal di Payakumbuh, tapi karena kondisi sering melakukan cuci darah sementara tinggal di Bandar Buat Padang agar tidak jauh dari rumah sakit.

“Pengobatan operasi ini memakan waktu yang panjang, apalagi cek ginjal, sementara dana begitu besar, akhirnya kami menyarankan untuk masuk BPJS saja biar itu membantunya,” katanya.

Sumber: Okezone
- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img