Oleh: Ayu Resti Andrea Suri – Mahasiswa Biologi Universitas Andalas
Baru-baru ini masyarakat telah digencarkan oleh banyaknya vaksin yang beredar untuk mengatasi Covid-19, akan tetapi sampai sekarang vaksin tersebut belum terlaksana bahkan sampai saat ini belum ada informasi pastinya kapan vaksin tersebut benar-benar diluncurkan ke berbagai daearah Indonesia.
PT Bio Farma pun berencana mengembangkan vaksin Covid-19. Bio Farma, selaku induk holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor farmasi, akan menggandeng Tiongkok untuk mengembangkan pembuatan vaksin virus corona di dalam negeri.
Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan pihaknya masih melakukan komunikasi dengan lembaga vaksin di Tiongkok yang bernama Sinovac Biotech.”Kami juga lagi melakukan koordinasi dengan mereka, bagaimana kalau seandainya vaksin uji klinis berikutnya serta juga untuk proses pembikinan massalnya itu nanti bisa dilakukan di Bio Farma,” kata dia dalam RDP dengan Komisi VI DPR secara virtual, Selasa (21/4).
Selain itu, Bio Farma juga berencana melakukan kolaborasi dengan lembaga The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). Hingga saat ini, lembaga tersebut sedang meninjau proposal yang telah dikirimkan Bio Farma ke CEPI.
Untuk menghadirkan vaksin, perlu adanya tahap uji coba vaksin, mulai dari keamanan vaksin, imunogenisitas, sampai efikasi. Imunogenisitas adalah kemampuan vaksin memicu respons imun dari tubuh manusia, sedangkan efikasi adalah kemampuan vaksin memberikan manfaat bagi penerima imunisasi. Karena kondisi tersebut maka vaksin tidak dapat dikatahui dalam uji coba selama sebulan, setidaknya harus menunggu 6 bulan dan bahkan waktu setengah tahun masih dianggap terlalu singkat.
Selain itu, dari data vaksin yang beredar, telah ditemukan sekitar 95 sampai 100 vaksin untuk Covid-19 yang dikembangkan perusahaan dan universitas di seluruh dunia. Tetapi, dari jumlah tersebut hanya 33,4 persen atau sekitar lima atau enam vaksin yang sukses masuk clinical trial phase atau uji coba terhadap manusia.
Kemudian, LaporCovid-19 melakukan survei terhadap 2.109 orang mengenai keyakinan mereka pada vaksin Covid-19. Hasilnya, sebanyak 53% mengatakan vaksin bisa melindungi mereka dari paparan Covid-19. Akan tetapi, masih ada 41% yang ragu-ragu dan 6% yang tidak setuju.
Berbagai macam opini masyarakat pun dimuculkan, mulai dari yang setuju sampai yang tidak setuju. Masyarakat yang tidak setuju beranggapan bahwa begitu banyak vaksin yang sudah diuji cobakan tapi hasilnya tidak memuaskan hingga saat ini, menimbulkan apakah vaksin itu benar-benar nyata atau hanya sebagai pereda saja supaya tidak ada rasa khawatitir di Indonesia ini.
Terlebih lagi vaksin tidak bisa menjamin seseorang akan benar-benar pulih dari Covid-19 ini, bagaimana tidak sudah ribuan orang yang meninggal di dunia ini belum ada satupun vaksin yang berhasil mampu menyembuhkan banyak orang yang berdampak covid-19.
Sekarang penelitian vaksin Covid-19 diberbagai negara terus mengalami kemajuan begitu banyak vaksin yang dihasilkan tapi sayangnya vaksin tersebut bisa dipasarkan paling cepat pertengahan 2021 mendatang. Lantas dengan ditemukannya vaksin Covid-19, apakah wabah bisa berakhir dan manusia kembali hidup normal tanpa ada virus corona?. Inilah yang menimbulkan teka-teki hingga saat ini.
Akan tetapi, vaksinasi merupakan salah satu cara dari sekian banyak penanganan wabah. Selain mengontrol kematian, juga mencegah kecacatan dan komplikasi akibat penyakit. Pemberian vaksinasi dilakukan dalam waktu dekat. Tetapi pemerintah perlu mengkomunikasikannya dan meyakinkan serta mensosialisasikan kepada masyarakat terutama yang menolak vaksin.
Maka dari itu perlu strategi khusus dalam pengendalian Covid-19.Karena, kunci utama memutus mata rantai penyebaran virus corona adalah Gerakan 3M, memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan. Langkah itu lebih efektif mencegah penularan jika dilakukan secara kolektif (*).