25 C
Padang
Sabtu, Oktober 16, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Universitas Bung Hatta Padang Tekan MoU dengan Yayasan Madani
U

Kategori -
- Advertisement -

Padang,BeritaSumbar.Com,- Kamis 17 Desember 2020, bertempat di ruang Rektorat Universitas Bung Hatta Padang telah ditanda tangani kesepakatan atau MOU antara universitas Bung Hatta Padang dengan Yayasan Madani yang mempelopori gerakan Kembalikan Marwah Minangkabau.

Universitas Bung Hatta dalam hal ini diwakili oleh rektor bapak Profesor DR Tafdil Husni MBA sedangkan Gerakan Kembalikan Marwah Minangkabau diwakili oleh Dedi Mahardi sebagai ketua Yayasan Madani.

Dipilihnya Universitas Bung Hatta untuk kerja sama gerakan kembalikan Marwah Minangkabau ini memiliki alasan psikologis dan strategis. Dari sisi psikologis nama besar Bung Hatta yang merupakan salah seorang proklamator bangsa sampai saat ini selalu dikenang dan dipuja oleh seluruh masyarakat bangsa ini serta menjadi kebanggan masyarakat Minangkabau. Apalagi dari sisi karakter beliau yang sangat berintegritas, jujur dan sederhana, sangat layak dijadikan teladan atau panutan oleh generasi muda bangsa ini yang sekarang hanyut dalam gaya hidup HEDONIS atau bermewah-mewah.

Dari sisi strategisnya, universitas Bung Hatta sekarang juga lagi giat-giatnya melaksanakan program pendidikan karakter yang disingkat PENDIKAR. Dosen-dosen muda dan mahasiswa akan berperan menjadi agen-agen perubahan di kampus dan ditengah masyarakat, agar gerakan ini membumi dan dirasakan serta dapat jadi panutan.

Gerakan kembalikan Marwah Minangkabau merupakan bagian dari program besar Nation Character Building yang dimotori oleh Dedi Mahardi, seorang penulis buku best seller sekaligus public speaker, inspirator dan innovator.

Program Nation Character Building tersebut menurut Dedi akan dimulai dengan membangun kembali kearifan lokal dan budaya lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nusantara. Kenapa gerakan membangun karakter kebangsaan dimulai dengan lebih dahulu membangun kearifan lokal ? Karena kearifan lokal seluruh suku dan golongan tersebut sejak jaman pra kemerdekaan sudah memiliki semangat persatuan dan kebangsaan, sehingga 28 Oktober 1928 lahirlah sumpah pemuda.

Pada saat transportasi masih sangat sulit dan hubungan komunikasi masih sangat sulit atau konvensional seluruh elemen pemuda bisa membangun persatuan. Sehingga sangat mengherankan jika sulit membangun persatuan saat alat transportasi sudah mudah menjangkau ke seluruh pelosok nusantara, dan teknologi komunikasi sudah canggih. Memang sejak era reformasi, semangat persatuan dan kebangsaan tersebut mulai luntur oleh ego sektoral yang ingin menguasai kekayaan alam atau ego sebagian tokoh daerah yang ingin menjadi

penguasa. Luntur juga oleh kebebasan yang kebablasan karena lebih dari 32 tahun dikekang oleh kekuasaan diktator orde baru, sehingga hampir semua orang merasa memiliki dan berhak atas negeri ini. Akan tetapi rasa berhak dan memiliki tersebut hanya diujudkan dengan keinginan mendapatkan sesuatu tidak diujudkan dengan keinginan atau upaya untuk membangun dan berkontribusi memperbaiki.

Sehingga di beberapa daerah sempat terjadi kerusuhan antar etnis dan agama, yang melukai dan menciderai serta mengkianati perjuangan dan pengorbanan para pemuda dan pejuang yang telah mendirikan Negara kesatuan republik Indonesia.

Dimulai dari Padang provinsi sumatera barat ini, gerakan nation character building ini rencana akan dikembangkan ke seluruh pelosok nusantara, sebagai bagian program membangun kembali karakter sumber daya manusia bangsa Indonesia.

Dalam sambutannya rektor universitas Bung Hatta Prof DR Tafdil Husni MBA mengatakan lewat kerjasama ini ingin membangkitkan kembali tiga keunggulan generasi muda Minangkabau yang terkenal sangat agamais, unggul dalam bidang entrepreneur serta gudangnya para pemikir. Konon dulu di ibu kota, Sembilan dari sepuluh orang khatib yang memberi khotbah berasal dari Minangkabau, begitu juga dengan keunggulan entrepreneurnya yang mampu menandingi etnis Cina dalam hal berusaha atau berdagang. Selanjutnya dalam hal pemikir, Minangkabau dikenal gudangnya pemikir sehingga tiga dari empat orang Founding Father atau bapak bangsa ini berasal dari Minangkabau yaitu Bung Hatta, Bung Sjahrir dan Tan Malaka.

Sedangkan Dedi Mahardi sebagai penggerak gerakan kembalikan marwah Minangkabau ini mengatakan sangat berterima kasih atas kesediaan universitas Bung Hatta bekerja sama dan berkolaborasi membangun SDM Bangsa. Membangun karakter atau softskill dan hardsklill khususnya generasi muda bangsa ini sangat penting. Karena kecerdasan dan keterampilan yang tinggi tanpa didukung oleh sikap mental yang baik akan sulit membangun komunikasi dan networking serta kerja sama dengan orang lain.

Dalam tingkat kepribadian seseorang level terendahnya adalah kepatuhan terhadap hukum dan aturan lalu diatasnya ada adab dan etika, diatas adab dan etika ada budaya, kemulian dan rasa atau kepatutan. Sehingga untuk bisa kembali membangun budaya, harus melalui dua tahapan, yaitu tahap terendah sebagai pondasi membangun disiplin atau kepatuhan terhadap hukum dan aturan. Setelah kepatuhan terhadap hukum dan aturan bisa menjadi kebiasaan sehari-hari di tengah masyrakat, barulah bisa dibangun adab dan etika selanjutnya membangun kembali budaya bangsa.*

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img