31 C
Padang
Sabtu, Juli 13, 2024
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Sukardi : Seminar Budaya Tabuik, Mendorong Generasi Muda Untuk Memahami Budaya Bangsa
S

Kategori -
- Advertisement -

Pariaman – Pemko Pariaman menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada Forum Silaturrahmi Gerakan Mahasiswa Kota Pariaman (FOSGEMAP) yang berhasil menggelar seminar Budaya Tabuik Dipandang dari Berbagai Aspek, yakni ajaran Islam, sosial, budaya dan historis. Seminar ini merupakan momen penting dan berharga bagi generasi muda, karena berkaitan dengan kegiatan pesta budaya kebanggaan masyarakat Kota Pariaman.

Demikian dikatakan Asisten II Sekdako Pariaman Sukardi pada saat mewakili Walikota Pariaman pada pembukaan Seminar Budaya Tabuik, Minggu (17/11/2013) kemarin di salah satu rumah makan di kawasan By Pass Pariaman. Seminar dihadiri 150 peserta dari mahasiswa, pelajar dan umum menampilkan narasumber Awan PBNU Tuanku Bagindo Muhamma Leter, dosen IAIN Imam Bonjol Padang Ali Umar Ganti dan Dosen STIKIP Nasional/Peneliti Tabuik Amir Azli. Turut memberikan sambutan Ketua Pembina FOSGEMAP Armaidi Tanjung.

Menurut Sukardi, seminar hendaknya dijadikan sebagai pendorong bagi generasi muda untuk lebih memahami norma dan budaya bangsa. Sehingga jangan sampai hanyat terseret oleh derasnya arus budaya barat yang tidak sesuai dengan norma dan budaya kita.

“Untuk itu, persiapkan diri dengan sebaik-baiknya, disamping kita ikut mengambil peran aktif dalam perjuangan memajukan rakyat dan bangsa kita,” kata Sukardi.

Dikatakan, melalui pendidikan harus mampu menjawab berbagai persoalan kekiniaan, maupun antisipasi masa depan sebagai sebuah keniscayaannya. Itulah sebabnya mengapa dunai pendidikan itu kompleks, menantang namun sangat mulia.

“Tantangan global dan internal yang sedang dihadapi, yang mengharuskan generasi muda untuk lebih memperkuat jati diri, identitas dan karakter sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan,” tambahnya.

Buya Muhammad Leter mengungkapkan, Tabuik berasal dari tradisi kaum Syi’ah. Sewaktu tentara Inggris dan India datang ke sini abad 16. Mereka merebut Bengkulu. Belanda waktu itu menguasai Singapura dan Malaysia. Akhirnya Belanda dan Inggris tukar tanah jajahan. Inggris meninggalkan Bengkulu. Sebagian dari pasukan dari India tinggal di Pariaman yang belakangan dinamakan urang kaliang.

“Mula-mula tabuik digelar, keluar ancaman siapa saja tuanku yang pergi melihat tabuik, maka diberhentikan dari status tuankunya. Mendapat ancaman seperti tersebut, akhirnya para Tuanku sepakat bahwa Tabuik bukanlah ibadah. Melainkan tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, khususnya di Kota Pariaman,” kata Muhammad Leter.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img