Payakumbuh,BeritaSumbar.com,-Siput sawah atau keong sawah juga sering disebut siput air bernama asli Pila ampullacea. Hewan ini banyak hidup di daerah tropis. Untuk wilayah sumatera namanya juga disebut tutut Sumatera. Saat ini siput sawah mulai langka karena maraknya pemakaian pestisida dalam pengolahan pertanian.

Mengantisipasi dari kepunahan siput hisap sawah Febrianti merasa terpanggil untuk mencoba melestarikan hewan bercangkang dan tergolong hewan lunak ini.

Termotivasi dari sebuah film tontonan untuk anak “Turbo snail” Febrianti berangan bagaimana hewan berjalan ingsut ini bisa membuat upayanya berjalan kencang, kedepannya.

Sudah hampir satu bulan, Febrianti (39) mantan honorer di salah satu lembaga pemerintahan di Kota Payakumbuh ini , memutuskan diri mencoba  melestarikan dan membudidayakan siput hisap sawah (Pila Ampullacea) yang sudah terbilang langka.

Siput hisap sawah adalah bahan baku kuliner khas di Minangkabau Sumatera Barat, secara khususnya. Memang sih di beberapa lokasi yang masih alami hewan ini masih banyak ditemui, seperti di kabupaten Limapuluh Kota. Di Kota Payakumbuh ada beberapa rumah makan menyediakan gulai siput sawah ini. Dan menu yang terbilang laris.

Aksi petani yang suka membasmi keong mas di sawah dengan pestisida, yang dikhawatirkan makan anak padi mereka. Namun yang mati bukan saja keong mas, tapi siput hisap yang memiliki gizi dan kalsium tinggi ini, ikut mati. Bahkan belut dan ekosistem yang hidup di air pun ikut punah, karena pestisida tersebut.

Padahal, tidak selamanya hewan tersebut merugikan. Ekosistem siput ini bisa bermanfaat pada masanya. Contoh saja, keong dan siput ini sangat bermanfaat pemakan gulma padi, di musim siangan. Kuncinya, air sawah bisa dijaga secara baik.

Bukan hanya siput isap, sebangsa ikan puyu pun ikut mulai langka ditemui di persawahan. Itu adalah salah satu dampak dari pemakaian pestisida yang tidak bijaksana.

Sejak berhenti dari honorer pertengahan tahun 2019, Febrianti ikut suami bertani di areal pesawahan rawang Talawi kelurahan Ompang Tanah Sirah. Suami Febrianti yang hobi bertani selalu mengajak keluarga ke sawah. Di sawah tempat mereka bercocok tanam palawija itulah Febrianti kesehariannya menjumpai siput isap ini. Bahkan anak kedua anak mereka sangat hobi mencari hewan bercangkang ini.

Namun selama ini, hewan tersebut hanya dimanfaatkan untuk gulai, sebagai pendamping nasi, semata.

Usai menjalani panen di sawah, suami Febrianti tentunya kembali membersihkan rerumputan dan gulma. Rerumputan tersebut dibuang tebar di pesawahan yang berisi air semata kaki. Kerutinan Febrianti ikut bertani bersama suami, terbesitlah niat dan rencana Febrianti  untuk memungut dan mengumpulkan siput isap dengan ember. Ratusan siput isap pun berhasil Febrianti, kumpulkan. Untuk menambahkan stok, suami Febrianti beli siput isap tersebut di Pasar tradisional Sarilamak kabupaten Lima Puluh Kota.

Meski sebenarnya, keseharian kehidupan mereka berada penuh kesederhanaan. Pagi hingga sore mereka hanya bergelut di pesawahan. Paling istirahat untuk shalat dan makan. Bahkan mereka sering makan bersama di areal pertanian itu penuh kenyamanan.

“Kalau untuk dikomsumsi, ini terlalu banyak Uda,”ungkapnya Febrianti pada suaminya.

“Andai saja kita punya sebuah kolam kecil. Mungkin bisa kita pelihara dan insyaallah bisa dikembangkan. Setahun kedepannya, kan bisa kita panen. Minimal untuk penyelamatan dari racun”,ulasnya.

“Bia uda cubo tanyo Pak etek Anin, kiranya kolam ikan yang sudah tidak terawat ini, bisa kita manfaatkan. Semoga ada izin, ntar kolam ini kita lepaskan juga ikan, untuk kita pelihara,”balas Wahyu Uliadi, suami Febrianti.

Akhirnya, di sore Minggu (01/03) suami Febrianti pun bertemu Pak Etek Anin, sang pemilik kolam dan masih keluarga dengan Febrianti.

“Silahkan saja manfaatkan kolam ini, bersihkan dan isilah ikan. Tapi, hambatan yang dihadapi selama ini adalah disini banyak hama pemangsa ikan. Seperti biawak dan berang-berang,”restu dari pemilik kolam.

Usai mendapatkan izin, Febrianti pun mulai mengumpulkan siput yang didapat di sawah yang mereka garap. Sebelum dilepas, siput dites dengan air di ember, cangkang yang mengapung berarti siputnya sudah mati dan dibuang.

Setiap harinya, siput dilepas ke kolam yang masih belum dibersihkan itu. Dirinya berharap agar suaminya segera membersihkan kolam itu.

Menjawab harapan istrinya, Wahyu uliadi berjanji membersihkan kolam usai dilepaskan bibit lele. Direncanakan diawal April 2020, ini.

Tiada bosan, Febrianti mengumpulkan siput di 4 areal sawah milik warga setempat, yang mereka garap. Dikumpul untuk dilepas ke kolam. Niat tulus semata hanya untuk budidaya dan pelestarian siput isap dari kematian akibat racun. Mulai dari yang besar, hingga yang kecil dikumpulkan.

Seribuan hewan bercangkang kerucut ini sudah dilepas. Meski secara kasat mata tidak begitu tampak jelas di kolam berukuran 6×5 meter dengan air setinggi 30 CM dari dasar lunau. Air kolam agak kekuningan dan dingin karena dilindungi pepohonan.

Air hujan adalah sumber utama air kolam ini. Selain itu sirkulasi air keluar masuk juga masih belum dibuat. Namun kondisi ini tidak membuat Febrianti patah arang.

Keseharian, siput isap yang sudah dipungut, dikumpul dan dilepas dikolam yang masih belum dipersiapkan matang diberi makan dengan dedaunan dan potongan tumbuhan palawija yang ada di pesawahan yang kini mereka tanami jagung, terong dan kacang-kacangan.

Rerumputan muda yang diambil dari pesawahan dibuang ke kolam, untuk makanan harian siput isap yang mereka rawat. Karena baru mencoba, untuk pakan siput isap, mereka tidak memanfaatkan pakan modern. Hanya daun keladi dan rerumputan hijau yang ada di sawah.

Karena kekurangan ilmu, mereka pun tidak mengetahui seperti apa dan bagaimana perkembangbiakan siput isap ini. Kalau keong mas, warga bisa melihat langsung perkembangbiakannya, telur berwarna kemerahan sering terlihat dipinggir air. Baik di rerumputan maupun di ranting. Tapi bagaimana telur siput isap, mereka belum lihat.

Namun mereka berdoa dan berharap, kiranya siput isap tetap menjadi perhatian warga. Khususnya para petani yang keseharian menjumpai siput isap ini. Selain itu, mereka juga mengajak bagi warga yang keseharian mencari keong mas untuk pakan itik, kiranya bisa memilah secara bijak.

Keong mas dibawa pulang, siput isap silahkan digulai. Jangan siput isap dikasihkan untuk itik.

“Karena siput isap sudah mulai langka akibat pestisida. Jangankan siput isap, belut dan ikan puyu dan ikan pantau sudah jarang ditemui di sawah. Termasuk ikan kalang, sipasin, ikan ruwan (gabus) ikut langka. Mari kita lebih bijaksana demi ekosistem alam dan lingkungan kita juga. Simbiosis mutualisme adalah hal yang positif.  Semua ciptaan Allah pasti ada manfaatnya. Kami akan terus coba, sampai kami temukan titik akhirnya,”terang Febrianti, Rabu (01/04) kemaren, sembari mengajak.

Melihat antusias Febrianti yang ingin mencoba budidaya siput isap menuai komentar dari beberapa tokoh masyarakat. Gulai sipit sawah memang mempesona,dan ini daya tarik tersendiri bagi orang luar payakumbuh. Memakannya punya cara yg unik, diisap. Peluang juga untuk pariwisata. Kerana langka Siput sawah sudah semestinya dilestarikan.  Pemko mesti memberi perhatian, Ujar Marzul Veri.

Sementara itu Pengurus KONI kabupaten Lima Puluh Kota, Irwan Hidayat melalui akun media sosialnya sampaikan apresiasi dan doa. Dirinya bahkan menawarkan bantuan jika Febrianti butuh siput dalam jumlah banyak.
“Di kolam saya banyak siput isap, kalau butuh tambahan stok, silahkan jemput ke rumah,”tulisnya di pesan medsos

“Terima kasih Pak Irwan, kita hanya partai kecil-kecilan. Hanya untuk pelestarian semata,”tanggapnya.(*)

loading...