26 C
Padang
Jumat, Oktober 15, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Napak Tilas Nagari Koto Gadang, Tanah Leluhur Boy Rafli Amar
N

Kategori -
- Advertisement -

PADANG (4/1/2021),- Ketua Umum Gema Santri Nusa KH. Akhmad Khambali, SE, MM bersama elemen Santri, Aktivis, Jurnalis dan Tokoh Intelektual Sumatera Barat Melakukan Napak Tilas di Nagari Koto Gadang yg sdh byk Melahirkan Tokoh Nasional dan salah Satunya adalah Komjen Pol Dr.Drs.H. Boy Rafli Amar Dt Rangkayo Basa Kepala BNPT RI.

Ahli Minangkabau yang juga antropolog dan sosiolog Indonesia, Dr Mochtar Naim menemukan, di antara 2.666 orang yang berasal dari Koto Gadang pada 1967, sebanyak 467 atau 17,5% merupakan lulusan universitas.

Di antaranya, 168 orang jadi dokter, 100 orang jadi insinyur, 160 orang jadi sarjana hukum dan kira-kira 10 orang doktorandus ekonomi dan bidang-bidang ilmu kemasyarakatan lainnya. Kemudian, pada 1970, 58 orang lagi lulus universitas.

Jadi, merujuk hasil penelitian Mochtar Naim itu, dengan 525 orang lulusan universitas (tidak termasuk mereka yang bergelar sarjana muda), Koto Gadang yang punya penduduk kurang dari 3.000 tak terkalahkan barangkali oleh desa mana saja, bahkan tidak oleh masyarakat-masyarakat yang telah maju lainnya di dunia.

Tradisi intelektualitas yang sangat kuat dari nagari (desa) seluas 268 hektare yang terletak di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatera Barat itu, juga mengalir kuat dalam darah Boy Rafli Amar. Pendidikan tingkat doktoral, dituntaskannya dari Universitas Padjajaran, Bandung pada 2019 lalu selain pendidikan di kepolisian seperti Sespimti (2011) dan Lemhannas PPSA (2013).

Diketahui, Boy Rafli beribukan seorang bundo kanduang dari Nagari Koto Gadang yang bersuamikan pria dari Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sama dengan kakeknya yang juga seorang sastrawan angkatan Balai Pustaka, Aman Datuk Madjoindo, Boy Rafli Amar juga mendapat gelar adat dari Suku Koto, kaum dari sang ibunda.

Pada tanggal 29 November 2013, Boy Rafli dilewakan (diangkat/disahkan-red) sebagai kepala kaum suku Koto, Nagari Koto Gadang, dengan gelar adat, Datuak Rangkayo Basa.

Kuatnya tradisi intelektualitas dari Nagari Koto Gadang ini, juga mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Tercatat 17 tokoh yang sudah diakui pemerintah sebagai pahlawan nasional, 7 di antaranya berasal dari Kabupaten Agam. Hebatnya lagi, tiga di antaranya, merupakan keturunan dari Nagari Koto Gadang.

Para tokoh itu yakni Perdana Menteri pertama Sutan Syahrir. Kemudian, politisi legendaris yang juga Menteri Luar Negeri pertama, H Agus Salim. Tokoh pejuang hak-hak wanita yang juga wartawan wanita pertama di republik ini, Rohana Kudus, juga lahir dari negeri ini (Rohana Kudus ini merupakan kakak kandung satu ayah dengan Sutan Syahrir-red).

Tradisi bidang keilmuan ini, juga sudah mengakar kuat dari Koto Gadang ini jauh sebelum zaman sebelum kemerdekaan RI.

Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, imam mazhab Syafii di Masjidil Haram, di Makkah Almukaramah, juga seorang tokoh dunia yang juga terlahir dari rahim bundo kanduang di nagari yang berada di pinggir Kota Bukittinggi itu.

Putra-putri dari Nagari Koto Gadang ini, juga pernah jadi menteri di masa Orde Lama maupun Orde Baru. Puluhan di antaranya menjadi pejabat tinggi negara di berbagai bidang. Tercatat sembilan putra Koto Gadang pernah menjadi Duta Besar RI di berbagai belahan dunia.

Koto Gadang juga melahirkan 10 jenderal dalam ketentaraan nasional. Tak terhitung lagi mereka yang menjadi pejabat lokal, pemimpin di berbagai perusahaan terkenal, intelektual, dan seniman.

Sebut saja, pelukis Usman Effendi yang turut mendirikan Taman Ismail Marzuki, puluhan arsitek, ahli hukum, dokter, ahli-ahli kemasyarakatan juga lahir dari desa yang terletak di ujung jalan dari arah Kabupaten Agam ini.

Kegemilangan Nagari Koto Gadang di masa silam, memang tinggal jadi sebuah sejarah di masa saat ini. Tapi, bekal sejarah gemilang ini, jadi modal besar bagi sosok Komjen Pol Dr Drs Boy Rafli Amar MH gelar Datuak Rangkayo Basa memimpin korps Bhayangkara sebagai Tribata 1.

Perwira tinggi Polri yang sejak 6 Mei 2020 menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ini, punya segudang pengalaman yang mumpuni sebagai salah seorang kandidat Kapolri. Lulusan Akpol 1988 ini, berpengalaman dalam bidang reserse.

Mantan Kapoltabes Padang pada 2008 yang juga penyuka gado-gado itu, dipercaya sebagai Wakil Komandan Kontingen Garuda XIV. Boy merasakan sejumlah pengalaman mengesankan saat bertugas selama satu tahun di negara itu. Ia memiliki banyak teman dari berbagai negara dan bisa bertukar pikiran. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img