28 C
Padang
Selasa, Oktober 19, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Mimpi bertemu sang Ayah, “Sang Datuk” nya anak-anak; Ceracau soal Wanita hingga Virus Corona
M

Kategori -
- Advertisement -

Oleh : Gusri Efendi

Lama tak berjempa dengan beliau, seingat kami sejak kasus Aksi Panas 4 Maret 2004 bersama Forum Aksi Demokrasi Arus Bawah Univ. Negeri Padang yang berujung di tahannya 20 aktivis UNP oleh sang Rektor waktu itu, beliau mangkat pas seminggu sebelum usai kami dibebas tahankan tepatnya 4 Mei 2004; baru sekali beliau datang dalam mimpi panjang. Entah apa hikmahnya gerangan, hanya Allah SWT yang lebih tahu.

Sebagian orang mungkin tidak percaya dengan adanya mimpi karena dia hanya mainan hidup tapi bagi sebagian orang masih percaya akan takwilnya mimpi apalagi jika bermimpi bertemu dengan orang-orang pilihan seperti mimpi bertemu seorang Nabi dan seorang Syeikh atau bisa jadi bertemu dengan seserang yang dicintainya.

Malam itu (19/1/2021) kami lebih awal ketimbang hari-hari sebelumnya, insya Allah sebelum tidur dipastikan tidak sekali dua kali kami mengucapkan doa tidur yang telah diajarkan Rasulullah Muhammad SAW. Sambil tidurpun sempat kami sempat memutar YouTube dakwah seorang mantan Kapolda Sulsel yang viral dengan model dakwahnya yang menarik ketika masih menjabat yakni Bapak Irjen Umar.

Malam itu terasa tidur dengan pulas dan cukup nyaman di sebuah pondokan seorang bapak angkat yang Alhamdulillah juga baik dan banyak warga yang belum tahu ternyata beliau juga seorang Habaib di Kelapa 4 Sungai Kunyit Mempawah Kalimantan Barat dimana kami mengabdi saat ini.

Ditengah tidur, tiba-tiba kami berjumpa dengan ayah “Kardiman” nama beliau, saat itu terasa berada dirumah lama di Padang Tiakar Hilir Kecamatan Payakumbuh Timur Sumatera Barat dimana kami pernah lahir dan tumbuh besar sejak kecil hingga tamat SMA. Seperti biasa kami sering bantu-bantu beliau jika berada dirumah ketika beliau sibuk bekerja khususnya lagi “Menambal Ban” sebagai profesi tambahan beliau sebagai seorang “Mekanikal” alias Perbengkelan. Namun situasinya bukan saat masih kecil tapi seperti saat ini yang sudah memiliki seorang Istri dan 6 orang anak, ini hal lucu dan keanehannya dalam mimpi kali ini.

Disaat sibuk-sibuk membantu seperti biasa beliau selalu memperhatikan apa yang kami kerjakan apalagi ketika ada sebuah kesalahan, sebagai anak bukan generasi milineal kami masih takut dan berhat-hati jika bersama sang Ayah almarhum Datuknya sang anak-anak kami saat ini.

Jangankan disaat marah ketika beliau diam dan melirik saja kami sudah mulai berfikir apa gerangan kesalahan yang terjadi apalagi disaat beliau marah; dipastikan kami mencoba mengkoreksi diri, apalagi beliau bukan orang bertype ekstrover seperti saya anaknya. Beliau bertype introver dimana banyak bekerja atau bergerak ketimbang banyak bicara, boleh dikata sedikit bicara banyak bekerja.

Tiba-tiba disaat mencongkel ban memang ada sebuah kesalahan, sehingga beliau marah-marah dan ceramahi kami. “Kenapa masih ada kesalahan jika sudah berkali-kali saya ajarkan & mengerjakannya” ujar beliau. Kalau dulu masih kecil mungkin saya langsung jadi galau dan gusar bahkan sesekali penuh kesal dalam menanggapinya.

Tapi kali ini tidak demikian disaat mimpi kali ini, kami lebih tenang dan santai dalam menanggapinya serta terasa sedikit bertengkar dan menjawab “tak pa pa apa marah karena memang saya yang salah, kalau benarpun apapun yang saya kerjakan jika saya tanggapi tetap salah karena bisa jadi durhaka” ujar kami dalam mimpi dengan suasana tertegun.

Mendengar jawaban itu beliau akhirnya tersenyum, bahkan dalam situasi bekerja beliau yang akhirnya jarang berbicara banyak berbincang-bincang alias “ceracau” bahkan penuh semangat layaknya bersama orang dewasa lainnya. Alur cerita baru mulai dari saat menyindir kami soal wanita yang sempat beliau tuduh “mata buaya” tapi saya bantah dengan fakta bahwa “bukan pa”, karena seumur-umur memang kami baru sekali kami punya seorang teman wanita alias “pacar” sehingga saya jawab dengan seloroh “eeeit, setahu saya pa, saya cuma sekali punya pacar itupun bohong-bohongan tapi sejak dipisah tidak lagi mau pacaran sampai tamat kuliahan dan bahkan mengharamkan berpacaran lagi sampai memutuskan menikah dengan istri yang saat ini, tapi diakui memang banyak disukai dan dekat dengan teman-teman wanita cantik itu benar, hingga banyak yang salah paham dengan saya” sambil ketawa-ketiwi dalam mimpi bersama beliau.

Cerita berlanjut ketika beliau menanggapi aksi demo mahasiswa yang menyebabkan akhirnya saya dipenjara saat masih jadi aktivis mahasiswa, disaat ini memang lagi jaya-jayanya pegang tampuk kekuasaan sebuah Unit Kegiatan Kampus WP2SosPol-UNP namanya; sebuah unit kegiatan kampus yang memang fokus dalam memperjuangkan nasib mahasiswa dalam berbagai issue keadilan dan kepedulian sosial politik khususnya bagi para mahasiswa dan masyarakat pada umumnya sebagai seorang Sekretaris Jenderal. Beliau memang mengkritik juga habis-habisan apa yang kami lakukan saat itu padahal seharusnya sudah harus tamat kuliah namun rela mejadi aktivis “mapala” alias mahasiswa paling lama atau mahasiswa abadi, bayangka saja kami baru dapat selesaikan kuliah dalam massa 8 tahun atau lebih kurang dari tahun 2008 s/d 2016.

Hingga saat ini kami menilai beliau adalah seorang bapak yang baik dan penuh pengertian, meski sering berseberangan dengan kami sebagai sang anak ujungnya beliau masih tetap ingin berdamai dengan situasi. Beliau mangatakan “entah apa kerjaanmu bisa lama selesai kuliah kerja ini dan itu dikampus sampai hingga masuk penjara segala gegera demo kerja sia-sia alias kerja lapuak” ujarnya. Namun saya tetap jawab dengan tenang berseloroh lagi “Bapak jangan salah, sejak kecil anak bapak ini sudah ditakdirkan sebagai seorang pemimpin, bayangkan dari sejak SD menjabat sebagai seorang ketua kelas, di SMP ketua OSIS, di SMA juga demikian bahkan banyak jabatan lainnya, jadi mungkin nasib kita memang berbeda pa untuk hal ini” ujar saya tersenyum lagi bersama beliau.

Ceracau beliau yang dikenal pendiam ini kemudian kembali berlanjut, bahasa beliau memang terkenal punya sindiran keras sebagaimana idiom keluarga besar beliau yang di kenal keturunan orang “Koto” dikampung saya, sebuah marga atau suku di Minangkabau kampung halaman kami. Bicaranya sesekali tapi cukup terasa menyakitkan bagi mereka yang tidak memahami latar belakang beliau itu. Anehnya beliau berbicara tentang situasi saat ini yang sedang dilanda issue Covid-19 padahal beliau sudah belasan tahun lalu mangkat. Mana mungkin beliau tahu soal Covid-19 yang disaat beliau masih hidup tidak pernah mendengar apalagi merasakannya.

Dalam ceracau beliau itu dengan sangat lugas menyampaikan tentang keanehan dan kelucuan yang terjadi saat ini, dimana situasi negara yang terasa kacau dan akut saat ini. Terkesan dalam cerita beliau seperti sependapat dengan pemikiran kami yang saat ini berkembang sebagaimana situasi yang ada. “Covid-19 alias virus Corona saat ini memang aneh, ini seperti sebuah skenario besar yang melanda bangsa, semua kita seperti (kebo yang di cucuk hidungnya) alias menurut saja dengan situasi yang ada dan tidak berdaya untuk melawannya” ujarnya sinis. Untuk hal ini kami tidak menanggapinya tapi hanya mengeluarkan senyum lebar saja karena sudah terasa agak sependapat.

Sikap beliau dalam ceracau yang terakhirnya terasa hampir sama di saat kami dulu terjebak dengan kasus aksi demo dahulu di tahun 2014. Dimana disaat-saat genting kami terancam di Droup Out (DO) dari perkuliahan dan penjara karena menjadi pimpinan demo di Universitas Negeri Padang saat itu beliau memanggil khusus kami ke kampung halaman. Selepas diskusi tentang apa yang terjadi dikampus saat itu beliau mengatakan “jika itu yang kami perjuangkan, bismillah selamat berjuang sampai selesai bahkan sampai mati (tabujua lalu tabalintang patah)” ujarnya tegas sambil berikan sebuah rahasia kehidupan.

Meskipun dalam penilaian kami terhadap beliau sesudah beliau wafat ternyata beliaulah orang dalam keluarga yang paling tidak siap menerima keadaan hidup saat itu. Sehingga ketika wafat terlihat dalam keadaan tidak siap dan terkejut selepas mendapatkan perawatan keras disebuah rumah sakit umum di Kota Payakumbuh Sumatera Barat. Beliau pergi selamanya dengan memendam kesedihan dan kejutan tapi dengan wajah yang berseri-seri bahkan menurut cerita masyarakat di sholatkan banyak orang di sebuah masjid di Nagari Sariaklaweh Kec. Akabiluru Kab. Limapuluh Kota Sumatera Barat saat itu.

Singkat cerita, kami berpisah dengan sebuah kedamaian dan kesejukan, sehingga kami terbangun pagi-pagi dengan sebuah senyuman namun penuh debaran dan gumam “tumben sang ayah tercinta hadir dalam mimpi tidur pulas malam ini” sambil memberikan hadiah doa khusus bagi beliau “Allahumma firlahu warhamhu….” dan kemudian membaca doa bangun tidur kembali. Sontak secara tidak sadar air mata seperti berkaca-kaca, rindu pada sang ayah yang hebat dan tercinta bisa terobati kembali dalam hidup ini, sungguh kami merasa termasuk orang beruntung juga bertemu dengan sosok beliau.

Tak berfikir lama, bakat sisipan sebagai penulis akhirnya mendorong kami untuk segera membuka loptop dan mencoba untuk menulis kisah ini, tujuannya hanya sederhana sekali yakni “setidaknya ini akan menjadi kisah haru bagi anak-anak kami yang alhamdulillah dikaruniai jumlahnya lumayan, 3 pasang putra-putri dan sebentar lagi akan menjadi 7 orang jika dikarunia Allah kembali dalam waktu dekat ini”. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan magfirah serta rezeki yang halal dan toyyib bagi kami segenap keluarga dan pembaca semua, Amin ya Rabb. Melanjutkan perjuangan para pendahulu Ayah, Kakek dan Buyut kami yang mungkin terkenal idealis dan juga garang (kritis) di negeri asal kami Sariaklaweh; kampung tercinta yang tak pernah terlupakan. Wallahu`alam.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img