Sijunjuang,Berita Sumbar.Com—“Mamak di pintu hutang, kemanakan yang mambayie”, pepatah adat ini masih melekat di warga kenagarian Tanjung Gadang.Tradisi berkaul adat masih berjalan dengan baik di kenagarian Tanjung Gadang Kabupaten Sijunjung, kata Walinagari Tanjung Gadang Prima Randu HS, Minggu (10/11).

Menurut Walinagari Tanjung Gadang, di nagari ini ada 5 (lima) suku, diantaranya suku Caniago, Patopang, Melayu, Piliang dan Piliang Limo. Masing-masing suku dibebankan biaya 3 juta untuk pembelian satu ekor kerbau.

Kemudian kerbau ini di potong dan dagingnya dibagikan kepada cucu kemanakan. Maka masing-masing mereka di bebankan untuk membayar daging yang mereka terima tersebut lewat mamaknya setiap suku.

Acara berkaul adat ini dalam rangka mensyukuri hasil panen tahun ini dan mengingat jasa para leluhur yang telah berjasa dalam melahirkan nagari Tanjung Gadang dengan segala kondisi daerah seperti saat ini.

Mulai dari pemukiman masyarakat, lahan persawahan, lahan perkebunan dan yang lainnya.Acara berkaul adat ini berlangsung selama 3 hari 2 malam. Pada malam pertama penampilan qasidah rabana anak nagari. Siang harinya makan bajambah membayar kaul tahun lalu. Malam keduanya acara tradisional randai dan saluang dandut anak nagari.

Hari ketiga siangnya selawat nabi untuk minta kelancaran dan kesuksesan dalam memulai turun kesawah tahun ini, semoga Tuhan SWT selalu melimpahkan Rahmat dan KaruniaNya.Amiin. pada sore harinya dilanjutkan dengan permainan anak anak nagari berupa lomba panjat pinang kemudian dilanjutkan dg hiburan muda-mudi di malam harinya, jelas Randu.(alim)

loading...