Limapuluh Kota, BeritaSumbar.com – Kabupaten Limapuluh Kota sekarang dan masa datang membutuhkan pemimpin yang benar-benar solutif. Pemimpin demikian diperlukan agar daerah ini mampu ke luar dari kuldesak dan persoalan krusial lainnya yang tengah dihadapi masyarakat.

Eksistensi seorang pemimpin yang solutif tersebut, kata Ekonom dan Budayawan Yulfian Azrial, dalam wawancara dengan BeritaSumbar, di Limapuluh Kota, Kamis (23/1), kini diperlukan salah satunya dalam kegiatan beternak ayam petelur dan ayam pedaging. Ada wilayah di Limapuluh Kota, seperti Kecamatan Mungka, sudah populer dengan sebutan kawasan sejuta ayam. Dan, ini mesti menjadi prioritas untuk dipedulikan serta dicarikan jalan keluarnya tersebab para peternak di sana kerap dirundung kesulitan dalam mengelola peternakannya. “Dari bidang ini saja peranan pemimpin solutif telah sangat dibutuhkan peternak untuk membantu mereka menemukan jalan pemecahan agar bisa lepas dari kesulitan yang hampir permanen itu,” kata Yulfian.

Menjawab pertanyaan,Yulfian berpendapat, untuk menjadi seorang pemimpin yang solutif tentu harus paham dengan persoalan dan permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat. Atau, paling tidak, memahami satu dua bidang saja asalkan bernas dan ditangani serius. “Harus paham dari hulu hingga ke hilir. Dari urusan yang makro sampai yang mikro,” ujarnya seraya menambahkan bahwa jika sanggup memecahkan tantangan niscaya akan membuat masyarakat banyak yang makmur dan sejahtera.

Dari pengamatan, tentang kondisi para peternak ayam tadi, ditangkap kesan kalau dulu banyak peternak skala kecil yang cuma punya 1.000 hingga 5.000 ekor ayam ras. Namun, mereka tampak sudah bisa hidup layak sesuai tingkat kebutuhan kehidupan keluarga mereka.

Tapi sekarang, banyak di antara mereka sudah terlilit dengan ekonomi ribawi. Bahkan, termasuk peternak yang berskala besar sekali pun. Akhirulkalam, mereka menjadi robot pemilik modal. Nah, menurut Yulfian, hal yang begini ini tidak pernah ada solusinya dari pimpinan daerah ini.

Disebutkannya, solusi dari kondisi demikian adalah menemukan sumber permodalan yang tidak memberatkan bagi mereka serta memberikan jaminan pemasaran yang jelas dan tetap. “Termasuk memenuhi teknologi yang mungkin dibutuhkan kalangan peternak,” kata Yulfian.

Dia juga menyayangkan, pihak berkompeten yang seharus mengurus suatu persoalan, ternyata, jauh upayanya dari mengurus secara memadai. Bahkan, sebut Yulfian, ada sejumlah permasalahan yang mestinya mendapatkan perhatian tapi tidak dihiraukan sama sekali dan dipediarkan saja terlihat apa adanya.

Contohnya, tentang peta pertanian dan perkebunan yang tidak sesuai dengan rekomendasi soal kondisi kelayakan lahan untuk produksi berkualitas dan optimal.

Pembinaan pengusaha yang benar-benar pengusaha (bukan perpanjangan tangan mafia) dan tidak terjerat ekonomi riba. (SAS)

loading...