25.9 C
Padang
Kamis, Januari 27, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Laportea ( Jelatang) Tumbuhan Yang Dihindari Dan Ditakuti Saat Pendakian Dan Kegiatan Susur Hutan, Benarkah?
L

Kategori -
- Advertisement -

Tumbuhan Ini adalah tumbuhan  yang dihindari pendaki karna duri yang mengarah ke atas pada daunnya. Kalau kena kulit Gatal dan merah.Jelatang/Girardinia palmata biasa disebut juga daun jancukan, yang menyimbolkan umpatan dalam bahasan jawa timuran karna rasa gatal akibat durinya. Untuk jelatang yang berdaun menjari ini Kabanjahe di semak berumput dan hutan cemara, pada ketinggian 2000-2400 mdpl.berkilo-kilo meter berjalan dan membawa tas carrier melewati naik turunnya  Efeknya Pegal hilang dan digantikan dengan bentol-bentol kecil berwarna merah.

Tumbuhan yang disebut dengan ‘gulma beracun’ ini tersebar di sekitar jalur Setiap pendaki yang melewati Lembah Jelatang biasanya memiliki cerita tersendiri tentang ‘sengatan’ duri-duri halus dari tanaman ini.Jelatangatau latanng (Laportea) adalah genus tumbuhan yang berasal dari suku Urticaceae. Daun atau bagian lain dari tumbuhan ini dapat menimbulkan rasa gatal pada kulit apabila tersentuh. Terna ini dapat hidup tahunan ataupun perenial. Seperti banyak tanaman dari suku Urticaceae, tumbuhan ini memiliki rambut yang menyengat dan gatal. Kalau tidak hati-hati, sengatan daun jelatang akan terasa seperti terkena setrum listrik. Efek samping bila kulit bersentuhan dengan tanaman yang memiliki nama ilmiah urtica dioica ini adalah timbul bekas ruam di kulit dan durasi rasa gatal yang ditimbulkan tergantung ketahanan tubuh, bisa cepat, bisa juga berjam-jam.

Masyarakat mengenal jelatang ada tiga, berdasarkan sengatannya ada jelatang ayam (low), jelatang kambing (medium), dan jelatang kerbau (high) (Bonekpacker, 2016). Dalam buku The Plant List, jelatang dikategorikan ke dalam famili Urticaceae (The Plant List, 2020). Sinonim jelatang ayam adalah Schychowskia interrupta (L.) W. Wight dan Urtica interrupta L. Bunga biseksual. Backer melaporkan terdapat tujuh anggota Laportea (jelatang), yang ditemukan di Jawa, yaitu L. terminalis, L. decumana, L. peltata, L. sinuata, L. ardens, L.microstigma, dan L. stimulans (Backer and van den Brink, 1968).

Tanaman pertama yang perlu diwaspadai pada saat melalkukan pendakian dan kegiatan yang aktif di dalam hutan  adalah Daun Jelatang. Tumbuhan satu ini mempunyai ciri berwarna hijau yang memiliki beragam ukuran dan terdapat duri-duri pada bagian daun serta batangnya.Apabila kalian menyentuh daunnya, racun yang terkandung di dalamnya dapat menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. Kulit akan terasa gatal, kemerahan, dan bahkan bengkak. Jadi, berhati-hatilah ketika melakukan pendakian, karena Daun Jelatang tumbuh di gunung mana pun.

Saat mendaki bukit atau gunung tangan dan kaki saya sempat terkena daun Jelatang. Rasanya panas dan pedih. Apalagi kulit yang terkena daun itu basah akibat keringat. Rasa pedihnya bertambah hebat,” dulu saya tidak sengaja memegang daun dan bulu-bulu daunya itu lansung menyentuh kulitsaya dikerenakan saya adalah salah satu anak mapala pengiat dan pecinta alam dan juga banyak kegiatan ke lapangan karena saya mahasiswa biologi otoamtis dekat dengan kegiatan alam, dihutan, untuk mengamati hewan, tumbuhan, maupun mencari bahan untuk praktikum.

Ada yang berbeda dalam catatan pendakian Gunung Untuk menuju jalur hutanSemacam  Jalur setapak yang rapat dengan tanaman dan minimnya sampah manusia menandakan jalur ini jarang dilewati pendaki. Ganasnya gigitan daun jelatang harus ditaklukkan sepanjang pendakian. Menggunakan baju lengan panjang, sepatu dan kaus kaki rapat, dan gaiter (penutup kaki dan sepatu) serta penutup kepala sangat disarankan. Selain gatalnya duri daun jelatang kami juga harus berkompromi dengan gigitan pacet atau lintah, saat itu awal pendakian kami diserang hujan cukup deras.

Racun yang terdapat dalam bulu sengat Pulus ini adalah formic acid dan beberapa jenis asam lainnya. Kandungan yang mirip juga ditemukan pada sengat lebah dan sengat semut sehingga asam formic ini juga disebut asam semut. Dari literatur, asam semut ini larut dengan baik dalam air. Namun informasi ini bertolak belakang dengan informasi dari masyarakat yang apabila seseorang terkena sengatan pulus sebaiknya jangan dicuci.

Penangkal yang biasa dilakukan adalah menggosok daerah sengatan dengan tanah gembur yang kering. Biasanya tanaman jelatang ini tersentuh secara tidak sengaja, saat mencari pegangan untuk naik atau turun bukit yang curam ini. “Pas terpeleset biasanya tangan secara reflek mencari pegangan. Nah saat inilah secara tidak sengaja tanaman itu tersentuh kulit.

Daun jelatang mengandung alkaloids, glycocides, steroids/ triterpenoids (Simaremare, 2017). Melansiri dalam Deherba, daun jelatang memiliki sejumlah khasiat sebagai berikut:
(1) membantu detoksifikasi karena mengandung flavonoid;
(2) memperbaiki sirkulasi darah karena mengandung zat besi, vitamin C;
(3) memiliki kemampuan diuretik dalam memperbaiki fungsi ginjal;
(4) anti pembengkakan;
(5) memperbaiki kesehatan reproduksi wanita;
(6) antibiotik alami (Wijaya, 2020).

Hasil penelitian ekstrak daun jelatang ayam dapat menghambat pertumbuhan S. aureus, pada konsentrasi zona bening 5 x 104 yang membentuk 9 mm dengan kategori sedang. Semakin banyak konsentrasi ekstrak daun jelatang maka semakin banyak pula energi obstruksi (Safitri et al., 2018).

Siapa sangka daun jelatang, daun yang dikenal bikin gatal ini mengandung banyak khasiat. Dalam kamus KBBI online, jelatang diartikan sebagai tumbuhan yang daunnya dapat menimbulkan rasa gatal pada kulit apabila tersentuh (KBBI, 2020). Daun jelatang sangat ditakuti oleh para pendaki gunung karena dapat mengakibatkan gatal-gatal dan panas. Rasanya seperti ditusuk-tusuk, semakin digaruk semakin perih, oleh karenya disebut dengan daun penyengat (Bonekpacker, 2016).

Berdasarkan pengamatan, daun jelatang ayam memiliki ciri sebagai berikut: Daun tunggal, tepi daun serratus (bergerigi), ujung acuminatus (meruncing), susunan daun spiral, division and branching: pinnatifid, basal cordate, bentuk cordatus (jantung) atau deltoid (segitiga). Batang herba, berwarna merah/ungu/merah kehijauan, bercabang, percabangan aksiler (di ketiak daun), dan tinggi 12 cm. Akar tunggang dan bulu-bulu akar kecil. Bunga majemuk, biseksual, perbungaan berada pada lateral (aksiler), bentuk bunga panikel.

Oleh : SEPTIANI
Mahasiswa Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img