26.2 C
Padang
Saturday, November 28, 2020
Beritasumbar.com

Laportea ( Jelatang) Tumbuhan Yang Dihindari Dan Ditakuti Saat Pendakian Dan Kegiatan Susur Hutan, Benarkah?
L

Kategori -

Tumbuhan Ini adalah tumbuhan  yang dihindari pendaki karna duri yang mengarah ke atas pada daunnya. Kalau kena kulit Gatal dan merah.Jelatang/Girardinia palmata biasa disebut juga daun jancukan, yang menyimbolkan umpatan dalam bahasan jawa timuran karna rasa gatal akibat durinya. Untuk jelatang yang berdaun menjari ini Kabanjahe di semak berumput dan hutan cemara, pada ketinggian 2000-2400 mdpl.berkilo-kilo meter berjalan dan membawa tas carrier melewati naik turunnya  Efeknya Pegal hilang dan digantikan dengan bentol-bentol kecil berwarna merah.

Tumbuhan yang disebut dengan ‘gulma beracun’ ini tersebar di sekitar jalur Setiap pendaki yang melewati Lembah Jelatang biasanya memiliki cerita tersendiri tentang ‘sengatan’ duri-duri halus dari tanaman ini.Jelatangatau latanng (Laportea) adalah genus tumbuhan yang berasal dari suku Urticaceae. Daun atau bagian lain dari tumbuhan ini dapat menimbulkan rasa gatal pada kulit apabila tersentuh. Terna ini dapat hidup tahunan ataupun perenial. Seperti banyak tanaman dari suku Urticaceae, tumbuhan ini memiliki rambut yang menyengat dan gatal. Kalau tidak hati-hati, sengatan daun jelatang akan terasa seperti terkena setrum listrik. Efek samping bila kulit bersentuhan dengan tanaman yang memiliki nama ilmiah urtica dioica ini adalah timbul bekas ruam di kulit dan durasi rasa gatal yang ditimbulkan tergantung ketahanan tubuh, bisa cepat, bisa juga berjam-jam.

Masyarakat mengenal jelatang ada tiga, berdasarkan sengatannya ada jelatang ayam (low), jelatang kambing (medium), dan jelatang kerbau (high) (Bonekpacker, 2016). Dalam buku The Plant List, jelatang dikategorikan ke dalam famili Urticaceae (The Plant List, 2020). Sinonim jelatang ayam adalah Schychowskia interrupta (L.) W. Wight dan Urtica interrupta L. Bunga biseksual. Backer melaporkan terdapat tujuh anggota Laportea (jelatang), yang ditemukan di Jawa, yaitu L. terminalis, L. decumana, L. peltata, L. sinuata, L. ardens, L.microstigma, dan L. stimulans (Backer and van den Brink, 1968).

Tanaman pertama yang perlu diwaspadai pada saat melalkukan pendakian dan kegiatan yang aktif di dalam hutan  adalah Daun Jelatang. Tumbuhan satu ini mempunyai ciri berwarna hijau yang memiliki beragam ukuran dan terdapat duri-duri pada bagian daun serta batangnya.Apabila kalian menyentuh daunnya, racun yang terkandung di dalamnya dapat menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. Kulit akan terasa gatal, kemerahan, dan bahkan bengkak. Jadi, berhati-hatilah ketika melakukan pendakian, karena Daun Jelatang tumbuh di gunung mana pun.

Saat mendaki bukit atau gunung tangan dan kaki saya sempat terkena daun Jelatang. Rasanya panas dan pedih. Apalagi kulit yang terkena daun itu basah akibat keringat. Rasa pedihnya bertambah hebat,” dulu saya tidak sengaja memegang daun dan bulu-bulu daunya itu lansung menyentuh kulitsaya dikerenakan saya adalah salah satu anak mapala pengiat dan pecinta alam dan juga banyak kegiatan ke lapangan karena saya mahasiswa biologi otoamtis dekat dengan kegiatan alam, dihutan, untuk mengamati hewan, tumbuhan, maupun mencari bahan untuk praktikum.

Ada yang berbeda dalam catatan pendakian Gunung Untuk menuju jalur hutanSemacam  Jalur setapak yang rapat dengan tanaman dan minimnya sampah manusia menandakan jalur ini jarang dilewati pendaki. Ganasnya gigitan daun jelatang harus ditaklukkan sepanjang pendakian. Menggunakan baju lengan panjang, sepatu dan kaus kaki rapat, dan gaiter (penutup kaki dan sepatu) serta penutup kepala sangat disarankan. Selain gatalnya duri daun jelatang kami juga harus berkompromi dengan gigitan pacet atau lintah, saat itu awal pendakian kami diserang hujan cukup deras.

Racun yang terdapat dalam bulu sengat Pulus ini adalah formic acid dan beberapa jenis asam lainnya. Kandungan yang mirip juga ditemukan pada sengat lebah dan sengat semut sehingga asam formic ini juga disebut asam semut. Dari literatur, asam semut ini larut dengan baik dalam air. Namun informasi ini bertolak belakang dengan informasi dari masyarakat yang apabila seseorang terkena sengatan pulus sebaiknya jangan dicuci.

Penangkal yang biasa dilakukan adalah menggosok daerah sengatan dengan tanah gembur yang kering. Biasanya tanaman jelatang ini tersentuh secara tidak sengaja, saat mencari pegangan untuk naik atau turun bukit yang curam ini. “Pas terpeleset biasanya tangan secara reflek mencari pegangan. Nah saat inilah secara tidak sengaja tanaman itu tersentuh kulit.

Daun jelatang mengandung alkaloids, glycocides, steroids/ triterpenoids (Simaremare, 2017). Melansiri dalam Deherba, daun jelatang memiliki sejumlah khasiat sebagai berikut:
(1) membantu detoksifikasi karena mengandung flavonoid;
(2) memperbaiki sirkulasi darah karena mengandung zat besi, vitamin C;
(3) memiliki kemampuan diuretik dalam memperbaiki fungsi ginjal;
(4) anti pembengkakan;
(5) memperbaiki kesehatan reproduksi wanita;
(6) antibiotik alami (Wijaya, 2020).

Hasil penelitian ekstrak daun jelatang ayam dapat menghambat pertumbuhan S. aureus, pada konsentrasi zona bening 5 x 104 yang membentuk 9 mm dengan kategori sedang. Semakin banyak konsentrasi ekstrak daun jelatang maka semakin banyak pula energi obstruksi (Safitri et al., 2018).

Siapa sangka daun jelatang, daun yang dikenal bikin gatal ini mengandung banyak khasiat. Dalam kamus KBBI online, jelatang diartikan sebagai tumbuhan yang daunnya dapat menimbulkan rasa gatal pada kulit apabila tersentuh (KBBI, 2020). Daun jelatang sangat ditakuti oleh para pendaki gunung karena dapat mengakibatkan gatal-gatal dan panas. Rasanya seperti ditusuk-tusuk, semakin digaruk semakin perih, oleh karenya disebut dengan daun penyengat (Bonekpacker, 2016).

Berdasarkan pengamatan, daun jelatang ayam memiliki ciri sebagai berikut: Daun tunggal, tepi daun serratus (bergerigi), ujung acuminatus (meruncing), susunan daun spiral, division and branching: pinnatifid, basal cordate, bentuk cordatus (jantung) atau deltoid (segitiga). Batang herba, berwarna merah/ungu/merah kehijauan, bercabang, percabangan aksiler (di ketiak daun), dan tinggi 12 cm. Akar tunggang dan bulu-bulu akar kecil. Bunga majemuk, biseksual, perbungaan berada pada lateral (aksiler), bentuk bunga panikel.

Oleh : SEPTIANI
Mahasiswa Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Tenaga Pendidik Dari Payakumbuh Raih 5 Besar Penghargaan GTK PAUD

Payakumbuh,BeritaSumbar.com,- Salah satu tenaga pendidik dari Kota Payakumbuh berhasil meraih prestasi membanggakan, menjadi 5 besar dalam nominasi Kepala Sekolah Inovatif dan Inspiratif...

Laporan Kinerja DPRD Kota Payakumbuh Tahun 2020, Sampai Bentuk Pansus Tangani Covid-19

Payakumbuh ,BeritaSumbar.com (adv)- Tentunya banyak hal yang penting dan perlu diketahui oleh masyarakat terhadap apa yang telah diperbuat oleh wakil rakyat Kota...

Temukan Pungli Di Padang Panjang, Segera Lapor Ke Rumah Aspirasi

Padang Panjang, beritasumbar.com - Kepala Kejaksaan Negeri Kota Padang Panjang Dwi Indrayati, SH, MH melalui Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara, Minang...

Tak Kunjung Penuhi Panggilan Polisi, HY Dijemput Paksa

Riau,- Akhirnya Oknum ustad kondang HY Resmi ditahan oleh unit Reskrim Polsek kota Pekanbaru pada 22 November 2020 dimapolsek kota Pekanbaru...

Walikota Buka Muzakarah MUI Kota Payakumbuh

Payakumbuh ,BeritaSumbar.com,— Walikota Payakumbuh yang diwakili Staff Ahli bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Ir. Syahril buka acara Muzakarah Majelis Ulama Indonesia (MUI)...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Simalakama Pandemi: Liburan atau Stay at Home?

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih - Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Corona sudah menjadi beban dunia sejak...

Budidaya Sri Rejeki, Pilihan Bisnis Santai Namun Menjanjikan Saat Pandemi

Oleh: Iga Permata Hany & Jelita Putri Adisti Mari mengenal salah satu jenis tumbuhan yang sedang marak dibudidayakan dikalangan...

Indikasi Bunuh Diri Relawan Covid-19 China di Brasil, Ada apa dengan Pengujian Klinis Vaksin Covid-19?

Oleh : Ramadhila Sari - Penulis adalah Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Kasus infeksi Covid-19 meningkat di 80 negara sebagian...

Pandemi Covid-19 Dapat Mengancam Penurunan Populasi Hiu?

Oleh: Nada Julista. S - Mahasiswa Biologi FMIPA Unand Selama pandemi Covid-19 ini, tentunya kita dihadapkan dengan pencarian solusi...

Urgensi Vaksin Covid-19

Oleh: Ayu Resti Andrea Suri - Mahasiswa Biologi Universitas Andalas Baru-baru ini masyarakat telah digencarkan oleh banyaknya vaksin yang...

Nauclea Orientalis, Bunga Yang Mirip Virus Corona.

Oleh: Lidia Gusvita Nasra ~ Mahasiswa Biologi, Universitas Andalas, Padang Tak hanya perkembangan kasus virus corona yang dibicarakan saat...

Kontroversi Taman Nasional Komodo, Urgensi Antara Tempat Wisata atau Konservasi Komodo?

Oleh : Hafshah Mentari Zurisah ~ mahasiswi Program Studi S1 Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Siapa yang tidak tahu Taman...

DIKLATSAR Pecinta Alam Penting Bagi Pendaki Modern Maupun Pendaki Pemula

Oleh : SEPTIANI (Raff 400 Tst) ~ Mahasiswa Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Diklatsar Pecinta Alam, sebuah kata yang...

Waspada, Rumpon Asing Si Pembawa Masalah di Perairan Indonesia

Oleh : Dika Putri Sehati dan Shania Refka Fandesti ~ Mahasiswa Biologi, FMIPA, Universitas Andalas. Laut Natuna merupakan salah...

2021 Tatap Muka, Selamat Tinggal Kuliah Daring

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih ~ Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Sudah hampir 10 bulan semenjak Presiden...
- Advertisement -