30 C
Padang
Sabtu, Januari 16, 2021
Beritasumbar.com

Kontroversi Taman Nasional Komodo, Urgensi Antara Tempat Wisata atau Konservasi Komodo?
K

Oleh : Hafshah Mentari Zurisah ~ mahasiswi Program Studi S1 Biologi, FMIPA, Universitas Andalas.

Siapa yang tidak tahu Taman Nasional Komodo? Taman Nasional Komodo merupakan kawasan konservasi atau kawasan perlindungan satwa endemik komodo dan beragam satwa lainnya yang berlokasi di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur.

Saat ini, taman nasional komodo cukup popular, tidak hanya satwa, Taman Nasional komodo juga memiliki keindahan alam yang memukau yang cocok menjadi destinasi wisata dan riset studi bagi peneliti. Taman nasional ini didirikan oleh pemerintanh Indonesia pada tahun 1980 guna melindungi komodo dan satwa endemik lain pada habitat aslinya agar tidak terganggu oleh berbagai aktivitas manusia yang merugikan.  Pada tahun 1991 Taman Nasional Komodo ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena komodo termasuk reptile purba terbesar yang masih ditemukan sampai saat sekarang

Namun demikian, seperti yang kita ketahui kini kawasan konservasi yang dijaga ketat dan dilindungi dalam ancaman serius dan menjadi perbincangan publik. Pasalnya kawasan konservasi ini dirancang untuk pembangunan tempat wisata ala Jurrasic Park oleh Pemerintah. Pembangunan ini mulai heboh diperbincangkan public setelah unggahan akun @KawanBaikKomodo yang memperlihatkan tampak seekor komodo yang sedang menghadang sebuah truk yang membawa material untuk pembangunan ke Pulau Rinca tersebut.

Banyak publik berpendapat bahwa komodo juga ikut menyuarakan ketidak setujuannya untuk membangun taman wisata di habitat asli mereka. Seperti yang sama-sama kita ketahui bahwasannya jika habitat komodo yang telah dijaga dengan sedemikian rupa ini dilakukan pembangunan, maka akan berdampak pada habitat komodo yang telah terancam punah ini. Hingga muncul taggar #SAVEKOMODO yang sempat trending di twitter serta petisi yang meminta Presiden Jokowi untuk mencabut izin pembangunan oleh investor asing atau swasta di Taman Nasional Komodo. Kita dapat melihat betapa pedulinya masyarakat Indonesia terhadap konservasi komodo ini.

Tidak hanya masyarakat Indonesia, namun masyarakat dunia ikut menyuarakan kepeduliannya terhadap komodo ini, melalui artikel dan media elektronik. Salah satunya Media Australia ABC News menyinggung upaya Pemerintah Indonesia soal rencana untuk menghabiskan 70 milyar Rupiah untuk pembangunan Pulau Rinca, yang mencakup Geopark seluas 1,3 hektar dan pusat informasi seluas 4.000 meter persegi, demikian disebutkan dalam artikel berjudul “Indonesia’s Jurassic Park Inspired Tourist Attraction Worries Komodo Dragon Fans”. Tidak hanya media asal Australia, media Thailand dalam situs Bangkok Post dengan artikel berjudul “Indonesia Says ‘Jurassic Park’ Project No Threat to Komodo Dragon” artkel ini menyoroti soal Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia yang berusaha meredakan kemarahan masyarakat terhadap pembangunan proyek tersebut. “Gambar komodo, salah satu kadal terbesar didunia, menghalangi jalur kendaraan besar di pulau rinca, Indonesia, memicu luapan amarah tentang ancaman yang dirasakan terhadap habitat alami spesies yang rentan tersebut”, tulis Bangkok Post dikutip dari Liputan6.com.

Komodo memiliki habitat yang terbatas dan eksistensinya terancam punah akibat pemanasan global dan kenaikan permukaan laut. Para peneliti meminta pemerintah untuk segera memperbarui praktik konservasi komodo berdasarkan perubahan iklim. “Perubahan iklim kemungkinan besar akan menyebabkan penurunan drastic atas ketersediaan habitat bagi komodo dalam beberapa dekade” kata pimpinan studi Dr. Alice Jones dikutip dari PR Bandung Raya.com. Berdasarkan studi terbaru dari Universitas Adelaide di Australia, kepunahan komodo secara local diprediksi akan terjadi di tiga dalam lima habitat komodo. Saat ini diperkirakan tersisa 4.000 komodo di Taman Nasional Komodo. Menurut Dr. Alice Jones, Strategi konservasi komodo saat ini tidak cukup unuk mencegah penurunan spesies komodo dalam menghadapi perubahan iklim. Hal ini dikarenakan perubahan iklim akan menambah efek negaif dari populasi komodo yang sudah sedikit.  

Jika dilakukan pembangunan besar-besaran di habitat komodo yang sudah semakin rentan ini, sangat disayangkan dan tidak menutup kemungkinan bahwa spesies kadal terbesar ini akan mencapai titik kepunahan. Dengan tidak adanya tindakan konservasi yang dilakukan segera, potensi risiko kepunahan komodo akan semakin tinggi. Apalagi jika tidak dilakukan tindakan konservasi dengan segara dan dilakukan pembangunan yang pastinya akan lebih mengganggu habitat asli komodi, maka resiko kepunahan komodo akan lebih tinggi lagi.

Jadi, apakah sekarang yang perlu dilakukan pemerintah adalah pembangunan sebuah kawasan wisata yang belum tentu dapat menjaga resiko-resiko yang membahayakan spesies serta semakin merusak habitat komodo? Atau yang perlu dilakukan adalah, tindakan konservasi yang intens untuk menjaga habitat hewan endemik Indonesia komodo agar tidak semakin mendekati kepunahan dan kerusakan habitatnya?

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Taruko Menuju Kampung Wisata

Mengawali tahun 2021, Kota Payakumbuh mencoba siapkan destinasi unggulan untuk menarik wisatawan datang. Destinasi tersebut berada di Taruko, Kelurahan Ikua Koto Dibalai, Kecamatan Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh.
- Advertisement -

Momen Goro Di NDB, F-WIN Turun Tangan Bareng Nilmaizar

Momen langka terjadi di Kelurahan Nunang Daya Bangun (NDB). Wali Kota Riza Falepi dan Wakil Wali Kota Erwin Yunaz (F-Win) bersama mantan pelatih Tim Nasional Indonesia Nil Maizar turun lapangan bahu-membahu bergotong royong (Goro) bersama masyarakat setempat membersihkan pekarangan kantor lurah NDB, Jumat (08/01).

Hadapi Pemberian Vaksin, Payakumbuh Siapkan 49 Vaksinator

Payakumbuh, beritasumbar.com - Menghadap pemberian vaksin, Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat meyiapkan 49 tenaga vaksin. Petugas tersebut yang akan memberikan vaksin...
- Advertisement -

Hadapi Pemberian Vaksin, Payakumbuh Siapkan 49 Vaksinator

Payakumbuh, beritasumbar.com - Menghadap pemberian vaksin, Pemerintah Kota Payakumbuh melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat meyiapkan 49 tenaga vaksin. Petugas tersebut yang akan memberikan vaksin...

Sampah Berserakan Di Lembah Harau, Ini Komentar Penggiat Wisata

Kawasan Sarasah Bunta Harau, sudah tidak bisa digarap apapun untuk tujuan wisata natural, artinya kealamiannya mulai tercemar. Hal ini tampak dari banyaknya sampah plastik yang menumpuk di salahsatu objek Wisata di Kabupaten Limapuluh Kota itu.
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Waspadai ! Perbudakan Intelektual dibalik Akreditasi Perguruan Tiggi

Perguruan Tinggi / Kampus adalah salah satu wadah pendidikan yang sangat berperan penting untuk kemajuan peradaban bangsa dengan mencetak para intelektual yang berkualitas. Melalui keilmuan yang dimilikinya mereka akan terjun kemasyarakat untuk menyelesaikan berbagai problem yang dihadapi.

Menkes: Bantu para Tenaga Medis dengan Patuhi Protokol Kesehatan

Upaya keras pemerintah dalam menghadapi dan menangani pandemi Covid-19 di sisi hilir tidak akan lengkap bila tanpa dibarengi dengan upaya di sisi hulu atau pencegahan. Maka itu, kesadaran seluruh pihak untuk melakukan upaya proaktif mencegah penyebaran Covid-19 amat diharapkan.

Keuntungan Berbisnis Kotoran

Mungkin agak tekesan jorok istilah keuntungan berbisnis kotoran ini kita dengar. Tapi hal ini sangat membantu meningkatkan ekonomi para petani. Kotoran disini yang dimaksud adalah kotoran binatang ternak seperti sapi, kambing, kerbau atau lainnya yang banyak di pelihara masyarakat.

Warga sekitar kumpulkan donasi untuk menangkan Kampung Sarugo di API Award

Limapuluh Kota, beritasumbar.com - Guna memenangkan perkampungan wisata Kampung Saribu Gonjong (Sarugo) di Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2020 sebagai Kampung Adat Terpopuler warga...

Solok Selatan Luncurkan Seragam Daerah Bagi ASN Dan Pelajar

Padang Aro, beritasumbar.com - Pemerintah Kabupaten Solok Selatan melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) meluncurkan motif baju seragam daerah untuk Aparatur Sipil Negara (ASN)...

Universitas Bung Hatta Padang Tekan MoU dengan Yayasan Madani

Kamis 17 Desember 2020, bertempat di ruang Rektorat Universitas Bung Hatta Padang telah ditanda tangani kesepakatan atau MOU antara universitas Bung Hatta Padang dengan Yayasan Madani yang mempelopori gerakan Kembalikan Marwah Minangkabau.

Politik Dinasti dan Gerbang Meritokrasi

Bagi banyak individual, tata aturan kekerabatan tidaklah secara teoritis mengesampingkan aturan politik. Menurut definisi morgan terdahulu, kekerabatan megatur keadaan socitas dan yang kedua mengatur civitas. Atau menggunakan terminologi yang sering digunakan sekarang ini yang pertama merujuk pada struktur-struktur respositas dan kedua merujuk pada dikotomi yang jelas.

Kadis Pariwisata Payakumbuh: Ekraf Dapat Menjadi Ajang Promosi Makanan Tradisional

Payakumbuh, BeritaSumbar.com - Kehadiran Pasar ekonomi kreatif (ekraf) di Kota Payakumbuh selain dapat menjadi ajang promosi wisata juga dapat menjadi ajang promosi untuk makanan...

Simalakama Pandemi: Liburan atau Stay at Home?

Oleh : Niken Februani dan Siska Yuningsih - Mahasiswa Biologi FMIPA Universitas Andalas Corona sudah menjadi beban dunia sejak pertama kalinya China melaporkan adanya penyakit...

Budidaya Sri Rejeki, Pilihan Bisnis Santai Namun Menjanjikan Saat Pandemi

Oleh: Iga Permata Hany & Jelita Putri Adisti Mari mengenal salah satu jenis tumbuhan yang sedang marak dibudidayakan dikalangan ibu-ibu saat ini, siapa lagi kalau...
- Advertisement -