25.3 C
Padang
Saturday, September 26, 2020

Harga Cabe Anjlok Petani Menangis Dimasa Pandemi Virus Corona (Covid-19)

BeritaSumbar.com,-Tak terasa sudah masuk lima pekan berlalu “masa pandemi” wabah Corona (Covid-19). Dampaknya sangat dirasakan oleh semua sektor, mulai dari sisi kesehatan, pendidikan, hingga pertanian. Dari dunia pertanian, salah satu produsen yang menangis dengan keadaan pandemi Corona ini adalah petani cabai. Cabai yang mempunyai bahasa latin “Capsicum annum L.” ini adalah tanaman sayuran idola masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Sumatera Barat.
Siapa yang tak kenal dengan tanaman cabai. Tanaman yang identik dengan warna merah, cita rasa yang pedas, dan menjadi sayuran primadona masyarakat Kota Padang. Sampai-sampai ada istilah bagi masyarakat Kota Padang, “biarlah tak makan daging asalkan ada sambalado alias cabai”.
Menurut salah satu pedagang cabai di pasar Bandar Buat Kota Padang (Da Eri 32 tahun, kios cabai dewi) jatuhnya harga cabai saat ini disebabkan karena permintaan dari pasar induk tidak jalan. Hasil panen dari petani di ladang mentok langsung ke pasar-pasar tradisional (lokal) saja. Apalagi setelah adanya informasi warga Padang yang terdeteksi positif 44 orang terinfeksi Corona (Covid-19), sehingga masyarakat semakin takut ke luar rumah jika tidak urgent (penting sekali). Pasar traditional sangat sepi dari pembeli. itu artinya permintaan masyarakat akan cabai menurun.
Kondisi ini semakin diperparah oleh panen raya cabai di saat keadaan Pandemi Covid-19 ini. Mau atau tidak mau, cabai hasil panen tersebut harus dijual ke pasar. Namun hanya bisa dijual ke pasar tradisional (lokal) karena akses keluar-masuk barang antar daerah dibatasi saat ini, akibatnya cabai merah banjir di pasaran dengan kondisi yang sepi pembeli selama masa pandemi wabah Corona ini.
Kasihan nasib petani cabai kita, ibarat kata pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Sudah susah dalam melakukan proses budidayanya, modalnya besar, budidayanya yang butuh ketelatenan yang lebih ekstra dibandingkan tanaman sayuran lainnya, bukannya untung yang diraih, eh malah buntung alias rugi besar. Harga cabai yang biasanya bisa mencapai 40 ribu per kilogram, sudah seminggu ini sebesar Rp 18.000 per kilogram. Coba anda bayangkan berapa dibeli oleh pengumpul ke petani di lahan? Mungkin hanya 10 ribu, atau mungkin saja di bawah 10 ribu…
Kalau seperti ini terus dijamin tidak akan mau generasi milenial untuk jadi petani cabai atau petani apapun di masa akan datang
Sekarang Pertanyaan yg timbul Di benak Kita: sampai kapan nasib petani cabai kita seperti ini?? Siapa yang salah? Siapa yang bertanggung jawab dengan keadaan seperti ini?
Terlepas dari mencari kebenaran siapa yang salah, dengan keadaan seperti ini harusnya pemerintah mulai berbenah diri untuk memperbaiki sistem pertanian kita. Dimana pemerintah harus memikirkan bagaimana nasib petani di saat ada bencana alam datang melanda, seperti banjir, panen raya, musim kemarau yang panjang, hingga serangan hama dan penyakit hingga wabah Corona saat ini. Mulai dari sektor hulu hingga hilir. Tidak hanya memberikan subsidi pupuk dan alat pertanian, tetapi juga memikirkan hingga pemasaran hasil produksinya. Pemerintah harus berani menjamin harga hasil panen petani tetap stabil sehingga petani kita tidak melarat ketika bencana datang. Dengan demikian minat generasi millennial meningkat. SPS.
Oleh : Silvia Permata Sari
(Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Andalas)

- Advertisement -

BERITA PILIHAN

Dadung Hari Setyo: KUP Suta Nusantara Gagas Terbentuknya PERBUMMA Adat Nusantara

JAKARTA – Gagasan / ide terbentuknya Perkumpulan Badan Usaha Milik Masyarakat (Perbumma) Adat Nusantara, adalah buah dari hasil diskusi dengan tokoh masyarakat...

Pemko Padang Gencarkan Sosialisasi Sanksi Pelanggaran Perda AKB

PADANG--Masyarakat Kota Padang diharapkan Patuhi Protokol Pencegahan Covid-19. Karena mulai Senin ini, Sanksi kepada Pelanggar Perda AKB akan diberlakukan, Sebelum penerapan sanksi...

KPU dan Bawaslu Jalin Koordinasi Rutin Dengan Polres Pessel

Pesisir Selatan,- Ketua Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Daerah Pesisir Selatan Epaldi Bahar, Ketua Bawaslu Pessel Erman Wadison, melakukan koordinasi rutin bersama...

Ini Nomor Urut 4 Paslon Di Pilkada Limapuluh Kota

Limapuluh Kota,-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Limapuluh Kota, tetapkan Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) menjadi Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten...
- Advertisement -

Tulisan Terkait

Ajaran Minangkabau: Sumber, Pewarisan, dan Pemahamannya

Minangkabau yang hingga saat ini masih mempraktekan matrilineal dianggap etnis yang menarik untuk dicermati. Kenyataan ini juga dijadikan asumsi bagi para pengkaji...

Balitbangtan Siap Lepas Kacang Hijau Tahan Salin

Indonesia diperkirakan memiliki lahan salin seluas 0,4 juta hektare (ha) yang membentang sepanjang pantai utara dan selatan Pulau Jawa, Aceh, Nias, Sulawesi...

Jakob Oetama; Tokoh Wartawan Legendaris

Di tahun 2018 dalam Rangkaian Acara Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Andalas ketika itu, salah satu narasumber kunci Usman Kansong Direktur...

Riwayat Pemilu 1955

Pesta Demokrasi yang diadakan pada Tahun 1955 merupakan Pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10...
- Advertisement -