28 C
Padang
Minggu, Oktober 24, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

DIKLATSAR Pecinta Alam Penting Bagi Pendaki Modern Maupun Pendaki Pemula
D

- Advertisement -

Oleh : SEPTIANI (Raff 400 Tst) ~ Mahasiswa Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas.

Diklatsar Pecinta Alam, sebuah kata yang tak asing didengar. Sebuah prosesi yang harus dijalani bagi calon penerus baru organisasi penggiat alam. Suatu ritual yang seakan menjadi momok menakutkan bagi mereka. Penuh tekanan, penuh persiapan, penuh finansial, sarat akan kekerasan, dan terkadang tak sedikit jatuh korban. Saya akan telaah sejenak, apakah benar demikian? Apa yang mendasari itu semua? Dan, ada apa dibalik proses pendidikan yang selama ini tetap dipertahankan?

Awalnya saya sendiri mengikuti DIKLATSARCARCA (Pendidikan dan Latihan Dasar Cinta Alam) untuk mengikuti organisasi Mapala di FMIPA UNAND, saya sangat berniat masuk karena awalnya kalau masuk Mapala otomatis akan dekat dengan alam, sering kehutan, mendaki gunung, dan kegiatan yang seru lainya, bagiku ini sangat menarik karena saya sendiri adalah Mahasiswa Biologi dan sering melakukan Kegiatan telusur hutan untuk mencari bahan praktikum atau secara lansung mengamati tumbuhan dan hewan dihutan, dan ini sangat menguntungkan bagiku pikiranku saat itu baru kan mendaftra masuk dan mengikuti kegiatan DIKLATSARCARCA, yang ada dibenak dan fikiran kami waktu itu adalah kalau DIKLATSARCARCA itu kegiatan camping ria atau sama dengan kegiatan Pramungka waktu masih di sekolah dulu. Calon anggota atau peserta diklatsar yang mengikuti pendidikan ini berjumlah 9 orang dari setiap jurusan yang berada di FMIPA dan kami cewek semuanya. Sebelum kegiatan lapangan ini beberapa rangkaian acara telah dilaksanakan selama 8 Hari sebelumnya antara lain pendidikan dilapangan dan banyak simulasi yang dilakukan saat berada di hutan saat pendidikan. Kenapa ini penting karena disini kita diajarkan bagaimana cara managemen diri, managemen perjalanan, bagimana management logistic, bagaimana pakaian savety untuk berkegiatan dilapangan.

Selama berkegiatan dilapangan kami mulai berjalan memasuki hutan mendaki bukit, melewati lembah, menyeberang sungai dan ketika sudah mulai sore kami mulai mendirikan dan mencari tempat camp,besoknya kami belajar tentang bagaimana melakukan manajemen ekspedisi atau perjalanan yang dilakukan atu diinginkan di alam disini akan dijelaskan bagaimana perlengkapan yang akan dibawa mulai dari perlengkapan pribadi maupun perlengkapan kelompok, kemudian menentukan transportasi dengan apa kita akan berangkat ekspedisi baik jalur pulang maupun pergi, kemudian operasional kegiatan atau jadwal time pertime selama ekspedisi atau selama berkegiatan dilapangan, kemudian bagaimana menu makan selama berkegiatan tidak mungkin kita tidak makan di hutan karena kita membutuhkan energi untuk menganti energy yang terkuras banyak selama perjalanan.

Dalam berkegiatan di alam bebas tidak dapat di pungkiri kita bias saja berada pada kondisi survival, survival berasal dari kata survive yang artibya bertahan hidup, kondisi survival dapat terjadi karena kurang baiknya manajemen ekspedisi dalam suatu kegiatanmodal dasar yang harus dimiliki untuk dapat bertahan atau keluar dari kondisi survival antara lain: semangat untuk hidup, kesiapan diri, dan alat pendukung, kebutuhan dasar yang harus terpenuhi jika berada dalam kondisisurvival antara lain adalah perlindungan, makanan, apu, air dan perlengkapan pendukung lainya. Selanjutnya keahlian yang harus dimiliki saat berada dilapangan yaitu Navigasi Darat merupakan suatu teknik untuk menentukan kedudukan dan arah lintasan perjalanan dengan tepat karena tujuan dari sebuah perjalanan adalah kembali kerumah dengan selamat. Oleh karena itu ketika melakukan kegiatan di alam bebas harus mampu menguasai diri dan memanajemen diri sendiri dan yang yang paling penting yaitu menjaga etika di perjalanan dan berkegiatan di alam.

Dunia pendakian saat ini memang tengah naik daun bagi kalangan pemuda dan pemudi Indonesia mulai dari anak sekolah dasar sampai dengan Mahasiswa. Tak sedikit mereka yang nekat naik ke suatu gunung tanpa dibekali ilmu mengenai pendakian dan hanya dibekali niat nekad dan hanya mengikuti trend pendakian hanya sekedar untuk berfoto-foto dan tanpa tau dan memikirkan apa yang akan dilakukan jika ada kecelakan atau kejadian yang tidak diinginkan terjadi, dan apa yang akan dilakukan atau hal apa yang pertama dikakukan jika terjadi hal yang tidak menguntungkan itu atau kecelakan terjadi di gunung.

Sebenarnya saya sudah sangat ingin mendaki dari awal kelas 1 SMP dan tentu saja lansung dilarang oleh orang tua saya karena alasanya saya adalah anak perempuan tidak boleh naik gunung karena itu merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para laki-laki dan saya adalah anak perempuan dan sangat dilarang keras untuk mendaki, sebenarnya rumah saya tepat di kaki Gunung Merapi yaitu desa kecil Jorong Sikaladi Pariangan. Saya sering diberi tahu oleh kakek dan nenek saya kalau digunung itu tidak semudah yang dipikirkan kan karena banyak gangguan dari jin atau hantu atau penunggu gunung katanya, dan saya mulai melupakan keinginan untuk mendaki gunung, sampainya pas kuliah saya berfikiran kembali kalau masuk Mapala pasti akan dibekali dengan ilmu dan oengetahuan bagaimana cara mendaki dan savety melakukan kegiatan di alam bebas. Dikampung saya sendiri dikatakan bahwa anak perempuan tidak boleh mendaki dan hanya anak-anak yang nakal dan bodoh yang melakukan pendakian ke gunung untuk apa ke gunung, apa yang akan didapatkan disana, untung-untung selamat disana kalo terjadi kecelakaan hilang atau meninggal di gunung, truss siapa yang akan bertanggung jawab. Itulah momok buruk yang sering saya dengar ketika belum mengenal dan masuk kegiatan Mapala.

Contoh kecelakaan di atas bisa terjadi pada siapa saja. Orang yang profesional sekalipun punya resiko yang sama ketika ia menempatkan dirinya di alam bebas. Kita tidak bias memungkiri adanya kehendak Tuhan, semua sudah menjadi catatan Tuhan (takdir). Namun, yang bisa kita lakukan adalah mengurangi resiko kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut dari sisi manusianya sendiri (human error). Menjadi sorotan utama apa saja yang kita butuhkan, bukan hanya sekedar fisik dan ilmu. Memang keduanya sangat penting, namun bukan yang terpenting apabila keduanya berdiri sendiri-sendiri. Banyak hal yang terjadi selama dilapangan, kombinasi dari beberapa elemen yang kita miliki bisa menjadi solusi yang lebih baik.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pendidikan dasar tidak hanya mempersiapkan skill dalam berkegiatan di alam. Namun juga sebagai tonggak awal berkembangnya mental dan insting mereka. Akhirnya dari kombinasi itu mereka lebih percaya diri, lebih mampu mengukur kemampuannya, dan peka terhadap sekelilingnya. Selalu mempertimbangkan akal sehat dan bukan sekedar menuruti hawa nafsu. Saya sarankan jangan menjadi pendaki alay yang suka ikut-ikutan untuk pergi mendaki gunung dan hanya untuk sekedar foto-foto, membuang sampah sembarangan dan tidak menjaga etika ketika berada di gunung, saya sering melihat kalau pendaki modern pada saat sekarang ini hanya melakukan pendakian dan tidak memperhatikan keadaan lingkungan sekitar, contoh sepele nya saja mebuang sampah sembarangan di gunun dan yang lebih anehnya lagi pergi kegunung hanya untuk pergi bersenag-senag atau melakukan kegiatan yang melenceng lainya.

Bisa saya katakan bahwa, lebih banyak kecelakaan terjadi (tersesat, hilang, dsb) bukan karena lemah fisiknya, namun karena kurang rasa percaya diri, dan hilangnya fungsi seorang pemimpin. Kondisi demikian berlanjut pada kacaunya komunikasi antar anggota, ketidakpercayaan pada pemimpin, rasa takut yang hebat, hingga hilangnya semangat untuk mempertahankan hidup. Di sini pendidikan dasar memiliki peranan yang amat penting sebelum seseorang melangkahkan kakinya di Alam bebas. Suatu ketika saya mendengar berita musibah pada suatu pendakian gunung, bahkan yang saat ini sedang beredar ada diantara mereka yang menjadi korban dan meninggal ketika sedang mendaki dan banyak kecelakan, hilang atau ddisesatkan di hutan. Ini mengajarkan kepada kita bahwa pentingnya etika ketika berada di hutan atau di gunung karena kita berdampingan dengan makhlukh yang lain yang berada disana. Disini diklatsar memiliki peranan yang amat penting sebelum seseorang melangkahkan kakinya di Alam bebas.

Saya sangat setuju bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, pengalaman dapat lebih menunjukkan identitas dan karakter kita.Banyak teman saya yang tidak memiliki background Pecinta Alam atau belum pernah melalui prosesi diksar, namun bisa lebih mengkondisikan dirinya dalam berbagai situasi, menghasilkan solusi yang brilliant, dan bisa diandalkan. Dan banyak juga teman saya yang memiliki background PA hanya sebatas kebanggaan akan lencana yang ia pakai, namun tidak bisa menolong dirinya dan bahkan menjadi benalu bagi yang lain. Diklatsar adalah pintu pertama dalam sebuah kurikulum namun outputnya tergantung dari isi dan orangnya masing-masing. Namun jika kita tidak tahu apa-apa, mengikuti seluruh kurikulum dengan baik adalah jalan yang lebih aman. Dan semoga makin sedikit kasus kecelakaan yang terjadi digunung maupun alam bebas lainya karena sedikitnya ilmu yang diketahui mengenai pendakian / pecinta alam.

Organisasi Mapala pun sudah banyak yang berkontribusi untuk Indonesia, salah satunya adalah Mahitala Unpar dengan pendakian tujuh atap tiang langit tertinggi dunia yang sudah mengharumkan Indonesia di kancah dunia. Bahkan ketika ada bencana alam di Indonesia Mapala atau Pencinta alam adalah garda terdepan untuk setiap kegiatan bencana, Sistem pendidikan dasarnya yang harus di ubah, bukan Mapalanya yang malah dibubarkan.Tetaplah solid saudara” ku, persaudaraan tercipta bukan hanya karena hubungan darah, melainkan juga karena tetesan keringat dan air mata.

Ingat satu hal dimanapun berada di gunung, hutan atau sedang melakukan kegiatan di alam dan selalululah mengamalkan semboyan ” JANGAN MEMBUNUH SESUATU KECUALI WAKTU, JANGAN MENGAMBIL SESUATU KECUALI GAMBAR, JANGAN MENINGGALKAN SESUATU KECUALI JEJAK, karena ini merukan etika dasar ketika berada di alam bebas karena kita hanya sebagi tamu, dan bersikapkaplah sewajarnya sebagaimana kita bertamu kerumah orang lain.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img