31 C
Padang
Selasa, Desember 7, 2021
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Corona: Antara Kebingungan dan Keimanan
C

Kategori -
- Advertisement -

Kemampuan seseorang memahami fenomena baru didasari oleh pengetahuan sebelumnya. Sebagai contoh, pasangan muda sering kebingungan menghadapi anaknya yang demam. Kehadiran orang tua atau mertua mampu membuat mereka tenang. Hal ini karena orang tua mereka sudah berpengalaman mengahadapi anak atau bayi yang demam. Setelah beberapa kali menghadapi anak demam, pasangan muda tersebut lebih tenang jika anaknya demam. Lalu, apakah hal serupa juga terjadi kepada kita dalam memahami Corona dan COVID-19?
Virus Wuhan, itu istilah yang lebih awal diketahui. Nama tersebut didasari dari asal munculnya virus ini. Layar televisi dan layar handphone kemudian dipenuhi berita tentang virus Wuhan. Video orang berjatuhan di Wuhan dan makin meningkatnya jumlah orang terinfeksi sering dibagikan di media sosial. Ada yang kurang simpati, bahkan ada yang tertawa. Realitas ini didekatkan dengan bagaimana sikap pemerintah Cina terhadap Muslim Uighur semenjak tahun 2019. Ini azab.
Bulan Januari seorang ahli mikrobiologi, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr. R. Fera Ibrahim, MSc, SpMK(K), PhD memberi pernyataan bahwa virus akan mudah mati bila terkena panas (lihat Liputan6.com; 30/01). Pernyataan ini diberikan berdasarkan pengetahuan beliau terhadap wabah sebelumnya, yaitu SARS. Berdasarkan pengalaman SARS, Indonesia dengan ikhlim tropisnya bukanlah daerah yang perlu dikhawatirkan.
Beberapa pejabat negara berusaha menenangkan masyarakat. Mahfud MD dengan Tik Tok ubur-ubur sampai kepada jawaban-jawaban ringan para juru bicara. Hal ini tentu didasari dari pengetahuan mereka sebelumnya. Apalagi mereka bukanlah ahli virus atau ahli mikrobiologi. Sangat dimaklumi jika jawaban dan sikap mereka tidak tepat.
13 April lalu, Kota Padang dihebohkan oleh satu keluarga yang dinyatakan positif Covid-19 (lihat haluan.com; 12/04). Mereka adalah keluarga dokter. Anggapan umum tentu mereka lebih tahu dan lebih peduli tentang kesehatan. Ternyata tidak, mereka melakukan perjalanan ke Jakarta pada masa wabah sudah meluas. Mereka pasti tahu bahwa Jakarta adalah pusat wabah. Namun kita harus paham bahwa dokter itu macam-macam keahliannya, dan yang pasti keluarga itu bukanlah ahli virus atau ahli mikrobiologi.
Di beberapa kanal YouTube, ustadz-ustadz pun berkoar-koar tentang Corona. Cuplikan buku Iqro’ pun ikut menyebar. Potongan itu menjadi cemoohan terhadap krisis kepemimpinan di negara kita. Pernyataan beberapa ahli agama dan ustadz dirasa agak meremehkan wabah. Wabah yang mereka tidak paham. Penguikut-pengikut setia mereka tentu mengikuti. Ustadz akhir zaman menghapus satu video-nya yang telah menyebar. Video yang keliru menyikapi wabah corona. Satu hal yang penting dipahami bahwa mereka hanya ahli agama tapi bukan ahli wabah.
Corona yang dulunya hanya dilihat dari layar kaca, sekarang tiba di tempat kita. Beberapa orang yang kita kenal telah kena corona. Ada yang meninggal dan ada yang masih dirawat. Corona semakin dekat. Ternyata dia tidak hanya di layar kaca. Dia nyata. Apakah pengetahuan kita cukup untuk memahaminya? Itu yang menjadi masalah utama dalam menanggulangi wabah. Beberapa contoh di atas, baik ahli mikrobiologi, dokter, politisi, dan ahli agama, menunjukan bahwa mereka juga tidak begitu paham tentang corona pada awalnya. Ketidak-pahaman itulah yang berdampak kepada mutu penanganan. Lalu apa keahlian kita?
Wabah itu ada ilmunya. Epidemiologi adalah ilmu tentang wabah. EPIDEMI menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti penyakit menular yang berjangkit dengan cepat di daerah yang luas dan menimbulkan banyak korban, misalnya penyakit yang tidak secara tetap berjangkit di daerah itu. Sedangkan PANDEMIK adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas. Perlu diingat bahwa kata kuncinya adalah ‘berjangkit.’ Berjangkit itu artinya berpindah, menular, mengenai yang lain, dan merambat (lihat KBBI daring). Jadi menurut kelimuannya, langkah pertama yang dilakukan adalah pencegahan penyebaran virus. Pecegahan penyebaran itu adalah KARANTINA.
Arti KARANTINA secara praktis telah diterangkan oleh hadis nabi.  Orang yang berada di daerah wabah tidak boleh keluar dari daerah tersebut; orang yang tidak berada di daerah wabah, tidak boleh masuk ke daerah terjadinya wabah. Hadis ini sangat jelas. Jika dipadankan dengan kejadian awal corona maka prakteknya adalah orang yang berada di Wuhan tidak boleh keluar Wuhan; orang yang dari daerah lain tidak boleh masuk ke Wuhan. Tapi pantangan sudah dilanggar. Virus corona sudah sampai ke kampung kita. Lalu apakah hadis itu tidak fungsional lagi. Masih! Kita perlu karantina diri seperti orang bersuluk (suluak). Karantina diri di dalam rumah.
Satu-satunya usaha yang paling baik adalah menghindarkan diri dari penularan. Kita tidak tahu apa benar tidak ada yang kena virus di kampung kita. Kita tidak tahu ke mana saja orang kampuang kita telah melansir. Kita juga tidak tahu dan tidak dapat mengira jika kita keluar rumah akan tertular atau tidak. Yang kita tahu hanyalah, kita tidak tertular jika tidak keluar.
Corona itu tidak nampak. Gejala yang ditimbulkan rata-rata lima sampai tujuh hari setelah terkena Corona. Dalam lima atau tujuh hari itu tentu kita sudah bercengkrama dengan anak, bini dan mertua. Jika kita demam karena Corona, mertua kita juga tidak paham Corona. Jangankan mertua, dokter umum saja akan pasrah.
Memang keimanan dan intelektualitas kita diuji pada waktu bersamaan. Mari berdiam di rumah. Kewajiban kita adalah menjaga diri kita dan keluarga kita dari ancaman bahaya. Meninggalkan manfaat untuk menghindari mudorat adalah lebih utama. Memelihara jiwa dan menjaga nyawa adalah perintah agama. Semakin baik pemahaman kita tentang wabah dan corona maka semakin baik kita dalam mengambil keputusan. Keputusan kita itulah yang akan menunjukkan kualitas intelektual dan kualitas iman kita.[]
 
Oleh Nofel Nofiadri
Mahasiswa Deakin University Australia
 

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img