25.3 C
Padang
Sabtu, Mei 21, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Bumerang Microplastic Di Masa Pandemi
B

Selama masa pandemi virus Corona sejumlah negara mengalami permasalahan dalam mengolah sampah plastik, hal ini disebabkan terjadinya peningkatan yang signifikat pada penggunan produk dengan bahan plastik pada masa pandemi ini.

- Advertisement -

Oleh : Annisa Vitri, Arin Simatupang
(Mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas, Padang)

Seperti yang kita ketahui dunia sedang dilanda bencana wabah Covid-19 atau disebut juga sebagai corona virus yang berasal dari Wuhan, China. Persebarannya yang begitu cepat menyebabkan negara-negara di dunia termasuk Indonesia mengalami masalah yang sama. Hal tersebut telah berdampak terhadap segala aspek yang ada di dunia, mulai dari aspek ekonomi, politik, sosial, pendidikan, pariwisata hingga berdampak pada meningkatnya permasalahan lingkungan.

Selama masa pandemi virus Corona sejumlah negara mengalami permasalahan dalam mengolah sampah plastik, hal ini disebabkan terjadinya peningkatan yang signifikat pada penggunan produk dengan bahan plastik pada masa pandemi ini. Di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyebutkan bahwa sampah plastik domestik meningkat dari 1-5 menjadi 5-10 gram per hari per individu karena pandemi Covid-19. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat kenaikan produksi limbah medis saat ini sebanyak 290 ton limbah medis per hari.

Peningkatan ini sejalan dengan berubahnya cara hidup masyarakat dimana saat ini masyarakat harus menjalankan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang menyebabkan masyarakat bergantung pada layanan pengiriman makanan dan belanja online ditengan pandemi. Dibidang kesehatan penggunaan produk dengan bahan plastic juga tidak dapat dihindari, alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan lateks masker dan baju hazmat yang kebanyakan terbuat dari bahan plastic banyak dibutuhkan oleh bidang kesehatan selama bekerja, plastik seperti bungkus camilan, pemesanan lauk pauk yang pasti memelurkan plastik untuk membungkus, dan hanya sekali pakai serta limbah barang rumah tangga.

Umumnya sampah limbah rumah dari masyarakat akan di buang ke tempat pembuangan akhir (TPA), namun faktanya hanya 10% dapat didaur ulang selebihnya akan dibiarkan begitu saja juga banyak yang membuang sampah ke aliran sungai dan akan berdampak pada pencemaran lingkungan perairan terutama lautan karena sampah pada akhirnya akan bermuara ke laut, plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat terurai bahkan memerlukan waktu hingga ratusan tahun lamanya. Kasus yang sedang banyak dibicarakan ialah mikroplastik yang ditemukan di permukaan perairaan, sedimen dan pada ikan. Kebanyakan masyarakat belum mengetahui apa itu mikroplastik sehingga bahaya akan mikroplastik ini terhadap manusia belum dipahami.

Mikroplastik merupakan partikel plastik yang memiliki diameter kurang dari 5 milimeter hingga 330 mikron. Mikroplastik berasal dari pecahan-pecahan sampah plastik yang sangat kecil yang masuk kedalam resapan tanah dan terbawa aliran air hingga bermuara ke laut, di lautan mikroplastik dapat merusak terumbu karang, meracuni biota laut karena mengandung racun karsinogenik jika masuk kedalam rantai makanan dan pada akhirnya berdampak kepada kesehataan manusia. Proses rantai makanan ini dapat dimulai dari mikroplastik dimakan oleh plankton kemudian plankton dimakan ikan kecil lalu dimakan ikan lainnya seperti tuna akhirnya tuna dikonsumsi oleh manusia dengan zat mikroplastik yang masih ada didalam ikan tuna dan efek jangka panjang yang dapat menimbulkan penyakit berbahaya seperti kanker.

Banyak masyarakat menggunakan cara membakar sampah plastik untuk mengurangi timbunan sampah di lingkungan sekitar cara ini memang efektif untuk menghilangkan sampah. Namun jika dibakar ini patut untuk diwaspadai, secara kimiawi bahan yang dibakar di udara terbuka dengan temperatur 150°C dimana pada proses ini bahan-bahan plastik yang dibakar tersebut akan mengalami penguraian oksidasi tidak sempurna dengan menghasilkan produk senyawa karbon monoksida (CO) dalam sebuah penelitian CO yang dihirup oleh manusia lebih tinggi pengikatannya oleh hemoglobin dari eritrosit dalam darah dibandingkan dengan karbon dioksida (CO2) sehingga jika banyak terhirup dapat mengakibatkan keracunan hingga berakibat pada kematian. Beberapa jenis plastik itu jika terbakar akan menghasilkan senyawa dioksin yang bersifat karsinogenik (penyebab sakit kanker), penyebab gangguan syaraf dan kesehatan reproduksi. Oleh karena itu sangat tidak dianjurkan membakar sampah plastik. Edukasi pencegahan perilaku ini sangat penting untuk dilakukan. Terdapat pula cara lain yang biasa digunakan masyarakat dalam menangani masalah ini dengan cara mengubur didalam tanah cara ini lebih banyak menimbulkan penguraian plastik menjadi lebih kecil kemudian masuk kedalam resapan tanah hingga masuk ke perairan menjadi dalam bentuk mikroplastik .

Walaupun pengurangan sampah plastik dengan cara dibakar maupun ditimbun tetap tidak akan mengurangi secara keseluruhan dampak atau efek dari plastik tersebut, sehingga cara lain untuk mengurangi timbulnya sampah plastik ini dengan kesadaran penuh mengurangi penggunaan plastik secara efisien, mengganti kantong plastik dengan bahan ramah lingkungn seperti sainbag yang terbuat dari singkong, kemudian selalu memegang prinsip R3 (Reduse, Reuse dan Recycle), penyuluhan kepada masyarakat tidak kala penting untuk mengurangi penambahan sampah plastik tersebut.

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img