25.9 C
Padang
Rabu, Januari 26, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Bappeda Sumbar Gelar FGD di Payakumbuh Timur untuk Susun Profil Daerah Irigasi Batang Agam
B

- Advertisement -

Payakumbuh, BeritaSumbar – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Barat menggelar fokus grup diskusi (FGD) dalam rangka penyusunan profil sosial ekonomi teknik kelembagaan (PSETK) daerah Irigasi Batang Agam dan Batang Tabik.

Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Barat melalui Kepala Bidang Ekonomi dan PW, Winni S mengatakan kegiatan yanh dilangsungkan di Aula Kantor Camat Payakumbuh Timur pada Kamis (19/11) hingga Jumat (20/11) dalam rangka menyusun PSETK yang merupakan salah satu instrumen penting dalam perencanaan program maupun kebijakan pengelolaan irigasi dan pertanian di tingkat daerah irigasi (DI) maupun kota/kabupaten, provinsi dan nasional.

“FGD ini merupakan kelanjutan dari tahapan penyusunan PSETK daerah irigasi yang sudah dimulai dari sosialisasi dan penelusuran jaringan irigasi dengan melibatkan petani pemakai air (P3A), gabungan P3A, penjaga pintu air, juru pengairan, penyuluh pertanian, tenaga pendamping masyarakat (TPM), pemerintah kelurahan dan kecamatan, pengamat, serta OPD terkait,” kata dia, Kamis (19/11).

Ia mengatakan peserta FGD diharapkan mengkoreksi dan menyempurnakan dokumen awal PSETK daerah irigasi yang telah disusun dan akan dipresentasikan oleh Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) setempat.

“Silahkan bapak dan ibu mengoreksi dokumen PSETK yang disusun Pak Okto dan rekan-rekan TPM Daerah Irigasi Batang Agam. Masukan akan sangat berarti demi kesempurnaan dokumen tersebut yang akan menjadi acuan dalam menetapkan perencanaan pembangunan irigasi dan pertanian kita kedepan,” sebutnya.

Sementara koordinator TPM Daerah Irigasi Batang Agam Oktorinda Ekasa Putra dalam paparannya mengungkap sejumlah persoalan penting menyangkut daerah irigasi Batang Agam yang dibagi kedalam kelompok fisik, sosial, ekonomi, teknik dan kelembagaan.

“Irigasi Batang Agam ini sudah dibangun sejak zaman kolonial belanda, tepatnya tahun 1926 dan bertahan sampai sekarang. Mengingat umur yang sudah begitu tua, maka wajar jika secara fisik banyak kekuranan seperti kebocoran dibeberapa titik. Ini kita temukan saat penelusuran jaringan irigasi beberapa waktu lalu dan sudah kami masukan dalam usulan perbaikan ke pemerintah provinsi,” ujarnya.

Okto juga mengungkapkan bahwa disamping usia, prilaku sosial warga sekitar daerah irigasi juga mempengaruhi tingkat kerusakan jaringan.

“Perilaku membuang sampah ke salurah irigasi, pencurian air irigasi dengan cara melobangi saluran untuk kepentingan pribadi tanpa berkoordinasi dengan petugas juga punya andil besar yang menyebabkan saluran irigasi kita rusak dan bobol. Hal itu jelas mempengaruhi jumlah debit air dan luas jangkauan jaringan,” bebernya.

Sementara Ketua P3A Sepakat Kelurahan Koto Panjang Payobasung Zulkifli tidak menampik data diatas. Pihaknya justru meminta ketegasan aparat untuk menindak warga yang membuang sampah serta mencuri air dari saluran irigasi tanpa izin tersebut.

“Aksi pencurian air tidak bisa dibenarkan, hal itu merusak kesepakatan yang sudah lama dijalankan berupa waktu pembagian air dimasing-masing kelurahan. Jika ada yang tetap mencuri air diluar jatah waktu mereka, kami berharap hal ini ditertibkan atau ditindak,” ujar Zulkifli.

Adapun pengurus Kelompok Tani Koto Saiyo Kelurahan Payobasung Pendi mengatakan bahwa kebocoran saluran irigasi juga disebabkan mutu coran disaluran irigasi kurang memadai sehingga bisa dirusak oleh kepiting yang biasa bersarang disaluran tersebut.

“Jika pengecoran dibuat lebih kuat dan sesuai takaran, maka kepiting tidak bisa melobangi atau merusak saluran itu,” jelas Pendi.

Menanggapi berbagai kelurahan tersebut, Camat Payakumbuh Timur Irwan Suwandi mengatakan untuk menjaga saluran irigasi perlu peran aktif seluruh pihak, terutama petani dan warga penerima manfaat irigasi. Mereka diminta turut mengawasi, menjaga dan memelihara saluran tersebut dari setiap tindakan yang berpotensi merusak jaringan.

“Saya kira masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam pengawasan dan pemeliharaan saluran. Jika memungkinkan, pekerjaan perbaikan atau pengecoran saluran irigasi yang bocor diserahkan kepada pengurus P3A atau kelompok tani setempat, agar kualitas coran bisa dijaga,” usul Camat Irwan.

Dikatakan, usul tersebut bisa direalisasikan mengingat aturan pengadaan barang dan jasa membolehkan pelibatan kelompok masyarakat melakukan pekerjaan melalui swakelola.

“Kalau sudah di swakelolakan ke mereka memperbaiki saluran irigasi untuk sawah mereka sendiri, mudah-mudahan mutu pekerjaan bisa terjaga dan lebih baik sebagaimana disinggung Saudara Pendi tadi,” pungkas Camat Irwan.

Selain Bappeda Provinsi dan TPM Daerah Irigasi Batang Agam, turut bertindak selaku pemapar dalam FGD tersebut sejumlah perwakilan instansi atau lembaga diantaranya Konsultan Institutional Strengtherning In Agriculture and Irrigation (ISAI) Regional 2 Suresman Riad, Dinas PSDA Provinsi Mawardi, dan Dinas Pertanian Provinsi Afnelli. (rel)

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img