25.9 C
Padang
Kamis, Januari 27, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

Backdrop Pemimpin Birokrasi
B

Kategori -
- Advertisement -

Cerita Berseri:

Seribu Asa untuk Bahagia

Text Box: Tayang Live/Ulang
Dalam Talkshow Radio
BINKAI
(Bincang-Bincang Inklusif Keluarga dan Anak Indonesia
#genreradio107.9fmpadang
#b’du_radiopangkalpinang
#RRIpekanbaru
#B_InRadio BkkbNofficial
#RadioPemdaDeliSerdang

Seri 8/1000

“Backdrop Pemimpin Birokrasi”

Oleh : H. Nofrijal, MA   Penyuluh Keluarga Berencana Ahli Utama/IV-e

Kali ini, kita berbincang tentang “backdrop” atau latar belakang penampilan seorang pemimpin birokrasi yang merujuk kepada kepemimpinan lembaga/organisasi pemerintah dengan bercirikan formalisasi yang tinggi dalam setiap proses, prosedur dan struktur pengambilan keputusan dan memberikan pelayanan. Kepemimpinan dimaksud adalah “bureaucracy leadership”, yang menggerakan semangat, membangun dinamika dan harapan publik. Kepemimpinan birokrasi adalah satu kecendrungan gaya dan tindakan yang  mengarahkan, melaksanakan dan mengontrol visi, misi dan kebijakan birokrasi dalam satu unit kerja kepemerintahan, bisa kementerian, lembaga non kementerian dan kewilayahan di provinsi dan kabupaten/kota dengan menempatkan tokoh sentral atau pemimpin yang dipilih, diseleksi maupun ditetapkan.

Menjadi pemimpin merupakan proses panjang yang tersambung dimulai dari “rekruitmen; capacity building; up grading; eskalasi kebutuhan, termasuk dalam menentukan pucuk pimpinan secara politis”. Pimpinan kepemerintahan dalam era demokratisasi mengkombinasikan antara kepentingan politik, teknokrasi dan birokrasi. Ruang lingkup “menjadi pemimpin birokrasi” yang memperkenalkan visi, misi autokrasi dan pemberdayaan. Kunci dari kepemimpinan Birokrasi adalah “problem solving dan mengantarkan organisasi ke tujuan akhir” melalui pencapaian target kuantitatif dan kualitatif yang tertuang dalam “grand design” lembaga/organisasi.

Back-drop kepemimpinan birokrasi, memiliki korelasi yang kuat dengan type kepemimpinan dengan karakter dasar “stereotype”, pengalaman panjang dan uji alami yang mejadi “shaping & framing”gaya kepemimpinan yang dianut. Tidak dapat dipungkiri “asa pemimpin”, sangat    dipengaruhi    iklim inner dan outer sosok seorang pemimpin, dipengaruhi oleh visi & misi personil untuk menggapai “prestasi dan legacy”

Terdapat 10 gaya atau“classic stylish leadership” yang pernah dikenal luas, sebutlah (1) Gaya kepemimpinan demokratis (partisipasi dalam pengambilan keputusan); (2) Gaya kepemimpinan “laissez faire” (pemberian kebebasan kepada bawahan dalam pengampilan keputusan dan tindakan); (3) Gaya Kepemimpinan otokratis (pengendali penuh untuk menentukan kebijakan, prosedur dan keputusan); (4) Kepemimpinan karismatik (kemampuan menggunakan keistimewaan, kelebihan kepribadian, perasaan dan tingkah laku yang dengan mudah mempengaruhi orang lain); (5) Kepemimpinan paternalistic (melindungi, kebapakan dan terkesan maha tahu dan maha benar); (7) Gaya Kepemimpinan milliteristik (menggunakan system komando, keras dan otoriter, menghendaki kepatuhan mutlak dan menyenangi formalitas); (8) Kepemimpinan yang “transformative” (mengajak dan memberdayakan bawahan, staf/bawahan dalam mewujudkan visi dan misi); (9) Kepemimpinan yang otoriter (memusatkan keputusan, kebijakan dari diri sendiri secara penuh); dan (10) Pemimpin transaksional (pemimpin yang focus kepada transaksi interpersonal dengan bawahan). Gaya kepemimpinan tidak berdiri sendiri “solo style”, akan tetapi menjadi bercampur antara satu gaya dengan gaya yang lain, walaupun tetap memiliki “colour” tersediri.

Locus kepemimpinan berkembang dan sangat variatif, mulai dari kepemimpinan paling mikro di tatanan “kepala keluarga”; kepemimpinan bidang bisnis dan usaha; kepemimpinan social kemasyarakatan; kepemimpinan politik; kepemimpinan religious group; kepemimpinan anak muda; kepemimpinan bebasis gender; kepemimpinan olahraga, minat dan kesenangan; serta kepemimpinan birokrasi, yang memiliki karakteristik berbeda dengan lokus kepemimpian lainnya.

Ada fenomena baru dalam suasana kepemimpinan birokrasi yang disadari atau tidak mempengaruhi suasana organisasi, membangun harapan dan gerak organisasi yang dipimpin. Terdapat 3 kategori kepemimpinan yang punya sifat atau warna khusus dalam menggerakan organisasi birokrasi  (1) Pemimpin Birokrat; (2) Pemimpin Teknokrat; dan (3) Pemimpin Politik

Memperkenalkan fenomena, dinamika dan kebutuhan baru dalam kepemimpinan kepemerintahan yang dikenal dengan kepemimpinan birokratif didasarkan atas  pengamatan dan pengalaman penulis yang sudah bekerja di birokrasi selama 37 tahun; mulai dari staf (worker); junior-middle-senior manager; dan leader. Mari kita lihat “kekuatan dan kelemahan” kepemimpinan berdasarkan latar belakangnya.

1/3 Birokrat

Ada sebutan yang terkenal saat ini adalah “birokrat senior, birokrat berpengalaman dan birokrat yang sudah malang-melintang” sebutan itu menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang berasal dari pengalaman birokrat menjadi salah satu sumber pasokan pemimpin yang diperhitungkan dan “growth”. Karir birokrat biasanya dimulai dari “seorang worker (pekerja); kemudian naik menjadi seorang manager (pengelola) baik sebagai junior, middle dan senior manager; puncak karir birokrat adalah “top leader” yang mengepalai atau memimpin unit setingkat Jabatan Tinggi Madya dan Utama. Secara berjenjang sesuai dengan struktur kepangkatan atau golongan di sistem Aparatur Sipil Negara (ASN) dimulai dari staf, eselon V/IV, Eselon III, Eselon II dan Eselon I, serta menjadi pimpinan lembaga setingkat kementrian/badan penyelenggara Negara dan pembangunan.

Kepemimpinan yang berasal dari latar belakang birokrat memiliki keunggulan dan kelemahan yang dibawa dari pengalaman panjang: (1) Paham dan patuh terhadap regulasi, menghindar dari konflik benturan peraturan dan perundang-undangan dan memulai sesuatu dengan Standar Operational Prochedure, (2) Lebih rileks menghadapi masalah dan tantangan, menyelesaikan masalah secara runtut dan sistimatis serta memiliki rujukan hukum dan peraturan yang berlaku, (3) Detail dalam bekerja, mempunyai sistem kerja checklist dalam melaksanakan tugas-tugas dan menyelenggarakan kegiatan, biasanya hal-hal kecil masuk ke dalam “instrument control”, (4). Memiliki waktu tertentu dengan staf, baik melalui pertemuan rutin maupun agenda yang disusun, per-minggu, perbulan dan setiap event yang ada, (5) Punya tingkat pendelegasian kerja yang kuat kepada bawahan dan dapat menjadikan bawahan menjadi mitra kerja yang saling memberi dan menerima, (6) Dokumenter yang baik untuk menunjukan bahwa seorang pemimpin birokrat harus memberi contoh dalam penyimpanan catatan dan dokumen sebagai prilaku mentaati hukum dan perundang-undangan, (7) Kuat dalam mendengar dan piawai dalam mencari solusi masalah pegawai, karena gaya paternalistik yang dianut.

2/3 Teknokrat

Pemimpin teknokrat menghandalkan latar belakang akademik yang kuat, biasanya pemimpin ini berasal dari perguruan tinggi atau lembaga kajian, inovasi dan kreatifitas. Banyak lembaga atau badan mendapat pasokan pemimpin teknokrat dari kalangan kampus. Sifat-sifat bawaan pemimpin teknokrat antara lain (1) Lebih menyukai bekerja sendirian dengan hanya mendapat bantuan segilintir orang, kemandirian kerja dan karya lebih menonjol daripada produk kerja bersama, (2) Memulai babak pertama bekerja dengan menggunakan data dan referensi keilmuan, (3) Tahan dan mampu berdiskusi dengan waktu yang lebih lama, serta menghasilkan solusi pemecahan masalah yang lebih scientific, (4) Terkadang terkesan lama dalam mengambil keputusan karena banyak pertimbangan teoritif dan rujukan, (5) Mudah dihubungi dan berdiskusi tanpa melihat tempat dan lingkungan, (6) Tidak memahami secara komprehensif program operasional dan teknis lainnya, sehingga terkesan lambat dalam mengambil tindakan “following up”. (7) Karakter seorang pembaca terlihat dari setting ruangan kerja yang dipenuhi dengan buku, kitab dan hasil-hasil penelitian, (8) Menyukai kerja yang didasarkan atas teknologi data dan informasi.

3/3 Politisi

Semenjak kelahiran demokrasi dengan system Presidential, sebagai wujud nyata dari hasil reformasi berbangsa, bernegara dan kepemerintahan, maka kepemimpinan birokrasi dengan latar belakang partai politik semakin tumbuh dan terus berkembang. Pada level kepemimpinan tertentu tidak bisa dipungkiri terjadi “bargaining atau transactional leadership”, pengisian jabatan tinggi birokrasi, mulai dari menteri dan kepala lembaga sebagai Pejabat Tinggi Utama, sampai ke tingkat Jabatan Tinggi Pratama (JPT) serta dalam Pratik kepemimpinan birokrasi di kepemerintahan daerah provinsi dan kab/kota, terjadi pratik balas jasa atau titipan.  Sepanjang memenuhi kriteria, standart dan melewati assessment kepemimpinan, selama itu pula dapat diterima oleh masyarakat.

Warna perpolitikan, suka atau tidak suka, jelas atau kurang jelas, telah mewarnai kepemimpinan birokrasi. Untung pemimpin yang dibesarkan dari atmosphere politik, memiliki kelengkapan pengalaman kepemimpinan yang lain seperti akademisi, teknokrat, pelaku bisni, tentara dan kepolisian negara, kepemimpinan social religious dan sebagainya.

Karakteristik yang menonjol dari kepemimpinan dengan backdrop politik adalah (1) Memiliki jaringan kerja dan teman yang luas, (2) Punya ambisi terhadap perubahan dan perbaikan yang lebih cepat, (3) Memiliki keinginan untuk mentrasformasikan pengalaman sukses, (4) Punya selera humor yang menyegarkan, (5) Terkesan tidak/kurang disiplin waktu dan lebih fokus pada penyelesaian masalah, (5) Lebih inovativ dalam merancang ulang budaya kerja sesuai dengan pengalaman, (6). Kurang peka dengan janji dan harapan yang diberikan, ini tidak berarti pemimpin yang lupa janji, akan tetapi lemah dalam mewujudkan harapan individu dan bahkan kelompok. (7). Senang membangun kerjasama dan kemitraan yang saling menguntungkan satu sama lain, (8) Dalam gaya kepemimpinan, terlihat enggan untuk mendelegasikan tugas secara merata, memilih orang-orang tertentu yang diperankan baik secara fungsional maupun cross-fungsional.

Menjadi bawahan adalah “given”, menjadi pemimpin adalah “grace” dan bisa mewujudkan style kepemimpinannya berdasarkan “backdrop” yang ada. Backdrop kepemimpinan biroraksi bukanlah penampilan 1 atau 2 dimensi akan tetapi seorang pemimpin birokrasi bisa saja hadir dengan 3 dimensi sekaligus dengan banyak variasi gaya, akan tetapi pasti ada “colour” yang dominan dari praktik sehari-hari kepemimpinan birokrasi. Selamat berbahagia menjadi pemimpin dan lebih bahagia menjadi staf ketika mendapat pemimpin yang mentrasformasikan banyak hal.

Text Box: Lengkapilah Artikel ini dengan kritik, saran dan penguatan. 
Semoga bermanfaat
Terimakasih

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img