27 C
Padang
Selasa, Agustus 9, 2022
spot_imgspot_img
Beritasumbar.com

49 Tahun Kota Payakumbuh
4

Kategori -
- Advertisement -

KOTA PAYAKUMBUH BERULANG TAHUN KE-49 “CATUR NAWA”

Ciloteh Tanpa Suara-“ Apa komentar Pak Saiful terhadap HUT Kota Payakumbuh ke-49 yang puncaknya akan digelar pada Rapat Paripurna DPRD Kota Payakumbuh 17 Desember ?” Tanya Amril kepada saya.

“ Angka 49 dalam bahasa sansekerta disebutkan Catur Nawa. Angka (4) Empat atau Catur berarti kreatifitas, kecerdasan dan kemenangan. Sementara angka (9) Sembilan atau Nawa berarti semangat dan simbol kemuliaan serta keindahan.

Nah saya menganologikan , bahwa pada HUT ke-49 Kota Payakumbuh kali masyarakat sangat bergembira dengan berbagai kegiatan dan atraksi untuk memeriahkannya selama lebih sepekan ini. Dan berbagai kreatifitas dengan semangat keindahan ditampilkan selama sepekan ini. Berbagai prestasi kemenangan telah ditorehkan dibawah kepemimpinan Riza Falepi yang berpasangan dengan Erwin Yunas.

Di bawah kepemimpinan Walikota Riza Falepi. Kota Payakumbuh telah mengembangkan program kota pintar (smart city) pengembangan teknologi informasi komunikasi untuk menunjang e-government yang lebih baik dan terstruktur. e-goverment mampu memberikan informasi serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat dalam urusan bisnis, apalagi dalam penataan administrasi pemerintahan.

Tujuannya demi perbaikan hidup masyarakat. Kita menunggu keajaiban memasuki tahun 2020 di ulang tahunnya Kota Payakumbuh ke 50 atau dalam bahasa sansekerta disebut Panca Ilang. Atau pungkasan terakhir. Apakah ditahun 2020 bapak Walikotanya Riza Falepi yang gambarnya tersenyum penuh arti telah banyak kita lihat dimana mana mampu menjadikan dirinya sebagai Panca (kekuatan diri) untuk menata akhir dari sebuah jabatannya maju menjadi Gubernur. Yang penting saya nantinya akan membuat Buku Limapuluh Tahun Kota Payakumbuh “ Ujar saya.

“ Membuat buku sejarah Limapuluh Tahun Kota Payakumbuh. Dan bagaimana cerita sejarah Kota Payakumbuh ini Pak “Tanya Amril , Kemudian saya jawab “ Sejarahnya begini, gagasan untuk menjadikan Payakumbuh menjadi daerah otonom dan berhak mengatur diri sendiri, telah ada sejak tahun 1950. Dimana pada waktu itu Bupati Limo Puluah Koto adalah H. Darwis Dt.Toemangguang dengan Sekdanya H. Amril ZA yang didukung oleh tokoh masyarakat Koto Nan Gadang Noer Basyar Dt. Mamangun nan Hitam dan tokoh masyarakat Koto Nan Ampek Biran Marajo Alam Melalui sidang Pleno II DPRD tanggal 27 April sampai 2 Mai 1950 secara prinsip menyetujui pembentukan Kota kecil Payakumbuh.

Wacana ini dilanjutkan dengan melaksanakan pertemuan antara tokoh masyarakat Kewedanaan Payakumbuh dengan Pemerintah pada tanggal 28 Juli 1950 bertempat di gedung Perguruan Mahad Islamy. Dan juga pada konperensi kerja Pamong Praja pada tanggal 26 Agustus 1950 serta pada tanggal 16 september 1950 bertempat di sekolah Muhammadiyah Bunian , masyarakat sangat mendukung keinginan ini. Namun karena adanya perubahan politik yakni Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) hasil kesepakatan Meja Bundar di Denhag yang mana Sumatera Barat dengan sebagaian daerah lainnya di Sumatera tetap bagian Republik Indonesia. Maka keinginan ini belum terealisasi “ Ujar saya.

Amril menyela“ terus kapan terbentuknya Kota Payakumbuh ?” Tanya Amril Singkat
“ Kemudian semangat ini bangkit kembali, dengan keluarnya UU No.8 tahun 1956, tanggal 24 Februari tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Kecil, dimana pada pasal 1 huruf e berbunyi : Payakumbuh dengan nama Kota Kecil Payakumbuh dengan batas-batasnya ditetapkan dengan peraturan Menteri.

Undang-undang ini disambut hangat oleh masyarakat yang ada dikewedanaan Payakumbuh sehingga atas prakarsa Wali Nagari Koto Nan Ampek diadakanlah musyawarah Nagari yang bertempat di Mahad Islamy pada tanggal 24 Maret 1956. Dan dilanjutkan dengan pertemuan dengan pemerintah pada tanggal 8 November 1956.

Untuk memenuhi pembuatan Peraturan Menteri dalam hal batas Kota Kecil, maka konsep Peraturan yang menurut konsep yang akan dijadikan Kota Kecil Payakumbuh ialah sekitar daerah yang padat penduduknya dan rapat perumahannya, yaitu kesebelah barat sampai ke Tonggak Bendera, kesebelah timur sampai ke Simpang Benteng, sebelah utara sampai ke Bunian dan sebelah selatan sampai ke Labuah Basilang. Makanya dibuatlah tugu Batas Kota Kecil di tongak bendera seperti yang sering kita lihat di depan Telkom.

Dalam perkembangannya, dalam catatan C.Israr yang saya baca masalah batas adalah turut menimbulkan kesulitan untuk merealisisr Kodya Payakumbuh. Masyarakat Koto Nan Gadang dan Koto Nan Ampek tidak mau menerima konsep batas-batas tersebut karena dapat memotong dan membelah-belah kedua nagari dan akan memecah kesatuan hukum adat nagaridan konsep luas Kota Payakumbuh perlu di musawarahkan kembali , dan konsep tersebut tidak berkembang karena terkendala dengan adanya PRRI” ulas saya.
“ Tetapi 17 Desember ini Kota Payakumbuh akan berulang tahun ke-49 Pak Saiful, apa pula peraturan yang mendasarinya” Tanya Amril kembali.

“ setelah daerah aman, dan pada tahun 1970 rencana untuk menjadikan Payakumbuh menjadi Kota kembali menghangat sehingga lahirlah Keputusan Gubernur nomor 95/GSB/1970 dan ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Bupati Nomor KPTS 16/BLK/1970 tanggal 1 Agutus 1970 tentang pembentukan Panitia Realisasi Kotamadya Payakumbuh dengan Ketuanya C.Israr

Panitia bekerja keras untuk mempersiapkan data-data dari nagari yang akan bergabung menjadi Kota Madya Payakumbuh. Dengan berorientasi ke masa depan yang jauh, mengingat kecerdesan masyarakat dan perkembangan penduduk, serta pertalian adat dan kebudayaan, sosial ekonomi, maka tujuh kenagarian menyatakan sikap siap bergabung dengan daerah otonom Kota Payakumbuh, yaitu : kenagarian Koto nan Empat, Koto nan Gadang, Lampasi, Tiakar, Payobasuang, Air Tabik dan Limbukan Aur Kuniang.

Berkat kerja keras dari seluruh panitia dengan didukung oleh berbagai unsur yang ada di Payakumbuh maka lahirlah suatu keputusan bersama tentang 7 (tujuh) nagari dan 73 jorong yang bergabung dan disatukan dalam Kotamadya Payakumbuh. Ketujuh nagari tersebut adalah: Koto Nan Gadang ( 25 jorong), Koto Nan Ampek (22 jorong ), Lampasi (3 jorong), Tiakar (3 jorong), Payobasuang (3 jorong), Aia Tabik( 8 jorong), dan Limbukan (9 jorong ). Luas wilayah yang termasuk wilayah Kotamadya Payakumbuh 7.908 ha, atau ± 80 km2.
Untuk menentukan batas yang akan dituangkan oleh Menteri Dalam negeri dalam Peraturan Pemerintah, maka pada tanggal 12 Nopember 1970 , diadakan musyawarah yang dihadiri oleh Pemda Lima Puluh Kota, Panitia realisasi, Camat Payakumbuh, camat Harau, Camat Luhak dan 15 orang wali nagari dari nagari sepadan.

Dalam musyawarah inilah ditentukan batas-batas Kotamadya Payakumbuh sesuai dengan barih balabeh masing-masing nagari yang diwarisi semanjak dahulu, yaitu ;
Batas jalan jurusan Piladang/ Bukit Tinggi, ialah di Aie Taganang atau Kuciang Dapek (cucian mobil sekarang ).
Batas jalan jurusan Tanjung Pati/ Pekan Baru, ialah Banda Air di Padang Gantiang
Batas jalan jurusan Suliki, ialah sebelah utara jembatan Lampasi
Batas jalan jurusan Taram, ialah tungua jua, sebelah timur jembatan batang Sikali.
Batas jurusan Batang Tabik, ialah kincie Cino atau disebut juga Kubu Kacang.
Batas jalan arah ke Situjuah, ialah di Limau Kapeh.

Dan pada hari itu juga dilanjutkan pemancangan tapal batas Kotamadya Payakumbuh yang disaksikan oleh masyarakat dan tokoh masyarakat dari nagari yang sepadan.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 8/1970 tanggal 17 Desember 1970 yang menetapkan Kota Payakumbuh sebagai Kotamadya Payakumbuh. Sedangkan radiogram Mendagri nomor SDP.9/6/181 menegaskan, hari peresmian Kota Payakumbuh dilaksanakan pada tanggal 17 Desember1970. Dengan di ketua oleh A.Syahdin ( Bupati Limapuluh Kota) maka peresmian dilaksanakan oleh Amir Machmud, yang diiringi dengan dentuman meriam pusako 7 (tujuh) kali yang diikuti dengan pemukulan beduk, maka ditetapkanlah tanggal 17 Desember sebagai “ Hari jadi Kotamadya Payakumbuh” yang terus diperingati setiap tahunnya.” Ujar saya.

“ Oo begitu cerita sejarah Kota Payakumbuh telah otonom dengan pemerintahannya sendiri sejak Desember 1970 “ ujar Amril
“Kota Payakumbuh sampai sekarang telah dipimpin oleh 12 orang Walikota dan 4 orang wakil walikota, yaitu : Kota Payakumbuh dalam usia yang ke-48 tahun, sampai sekarang telah dipimpin oleh 8 orang Walikota dan 1 orang wakil walikota, yaitu :
1) Drs. Soetan Oesman (1970-1978),
2)Drs. Masri, MS (1978-1983),
3) Drs. H.Muzahar Muchtar ( 1983-1988),
4) Drs. H. Muchtiar Muchtar (1988-1993),
5) Drs H. Fahmy Rasyad ,SH (1993-1998),
6) Darlis Ilyas,SH (1998- 2001),
7) Plh.Drs. Yulrizal Baharin (2001-2002),
8) Pasangan Walikota/Wakil Walikotra Josrizal Zain,SE. MM / Ir. Benny Muchtar, MM ( 23 September 2002- 2007 ) dan pada bulan Mei 2005) Ir. Benny Muchtar, MM mengundurkan diri sebagai wakil walikota dan atas pengunduran diri tersebut otomatis Josrizal Zain,SE,MM melanjut memimpin Kota Payakumbuh dengan sendirian.
9). Sejak 22 September 2007 sd 23 September 2012 dipimpin oleh pasangan walikota dan wakil wali kota Josrizal Zain,SE,MM /AKBP Drs.Syamsul Bahri Dt. Bandaro Putiah.
10).Dan mulai Tanggal 23 September 2012 sd 26 Oktober 2016 Kota Payakumbuh dipimpin oleh Riza Falepi Datuak Rajo Ka Ampek Suku, berpasangan dengan Suwandel Muchtar.
11. Plt.Walikota sejak 26 Oktober 2016.
12. melalui Pemilu serentah 15 Februari 2017 Riza Falepi berpasangan dengan Erwin Yunas kembali dipercaya menjadi Walikota Payakumbuh yang dilantik Gubernur Sumbar 23 September 2017.” Jawab saya.

Petitih adat mengatakan “ rumpuik nan sahalai, tanah nan sabingkah, alah gangam bauntuak “ tetapi” malu alun dapek dibagi” antara Pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota dengan Kota Payakumbuh, karena menurut barih balabeh Kota Payakumbuh dengan nagari Kota Nan Gadang dan Koto Nan Ampek merupakan”Sandi” dari Luak Limapuluah dengan dikenal dengan Gonjong Limo ( Hulu, Luak, Lareh,Ranah ,dan Sandi). Rumah Adat Gonjong Limo merupakan bagian gambar dari lambang Kota Payakumbuh yang melambangkan “Adat basandi Syarak dan kegiatan ekonomi “ .

Untuk semaraknya HUT Kota Payakumbuh ke-49 ini , marilah kita lagukan kembali:
Payakumbuh sungguh indah permai
Gonjong Lima dipinggirnya balai
Kota indah penduduknya ramai
Pemudanya banyak rukun dan damai
Melalui lagu, kita harapkan masyarakatnya hidup rukun dan damai,
Melalui lagu, kita harapkan ada kedamaian di hati legislatif dan eksekutif
Melalui lagu, kita doakan Payakumbuh menjadi Kota Pendidikan
Melalui lagu,… banyak yang kita harapkan!
Yang jelas dihatiku, tetap damai
Saiful Guci – 17 Desember 2019

- Advertisement -
- Advertisement -

BERITA PILIHAN

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Tulisan Terkait

- Advertisement -spot_img