Oleh: Atman Ahdiat

“Alam Sumatera Barat diciptakan saat Tuhan tersenyum….” demikian seloroh mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar memuji keelokan alam Minangkabau.

Apa yang disampaikan Sapta, tokoh di balik Tour de Singkarak, event campuran pariwisata dan olahraga balap sepeda yang sudah menjadi ikon wisata Sumbar itu tidaklah berlebihan.

Objek wisata alam jenis apa pun tersedia di Sumatera Barat, mulai dari pantai indah yang berpasir putih, pantai berombak tinggi untuk olahraga surfing, pegunungan dengan udara segar, perbukitan, air terjun, gua, danau, sungai, ngarai dan tentu saja wisata kuliner.

Mereka yang suka surfing, silahkan datang ke Mentawai yang disebut-sebut sebagai salah satu lokasi terbaik dunia.

Mau olahraga terbang layang. silahkan coba sensasi bukit Langkisau di Painan (Pesisir Selatan) atau Puncak Lawang di Kabupaten Agam sambil menikmati pesona Danau Maninjau dari ketinggian.

Wisata bahari juga menyediakan lokasi terbaik untuk snorkeling atau diving di Pulau Cubadak yang berlokasi di kawasan wisata terpadu Mandeh di Pesisir Selatan.

Tidak ketinggalan tentu saja wisata kuliner, dengan pilihan yang sangat beragam. Selain rendang daging sapi yang dinobatkan oleh CNN sebagai makanan paling enak di dunia, wisatawan bisa menikmati gulai itik lado hijau, aneka samba lado, tambunsu (usus), gajeboh (jeroan), ampiah dadiah (sejenis yogurt), minuman khas kawa daun dan teh telur, serta masih banyak lagi.

Tapi dengan segudang potensi alam, kuliner dan sejarah, mengapa pariwisata Sumbar sulit berkembang dan jauh tertinggal dengan daerah lain seperti Bali, Yogyakarta, Bandung, Batam dan Sumatera Utara?

Pada 10 Febuari 1989, saat jaya-jayanya Orde Baru, sosiolog Muchtar Naim menyampaikan makalah dengan topik “Kendala Sosial Budaya dalam Pengembangan Pariwisata di Sumatera Barat” di Bukittinggi.

Kendala sosial-budaya, menurut Muchtar, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, yang untuk itu perlu ada solusi dan perlu didudukkan masalahnya secara tuntas dan menyeluruh agar program pariwisata ini bisa berkembang di bumi Minangkabau.

Pada 12 Oktober 2015, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago menyampaikan presentasi dalam sebuah diskusi tentang pariwisata di kampus Universitas Andalas Padang dengan topik yang sama, yaitu perilaku dan sikap masyarakat yang menghalangi perkembangan pariwisata.

Artinya selama rentang waktu 26 tahun dari era Orde Baru sampai Reformasi dengan pergantian enam presiden di antaranya, kendala sosial budaya yang oleh Andrinof dipertegas dengan perilaku dan karakter masyarakat sebagai penghambat perkembangan pariwisata Sumbar, memang tidak pernah tuntas.

Sebagai urang awak, pria kelahiran Padang 54 tahun lalu itu memang sangat risau dan prihatin dengan tidak maju-majunya pariwisata di Ranah Minang.

Andrinof pun menempatkan sikap dan perilaku masyarakat umum di posisi paling atas dari daftar penghambat yang dihadapi oleh pariwisata Sumbar.

“Saya langsung menolak jika ada anggapan bahwa tertinggalnya pariwisata Sumbar dari daerah lain karena buruknya infrastruktur atau fasilitas lainnya. Sikap dan perilaku masyarakat lah yang menjadi penyebab utama,” kata Andrinof.

Jumlah wisatawan sebanyak 60.000 per tahun, menurut Andrinof, terlalu kecil bila dibandingkan dengan potensi begitu besar yang dimiliki Sumbar.

“Adalah sebuah kesalahan besar jika pengembangan wisata tidak dijadikan prioritas utama karena potensi tersebut justru lebih besar dibandingkan dengan sektor lainnya seperti pertanian, industri dan kelautan,” katanya.

Premanisme

Di antara sikap dan perilaku yang membuat Sumbar tidak termasuk dalam daftar teratas kunjungan wisata adalah perilaku premanisme sekelompok pemuda atau warga di lokasi wisata.

“Ada sekelompok pemuda dan bahkan anak-anak yang memaksa minta tarif parkir di luar kewajaran dan ini sangat menganggu dan membuat tamu tidak nyaman,” katanya.

Contoh bagaimana premanisme dan aksi pemalakan yang membuat resah wisatawan terjadi di Kota Wisata Bukittinggi sehingga memancing protes di media sosial, terutama pada saat Lebaran atau libur nasional lainnya.

Bahkan di Bukittinggi sudah lama dikenal istilah “tukang pakuak” (tukang getok), yaitu istilah yang diberikan kepada restoran dan rumah makan yang sengaja melambungkan harga setinggi langit dengan sasaran wisatawan dari luar daerah.

Dan tidak tanggung-tanggung, rombongan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ramai diberitakan di media lokal dan media sosial menjadi korban “pakuak” di sebuah restoran di Bukittinggi pada 2006 lalu.

Sementara itu pengamat pariwisata Imran Rusli berpendapat bahwa perilaku paling parah adalah dalam soal pelayanan (service).

“Ini mungkin karena masyarakat yang berasal dari kultur parewa (pendekar) dan penghulu (pemimpin), lelaki Sumbar paling emoh melayani. Mereka maunya dilayani, bukan melayani. Mereka tak mau tahu dengan konsep kepuasan pelanggan,” katanya.

Adminto Katik Bandaro, perantau asal Bukittinggi yang pulang kampung dengan membawa keluarganya bertamasya ke Danau Singkarak beberapa waktu lalu menceritakan pengalaman yang menjengkelkan.

Setelah membayar karcis masuk di pintu gerbang yang dijaga beberapa pemuda, Adminto kemudian memarkirkan mobil di sebuah tanah lapang di pinggir danau untuk bersantai. Saat itu pula datang seorang pemuda yang langsung meminta uang parkir.

Tapi berhubung di lokasi tersebut ternyata langsung kena sinar matahari, Adminto pun memindahkan mobil ke lokasi di bawah pohon rindang yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat semula. Saat itu pula datang seorang nenek yang juga meminta jasa parkir.

“Itu beda, karena tempat parkir ini tanah saya,” kata sang nenek kepada Adminto yang kemudian protes, tapi hanya bisa terperangah dan jengkel.

Di luar segala sikap dan perilaku yang tidak mendukung bisnis wisata tersebut, Andrinof berharap agar pengembangan kawasan wisata terpadu Mandeh yang terletak 56 Km dari Padang, bisa menjadi sebuah proyek percontohan dan sekaligus penyelamat pariwisata Sumbar.

Di kawasan dengan luas sekitar 18.000 hektare ini, yang mencakup kawasan terumbu karang 70,32 hektare, mangrove (313,32 hektare), dan keragaman hayati (404,55 hektare).

Fasilitas pendukung lainnya akan segera dibangun dengan target selesai pada 2017, yaitu perhotelan, restoran, resort, pasar souvenir, dan semua fasilitas yang dikelola kelompok sadar wisata.

Lindo, seorang pemuda yang bertugas menjaga salah satu lokasi wisata Mandeh, Pesisir Selatan, setidaknya bisa memberikan harapan akan perubahan perilaku masyarakat dalam melayani tamu.

Lindo yang mengaku warga setempat, tampaknya mulai menyadari bahwa pelayanan adalah hal paling utama yang harus diutamakan dalam bisnis wisata.

Dengan penuh antusias, Lindo pun secara santun dan lancar menceritakan kepada beberapa tamu yang bertanya tentang rencana proyek pengembangan kawasan wisata terpadu Mandeh yang baru saja dikunjungi Presiden Joko Widodo.

loading...