Padang – Sejak “dikutuk jadi batu” hingga melegenda ratusan tahun kemudian, baru sekarang kapal Malin Kundang dikeruk dari pasir yang sudah menimbun bagian badan dan geladaknya. Hal itu dilakukan Pemerintah Kota Padang agar kapal si anak durhaka ini persis seperti dahulu, yaitu tersandar di muara sungai Pantai Air Manis.

Jumat (13/3), Sekretaris Daerah Kota Padang Nasir Ahmad langsung turun tangan melakukan pengerukan sedimen, menandai dimulainya revitalisasi Batu Malin Kundang dan kawasan wisata Pantai Air Manis. Wakil Ketua DPRD Padang Muhidi, Dandim 0312 Letkol Wahyudi serta dari unsur Lantamal Teluk Bayur, langsung turun tangan menandai dimulainya pengerjaan pengerukan sedimen di Pantai Air Manis tersebut.

Menurut Sekda Nasir Ahmad, pengerukan pasir dan sedimen di sisi Batu Malin Kundang dilakukan guna mengembalikan kondisi aslinya. Agar wisatawan yang datang dapat menikmati Legenda Malin Kundang yang sudah mendunia tersebut.

“Dengan demikian, minat wisatawan untuk datang ke objek wisata Pantai Air Manis akan lebih bertambah,” ujar Nasir Ahmad disela kegiatan pengerukan yang dilakukan menggunakan satu unit eskavator disamping peralatan manual, cangkul dan sekop.

Selain melakukan pengerukan, lanjut Sekda, Pemko bersama Badan Pengelola Objek Wisata (BPOW) Pantai Air Manis juga akan merelokasi lapak “pedagang kreatif lapangan” (PKL) yang menempati di sekitarnya. PKL tersebut akan ditempati di seberang sungai dengan penataan yang lebih baik.

“Nantinya relief yang terdapat di dinding bukit sebelah timur Batu Malin Kundang tidak tertutup lagi oleh lapak pedagang, sehingga pengunjung dapat menyaksikan lebih leluasa,” jelasnya.

Sekda menambahkan, penataan Pantai Air Manis dengan Batu Malin Kundangnya sudah disusun masterplannya sesuai konsep Kawasan Wisata Terpadu (KWT) yang telah disayembarakan beberapa waktu lalu.

“Kita sudah persiapkan masterplannya, dan DED-nya sudah selesai. Pada 2016 nanti akan kita mulai realisasi pembangunannya,” imbuhnya.

Penataan terhadap objek wisata Pantai Air Manis ini juga mendapat dukungan dari DPRD Kota Padang. Wakil Ketua DPRD, Muhidi mengungkapkan, bila konsep untuk pengembangan objek wisata ini sudah pas dari Pemko maka DPRD akan mendukung penganggarannya.

“Kita yakin, dengan penataan objek wisata Pantai Air Manis dan Batu Malin Kundang-nya akan mengundang lebih banyak pengunjung sehingga berdampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat,” ungkap Muhidi.

Seperti diketahui, lanjut politisi PKS ini, Batu Malin Kundang merupakan primadona dari objek wisata yang ada di Kota Padang. Bukan saja karena legenda anak durhaka yang dikutuk menjadi batu sudah dikenal dunia, namun keelokan alam sekitarnya pun menjadi daya tarik. Disini pengunjung bisa melampiaskan hobi berselancar (surfing), berenang dan menikmati kuliner. Ataupun sekedar berpiknik bersama keluarga sambil menikmati pemandangan laut dengan angin pantai yang lembut.

“Sejauh ini potensi di kawasan Pantai Air Manis ini belum sepenuhnya terkelola dengan maksimal. Namun, dengan melibatkan semua unsur masyarakat melalui BPOW, maka penataan yang lebih baik bisa dilakukan agar primadona ini kembali menjadi magnet bagi wisatawan,”tukas Muhidi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata, Dian Fakri mengatakan, pemindahan lapak PKL dari area Batu Malin Kundang segera dilakukan setelah persiapan lahan relokasi. “Saat ini sedang dilakukan negosiasi dengan pemilik tanah untuk memakai lahan kosong guna pemindahan pedagang tersebut,” kata Dian.

“Kita telah merencanakan merelokasi 30 PKL tersebut ke pinggir jalan dekat simpang menuju Teluk Bayur di atas tanah masyarakat seluas 7 x 50 meter. Saat ini, Camat Padang Selatan sedang berupaya bernegosiasi dengan pemilik tanah untuk memakai tanah kosong tersebut. Jika berhasil minggu ini langsung akan dikerjakan kontraktor,” terang Dian.

Warga setempat yang juga Ketua BPOW Pantai Air Manis, Syahrial, menyambut baik pembenahan area Batu Malin Kundang yang dilakukan Pemerintah Kota Padang.

“Kami sangat mendukung pembenahan area Batu Malin Kundang serta pemindahan pedagang, karena dampaknya nanti terhadap peningkatan ekonomi masyarakat juga,” kata Syahrial.

Betapa tidak, katanya, jika dibiarkan seperti kondisi sekarang, pengunjung hanya akan datang sebentar karena dengan tidak betah dengan suasananya. Mereka yang datang pun hanya sekedar tahu lokasi Batu malin Kundang tetapi tidak menikmati suasana di sini.

“Yang rugi kita juga,” ungkapnya.

 

Sumber: Humas Kota Padang/du