BeritaSumbar.com,-Saluang, Salah satu tradisi seni musik yang ada di Ranah Minang. Yang mana musik tersebut berasal dari suara yang dihasilkan dari tiupan bambu jenis talang. Satu ruas talang tersebut diberi lobang sebanyak 4 buah seperti lobang seruling. Bedanya dengan seruling,meniupnya dari pangkal tidak dari dinding talang. Saluang ini dimainkan oleh seniman musik klasik Minang yang sudah terlatih alias mahir. Saluang ini makin asyik kalau diiringi anak dendang yang mahir berpantun dan bersuara merdu.

Teras rumah Ramsini di Korong Koto padang Nagari Sikucua Barat kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman. Setiap sabtu malam (Malam Minggu) dendang saluang klasik selalu diadakan. Selain untuk hiburan masyarakat juga bagian dari pelestarian seni budaya tradisi Minangkabau.

Diteras rumah ini dengan soundsystem seadanya gurau saluang diadakan. Dengan 4 orang pemain, satu tukang saluang dan 3 tukang dendang. Walau ditengah eksisnya musik modern, Saluang Klasik yang digelar di teras rumah Ramsini ini selalu ramai dikunjungi warga penggemar dendang saluang.

Tukang tiup saluang harus mahir memainkan nada nada klasik sesuai pantun anak dendang. Didendang saluang ada dikenal lagu ratok, ginyang, sampai kalaborasi musik dangdut atau pop.

Jemari tukang tiup saluang akan terlihat mantiak menututp dan membuka di 4 lobang pengatur nada bambu yang ditiupnya tersebut. Seiring lagu yang dimainkan anak dendang.

dari kesederhanaan peralatan musik saluang ini saya terinspirasi melestarikan dan mengembangkan musik tradisional jenis saluang ini. Sehingga gurau malam Minggu ini ada di Teras salah satu rumah di Korong Koto Padang ini.

Beberapa waktu lalu saya berfikir alangkah baiknya untuk melestarikan tradisi seni ini dikoordinasikan dengan dinas terkait. Syamsul teringat pemerintah Daerah Padang Pariaman di Satuan Kerja Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) yang sekarang berubah menjadi OPD Disparpora (Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga) Kabupaten Padang Pariaman.

Saya mencoba membuat oretan pengurus sanggar diatas secarik kertas usai pertunjukan saluang. Oretan tersebut diserahkan kepada Syafriwal SE alias Alek yang kala itu menjabat Kadisporabudpar Padang Pariaman. Oretan tersebut mendapat sambutan positif dari Alek.

Alek menyarankan Syamsul membentuk sebuah sanggar. Karena dengan adanya sanggar disana Disporabudpar akan bisa membantu Syamsul melestarikan dan mengembangkan seni musik tradisional ini, ujar Syafriwal alias Alek.

Menyikapi saran Syafriwal, Syamsul segera membuat proposal pendirian sanggar seni di Korong Koto Padang Tersebut. Semangat saya semakin tinggi karena ada lampu hijau dari Kepala Dinas Pariwisata setempat.

Berbagai persiapan dilakukan bersama pengurus serta melibatkan semua unsur terutama pemuda dan pemudi yang menjadi tonggak juang lahirnya sanggar seni di Nagari yang boleh dikatakan terisolir ini.

Dari panggung sederhana untuk tempat penampilan sampai spanduk sebagai plang merk Sanggar dipasang secara gotong royong.

Hal yang paling berkesan bagi saya bersama pengurus dan masyarakat penggiat seni saluang terjadi pada malam sebelum pemilihan walinagari Sikucur pada 2015 silam. Malam itu dijadwalkan kunjungan Bupati Padang pariaman. Dari Sore panitia sudah sibuk menyiapkan segala kebutuhan acara malam itu.

Ternyata yang hadir tidak hanya Bupati beserta kepala dinas dan jajaran lainnya, tapi juga Anggota DPRD Padang Pariaman. Mereka membaur bersama warga malam itu walau cuaca gerimis. Kami serasa bermimpi peresmian sanggar dengan ditandai pembukaan selubung merek dihadiri para pejabat dan wakil rakyat Padang Pariaman, cerita Syamsul Bachri mengenang malam peresmian Sanggar yang diberi nama “Sanggar Galitiak Minang” tersebut.

Pada sambutannya Ali Mukhini mengatakan dengan berdirinya sanggar Galitiak Minang di Korong koto padang ini menandakan kesiapan kita untuk meneruskan dan melestarikan budaya Mianng. Mari Kita Jaga dan kembangkan Ujar Orang nomor satu di Padang Pariaman ini waktu itu.

Jadikan Sanggar tempat menuangkan perasaan dan jiwa seni serta kegiatan kesenian di Nagari tersebut, disamping untuk mengisi waktu luang Sanggar juga sebagai wadah insfiratif kawula muda dalam berekpresi” akhir Ali Muhkni.

Tanggal 7 Maret 2015 “SANGGAR GALITIAK MINANG” resmi berada dibawah binaan dinas Pariwisata Kabupaten Padang Pariaman yang pengelolaanya diketuai oleh Syamsul Bachri yang juga menjabat sebagai Ketua Pemuda di Korong tersebut.

Merupakan sebuah tantangan bagi saya untuk membangun dan kembangkan Sanggar tersebut, namun saya tak pernah berhenti meskipun dengan peralatan seadanya .
Sound system serta Speaker sebagai tanda buah tangan Bupati Drs. Alimuhkni diserahkan kepada “Sanggar Galitiak Minang”,tak hanya itu saja Rp.1.500.000 juga dipersuntingkan untuk keperluan Sanggar .Pejabat Pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman yang hadir malam itu cukup memberikan kontribusi dan partisipasinya meskipun tak seirama dengan Bupati “Alhamdulillah” saya ucapkan terima kasih atas sumbangsihnya,cerita Syamsul.

Kegiatan Sanggar terus berlanjut dengan beragam Agenda, mulai latihan Tari Piring, Tari Pasambahan, Tari Indang, Silat, dan Saluang bahkan setiap hari Minggu para remaja dan anak anak senam pagi yang dikomandoi oleh Azni Irtati beserta rekan-rekannya.

Keterbatasan peralatan membuat kami harus berlatih bersama setiap minggu ke Sanggar “SIMARANTANG” di Pauh Kambar di bawah asuhan Buyung.Mobil merah pun ikut menjadi bagian dari trasportasi dari Sanggar Galitiak Minang ke Sanggar Simarantang di Pauh Kambar membawa anak anak sanggar dikala itu.

Ide latihan bersama tak luput dari saran Ade Novalia alias Bu Ade yang membidangi Seni Budaya dan Ekonomi Kreatif di Dinas Pariwisata dikala itu.
Peran Buk Ade sudah cukup banyak untuk mengelola Sanggar di Padang Pariaman, begitu antusiasnya Buk Ade rela mengajar ke sanggar sanggar termasuk ke sanggar Galitiak Minang yang perhatian utama beliau meskipun baru menjadi sanggar binaan.
Berbagai kegiatan sanggar Buk Ade selalu memberikan kontribusi positif terhadap Seni Budaya di Kabupaten Padang Pariaman.

REKOMENDASI DISPORABUDPAR.
Setahun sudah anak anak Sanggar kami berlatih dengan peralatan apa adanya, berbagai cara saya lakukan untuk kemajuan Sanggar di Koto Padang terutama kesulitan kami dengan peralatan kesenian . Melalui Rekomendasi Kepala Dinas saya mencoba Kejakarta untuk mencari bantuan peralatan, dan “Alhamdulillah” buah dari perjuangan,,, Sanggar kami disurvey oleh sebuah Yayasan YKDK di Jl.Pasar Minggu Jakarta Selatan yang Nomornya saya lupa.

Aktifitas kami di sanggar terus terjaga bahkan sudah mencapai 50 orang anggota yang terdiri dari anak sekolah dasar, Sekolah Menengah, bahkan Sekolah Lanjutan Atas.
Ketua Yayasan YKDK verifikasi ke sanggar sambil disuguhkan tarian dan merdunya tiupan suling bambu yang disebut Saluang itu, sambil menanyakan kebutuhan sanggar kami.
Berselang lebih kurang satu bulan anggota Yayasan tersebut menelpon saya mengabarkan akan mengantarkan peralatan yang dibutuhkan.

Alhamdullilah berupa :
1 set tambua tasa ( 6) pc
1 set Talempong
2. Suling Bambu + Mansi
1 set Pakaian seragam tari indang
1 set Pakaian seragam tari pasambahan
1 set pakaian seragam tari piriang
1 set pakaian silat
1 set carano.

Nominal sekitar Rp.60 Jutaan digelontorkan ke Sanggar Kami dalam bentuk Alat alat Kesenian sebagai penyangga kegiatan Sanggar untuk berlatih. Dengan diterimanya peralatan tersebut anak anak kami semakin giat belajar, bahan sudah bisa bersaing dengan sanggar sanggar lain di Padang Pariaman. Tim Saluang yang diketua Zubir Chan juga sering tampil di berbagai ivent di Kabupaten Padang Pariaman.

Di pesta alek di berbagai daerah Tim saluang sudah acap kali tampil termasuk acara kepemudaan yang diundang panitianya .Meskipun masih baru, anak anak sanggar kami sudah mampu berpenghasilan sendiri melalui undangan kegiatan ke daerah lain. Semangat juang generasi untuk mempertahan nilai nilai kebudayaan sangat tinggi, sekarang bagaimana kita mendukung dan mefasilitasi serta mengembangkanya dinagari nagari yang ada di Kabupaten Padang Pariaman.(*)

Oleh: Syamsul Bachri
editor: Zal Ambo