dr. Hardisman, MHID, PhD

(Bagian Pertama dari  Tulisan Tentang “Sampah, Resiko  Penyakit dan Perilaku”)

Padang,BeritaSumbar.com,-Sumatera Barat, khususnya Kota Padang setiap tahun dikejutkan dengan meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).  Awal tahu 2019, berbagai media telah memeberitakan masalah ini sebagai sebuah masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian semua pihak.

Betapa tidak, selama Januari saja tercatat 236 kasus dari beberapa kapupaten Kota, dan 124 diantaranya terdapat di Kota Padang. Adanya DBD perlu mendapatkan perhatian karena tingkat keparahannnya, terutama pada anak-anak, yang dapat menyebabkan dehidrasi berat hingga kematian.

Lebih dari itu, adanya kasus DBD juga menjadi cerminan kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan suatu RT, RW atau kelurahan. Karena memang, peningkatan kasus ini sangat erat kaitannya dengan kondisi kebersihan lingkungan tempat tersebut. Adanya kasus DBD pada suatu daerah, dapat diduga bahwa penyakit-penyakit lain yang terkait dengan kebersihan lingkungan di tempat tersebut juga banyak terjadi.

Oleh karenanya, manjadi lebih penting dari itu, perhatian terhadap DBD tidak hanya sekedar hitung-hitungan jumlah kasus yang telah terjadi. Akan tetapi lebih perlu meningkatkan kewaspadaan pencegahan yang bisa dilakukan secara menyeluruh. Salah satu yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana pengelolaan sampah di rumah tangga yang dapat menjadi perindukan sarang nyamuk.

Kebersihan lingkungan dengan pengelolaan sampah yang baik, akan sangat mengurangi risiko penyakit DBD dan berbagai penyakit infeksi lain. Sebaliknya, pengelolaan sampah yang tidak baik akan menjadikan DBD meraja lela, berbagai penyakit infeksi akan meningkat, dan bahkan sebagai risiko pemicu kanker.

Demam Berdarah disebabkan oleh virus dengue. Virus ini hidup dan berkembang biak dalam tubuh nyamuk Aedes Spp, khususnya Aedes aegypty dan Aedes albopictus di Indonesia, yang berperan sebagai vektor virus tersebut. Sayangnya, nyamuk betina memerlukan darah untuk meningkatkan suhu, kebutuhan energi, dan protein dalam produksi telurnya. Sehingga, ia akan menggigit dan menghisap darah manusia. Saat nyamuk menggigit itulah virus berpindah dari air liur nyamuk kedalam pembuluh kapiler darah manusia.

Namuk Aedes Spp sebenarnya dapat bertahan hidup selama dua minggu atau sampai 3 bulan. Namun dengan perkembangbiakan yang cepat jumlahnya akan sangat banyak jika tidak dilakukan pencegahan.

Bila seekor nyamuk bertelur, dalam satu waktu dapat mencapai 200 hingga 400 butir. Telur akan menetas dan berkembang menjadi larva hingga menjadi dewasa di daerah tropis dan lembab seperti Indonesia, hanya membutuhkan waktu 10 hari. Seekor nyamuk dewasa dapat bertelur kembali bahkan sebelum larvanya berkembang menjadi nyamuk, yakni sekali dalam empat hingga tujuh hari.

Tempat-tempat perindukan nyamuk tersebut adalah air-air tergenang, yang tetrutama adalah sampah-sampah plastik dan wadah-wadah yang bisa menampung air yang berserakan di sekitar pekarangan kita. Wadah tersebut sepertinya kecil, namun bagi nyamuk sudah dapat menjadi tempat perindukan yang menghasilkan ratusan hingga ribuan nyamuk baru.

Setelah musim hujan berlalu, udara yang lembab tanah yang basah dan genangan air yang banyak akan menjadi tempat yang subur untuk perindungan nyamuk. Dalam dua minggu sampah genangan air dibiarkan, nyamuk sudah bertelur sebanyak tiga kali.  Sepuluh ekor nyamuk betina saja yang tersisa, akan dapat menghasilkan niminal 6 ribu ekor nyamuk baru. Jumlahnya akan ditambah lagi dengan telur dan larva periode pertama sebanyak 2.000 ekor yang juga sudah menjadi dewasa pada hari ke sepuluhnya, dan siap untuk bertelur pula. Jika separuhnya saja betina, maka ia juga sudah menghasilkan telur dan larva yang siap berkembang menjadi sebanyak 400 ribu ekor nyamuk.

Melihat fakta ini,  kita dapat mennyadi bahwa tanpa pemberantasan sarang atau tempat perindukan nyamuk oleh setiap rumah tangga, pencegahan DBD tidaklah akan berhasil. Perkembangbiakan nyamuk sangatlah cepat, lebih dari yang kita bayangkan. Satu sampah sampah plastik kecil yang digenangi air, sudah dapat menjadi perindukan nyamuk yang menghasilkan ribuan nyamuk dalam satu bulan. Inilah salah satu faktor risiko yang terjadi, sehingga setiap tahun DBD selalu menghampiri kita.

Fogging tidaklah efektif dalam memberantas sarang nyamuk tersebut dan menghentikan siklus perkembangbiakannya. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan menjangkau tempat-tempat utama. Ia tidak membasmi telur dan larva yang sedang hidup dan berkembang di genang-genangan air, terutama sampah-sampah kecil. Tindakan pencegahan yang efektif adalah tindakan 3M Plus yang sudah digalakkan oleh Kemenkes.

Tindakan pencegahan utama dengan 3M, yaitu 1. Menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air, seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air di belakang lemari es, wadah penampung tumpahan air pada dispenser dan lain-lain.  2. Menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya. 3. Mengubur atau memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang menularkan demam berdarah.

Selanjutnya disertasi tindakan “Plus” yaitu: 1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

Dalam tindakan 3M inilah pengelolan sampah yang benar harus menjadi perhatian. Benda-benda plastik atau wadah-wadah sisa rumah tangga jauh lebih banyak yang tidak bisa didaur ulang. Sehingga mengubur dan melakukan tatakelolala yang baik menjadi sangat penting dalam mencegah dan memberantas perindukan nyamuk.

Oleh: dr. Hardisman, MHID, PhD

Dosen Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas (FK-UNAND) Padang,

Analis Kebijakan Kesehatan