RAMBUT PANJANG

40

BeritaSumbar.com,-MATAHARI belum lagi menampakkan wajahnya, tapi suara ribut yang memekakkan telinga menggema di setiap sudut Desa Rawasari.

“Yukkkkkkk.”

“Yuk…..”

Apalah dikata bahwa masa kecil emang sudah tidak ada lagi rasa malu bahkan takut. Ialah frandi yang berusia 5 tahun yang laying-layang yang sangkut di atap rumah Nita. Seluruh kampungpun tahu anak ini begitu nakal, bahkan sampai bambu tempat berayun kabel listrikpun rebah kena hantamnya. Sekali-kali anak ini mengeluarkan suara keras mengarah ke jendela anak gadis yatim piatu itu. Dipasangkannya kedua tangan mendekap dimulutnya sambil mengeluarkan teriakan.

Perasaan jengkelpun bersarang didalam hati Nita. Tapi, sifat sabar yang di wariskan dari  dari almarhum ayahnya menjadikan ia sebagai gadis penyantun, diambilkannya layang-layang serta menasehatinya. Cantik betul, bak beras putih hasil tumbukan lesung.  Begitulah sekiranya pendapat orang tentangnya.

***

Sungguh rapi betul pagi ini. Matahari yang begitu merona yang malu malu menampakkan wajahnya yang dihadang pohon pelam besar. Burung Pipit yang mendayu-dayu selanjutnya hidupnya tanpa kesusahan sekalipun. Dalam bilik kamar yang tidak begitu besar, hanya masuk 2 ranjang bambu sedang. Diolek oleh jarum pentul berwarna pelangi. Dipilihnya sesuai mood hari ini. Bak Putri Kartini l, sanggul sebesar sumpit, menjaga gumpalan rambut panjang yang harum bunga mawar. Kebaya hadiah ulang tahun yang ke 21 itu tampak begitu pas di badannya yang putih langsat.

Sekali-kali ia menengok jam, sebab begitu cepat roda waktu. Menunggu matahari naik ke peraduan, sekali-kali mengelap peluh di wajahnya agar tak menganggu penampilannya. Sekali kali ia bergumam dalam hati. Dimana dia ? Kenapa dia ? Tak biasa seperti ini. Seribu tanya dalam benaknya.

Dari kejauhan tampak sosok pria yang menawan, dibalut dengan jas hitam, berdasi kupu kupu tak membuat nya cupu.

Kring, kring. Bunyi lonceng sepeda yang seakan tak punya salah. Ditanyakan bagaimana kabarnya, dan wajah cantik wanita itu yang berubah menjadi masam sejak kedatangannya. Itulah wanitanya, harus pandai merasakan apa yang ia rasakan.  Tanpa terkecuali bujang jamur yang satu ini. Ialah Yamin seorang anak tukang jamur yang begitu memahami tentang jamur. Olahan jamur, kue jamur, dan bahkan sirup jamur pun ia tahu. Barangkali jika ingin bertanya tentang siklus hidup jamurpun hendak punya rekaman audio yang hebat sebab dia pandai menjelaskan dengan panjang lebar. Dia pandai merayu wanita, bahkan kini wajah Nita yang begitu lesu lantaran sudah menunggu 2 jam ini pun secepat kilat berubah senyum.

” Dik, kenapa minta temenin Abang untuk perpisahan panti kali ini ? ” Tanah Yamin penasaran.

” Tidaklah , bang. Suatu saat Abang akan tahu kok.,” Jawab Nita ketus.

” Hmm, apalah daya seorang pria yang tak tahu apa apa ini,” Yamin mengelak.

Hari ini tanggal 28 Februari 2018 adalah hari perpisahan program Bidikmisi berbagi di panti asuhan Al ikhlas. Cukup lama kegiatan ini berlangsung, kurang lebih 3 bulan. Bahkan, anak-anak panti disini pun cukup pandai dalam mengaji berlagu serta membuat kaligrafi. Nita selaku ketua divisi pengabdian masyarakat lah yang menjadi inisiator. Dengan kepiawaiannya ia mampu mengajak seluruh mahasiswa/i Bidikmisi di universitas untuk turut andil dalam acara ini.

Tenda biru sudah dibentang dengan kokoh, dibalut dengan kain-kain batuk yang indah. 4 meja yang di depan yang diisi oleh 3 pengurus panti dan Nita. Kali ini Nita meneteskan air mata ketika para anak santri menyanyikan lagu yang begitu menyatu hati.

Kasihanilah

Kami anak yang malang

Yang tak pernah kenal

Arti kasih sayang………

Mentari begitu cepat menyingsing, kini tibalah saatnya kata sambutan oleh ketua program. Nita membawa surat kecil ditangannya seraya ke atas panggung. Panggung yang sederhana yang dibuat dari bambu dan kayu Meranti yang beratapkan pucuk nira menambah keharuan acara. Disudut sana tampak Yamin yang sedang tersenyum ke arah Nita. Nita mengelap air mata di pipinya sisa tangis saat sambutan ketua panti asuhan. Dari ujung sana kentara suara keras.

“Kak Nita!” Nita menoleh dan air matanya kembali mengalir di pipinya.nita mengawali sambutan dengan begitu lembut, diakhiri dengan terimakasih dan kesan kesan yang begitu haru untuk di dengarkan. Sehingga para hadirin meneteskan air mata. Cuman dari jauh, Yamin melihat Nita dengan penuh kecurigaan. Sebab ia seringkali memegang perutnya. Sekejap setelah itu Nita pingsan.

***

Mozaik kehidupan terus mengalir, sudah tiga bulan berlalu. Episode-episode yang indah kini hanya bisa menjadi kenangan yang di lupakan atau terus diingat. Panti asuhan kini sudah berkembng pesat, rumah yang menampung 56 orang ini sudah kembali direhab ditambah dengan cat hijau yanh menandakan kedamaian.

Acara yang dulu mengundang tangis kini hanya menjadi tunggul. Anak-anak panti yang semakin bersemangat membaca Qur’an dan bercanda gurau. Yamin yang hanya bisa senyum lepas melihat keajaiban itu. Dalam hatinya berdecak kagum, panti yang dulunya dihuni oleh orang orang buta huruf Quran kini sudah jauh berkembang. Yamin orang yang tegas dan bahkan tidak pernah meneteskan air mata semasa hidupnya itu kini berubah. Ia tak peduli lagi, apa yang ada disekelilingnya ia berlari kencang ke rumah Nita. Dipeluknya erat Nita dari belakang.

Nita yang berdiri di jendela itu pasrah dan meneteskan air mata yang panas. Yamin hanya bisa memeluknya dan berkata , “aku sudah penuhi semua janjiku padamu sudah ku-urus selama 3 bulan panti itu, kubiarkan engkau pergi lantaran doaku selalu padamu.”

Nita hanya menangis dan kini sudah berubah. Sudah bukan Nita yang cantik seperti dulu lagi. Badannya begitu kurus. Matanya sudah sayu dan wajah nya pucat.

“Min, di manapun engkau, ingatlah selalu bahwa hidupmu bukan untukmu saja tapi juga untuk orang lain,”. Ucap Nita perlahan-lahan.

“Sudikah terakhir kalinya kau menuruti permintaanku?” Tanya Yamin lagi

“Apa?” Jawab Nita

“Aku pingin engkau berambut panjang,”. Kata Yamin sambil menangis.

Dipakaikan lah Nita dengan rambut palsu di atas pembaringannya. Ia berpelukan dengan ibu dan adiknya. Seraya menyampaikan pesan terakhir untuk ibu dan adiknya. Tetangga disamping rumahpun berdatangan berbondong-bondong dan menutup mata mereka, menyembunyikan kesedihannya.

Mendalo, 1 Maret 2018

OLEH: SONI AFRIANSYAH
Mahasiswa Universitas Jambi Prodi Pendidikan Kimia