Virtuous Setyaka, S.IP., M.Si.

Padang,BeritaSumbar.com,-Pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2018 dari pukul 13.00 – 16.00, telah diselenggarakan diskusi dengan topik “Dialog Intergenerasi dan Interdisipliner untuk Memperkuat Peran Pemuda dalam Sains dan Teknologi dalam Pengurangan Resiko Bencana” oleh ICIAR-LIPI (Internasional Center for Interdisciplinary and Advanced Research-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indoensia). Diskusi diselenggarakan di Gedung Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Bahasa Lantai 1, Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Dihadiri sekitar 50-an kaum muda dari berbagai lembaga, organisasi, dan komunitas, yang berkomitmen untuk membantu masyarakat dunia untuk bersama-sama mengelola dan mengurangi risiko bencana.

Poin-poin penting dalam diskusi tersebut, kaum muda bersama-sama belajar tentang prioritas-prioritas terkait PRB: memahami risiko bencana; memperkuat tata kelola risiko bencana untuk mengelola risiko bencana; investasi dalam pengurangan bencana untuk ketahanan; dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana untuk respon efektif, dan untuk “membangun kembali lebih baik” dalam pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi. Empat poin tindakan prioritas tersebut diambil dari Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDRR) 2015-2030 atau Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana (KKSPRB) 2015-2030 yang dihasilkan oleh negara-negara di dunia sebagai sebuah kesepakatan kerja sama internasional dalam PRB. Dengan rekontekstualisasi di Indonesia dan reaktualisasi isu-isu kebencanaan dalam dialog antar generasi atau intergenerasi ilmuwan, dan antar disiplin atau interdisipilin ilmu, dan tentu saja upaya untuk melibatkan ilmuwan muda dalam isu kebencanaan di tingkat antar negara-bangsa atau internasional.

Tulisan ini tidak merepresentasikan hasil diskusi tersebut, namun hanya menjadi refleksi dalam pemikiran Penulis saja. Karena Penulis menyadari dan mengakui bahwa perdebatan bahkan dialog tentang politik bencana dan bencana politik masih menjadi sesuatu yang dihindari di forum-forum formal, bahkan menjelang 20 tahun reformasi di Indonesia. Oleh sebab itu, maka segala respon dan reaksi dari tulisan ini, sepenuhnya  menjadi tanggungjawab Penulis.

Politik Bencana Global
Dari beragam opini, masalah-masalah intergenerasi ilmuwan, interdisiplin ilmu, dan internasionalisasi ilmuwan muda Indonesia, -menurut Penulis- bermuara pada satu hal: politik pengelolaan bencana atau singkatnya politik bencana. Memahami politik bencana harus berangkat dari memahami bahwa dunia sesungguhnya dikelola dalam satu struktur dan satu sistem global yang hegemonik. Ketika muncul satu atau lebih struktur dan sistem tandingan yang dijadikan sebagai alternatif, maka pada saat itulah politik global semakin dinamis dengan munculnya kontra hegemoni.

Kesadaran tentang relevansi antara politik bencana global yang berjalan beriringan dengan dinamika politik ekonomi global mulai dari revolusi industri 1.0, 2.0, 3.0, dan 4.0 saat ini sebenarnya sudah disadari oleh sebagian Kaum Muda. Dinamika industri global tersebut juga mempengaruhi kecenderungan dalam pengelolaan sain dan teknologi dalam pengelolaan kehidupan sehari-hari masyarakat dunia yang berawal dari multidisiplin (banyak ilmu yang terpisah-pisah), monodisiplin (hanya satu ilmu untuk spesialisasi keahlian), interdisiplin (kesadaran kerja sama antar disiplin ilmu), sampai akhirnya menjadi transdisiplin (penggabungan berbagai disiplin ilmu untuk tujuan yang lebih baik dan lebih fokus menyelesaikan permasalahan yang kompleks). Begitupun dalam pengelolaan bencana yang harus melibatkan para ilmuwan dengan sain dan teknologi yang mereka kuasai untuk PRB.

Sejauh ini sudah ada 187 Negara Anggota PBB yang mengadopsi KKSPRB 2015-2030 pada Konferensi Dunia untuk Pengurangan Resiko Bencana yang Ketiga, dan itu menjadi panduan global dalam PRB dengan menyesuaikan pada tujuan-tujuan pembangunan global (sustainable development goals/SDG’s). Apakah kemudian perlu menghadirkan tandingan atau alternatif dari itu? Tentu saja tidak bisa dijawab sepenuhnya saat ini karena 2030 masih harus dijelang dengan semangat kemanusiaan tanpa batas dalam setiap upaya PRB di seluruh dunia.

Politik Bencana dan Bencana Politik di Indonesia?
Keinginan dan kegigihan para Ilmuwan Muda Indonesia untuk terlibat dalam tata kelola atau pengelolaan (governance) PRB sampai di tingkat internasional, yang sebelumnya berintegrasi dengan Ilmuwan Tua atau generasi para senior, juga dalam pengintegrasian berbagai bidang ilmu yang mereka kuasai, sesungguhnya memang tidak bisa dilepaskan dari keinginan politik (political will) yang baik oleh para penguasa politik dan juga penguasa ekonomi di tingkat negara. Begitulah realitas dalam dinamika keseharian sampai saat ini. Para elit politik-ekonomi di tingkat negara secara struktural adalah pemegang mandat yang dipercaya untuk menghasilkan sistem pengelolaan PRB yang mampu mengintegrasikan antar generasi, antar disiplin ilmu, dan juga antar negara-bangsa.

Sistem pengelolaan PRB di Indonesia yang ideal seperti harapan Kaum Muda agar tidak gagap dalam integrasi antar generasi, antar disiplin ilmu, dan berinteraksi sejajar dengan ilmuwan muda lainnya di tingkat internasional, ternyata harus berhadapan dengan realitas politik pendidikan, politik anggaran, dan politik birokrasi yang tidak sederhana. Sistem pendidikan nasional yang harus segera dibebaskan dari rezim linieritas disiplin ilmu; penganggaran untuk PRB nasional yang harus dibebaskan dari ego sektoral birokrasi negara; dan juga birokrasi yang harus dibebaskan dari korupsi, kolusi, dan nepotisme yang tidak juga selesai bahkan ketika hampir 20 tahun reformasi di Indonesia. Jika tidak, maka politik bencana justru menghasilkan bencana politik dan PRB semakin jauh dari cita-cita ideal kaum muda khususnya para Ilmuwan Muda untuk PRB di Indonesia untuk mewujudkan keamanan bagi manusia.         

Penulis: Virtuous Setyaka, S.IP., M.Si.

*Dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas, Padang.

**Mahasiswa Doktoral (S3) Hubungan Internasional, PPS FISIP, Universitas Padjadjaran, Bandung.

***Inisiator Pembentukan Komite Siaga Bencana Mahasiswa (KOSBEMA), Universitas Andalas, Padang.