Oleh: Erizal

Ditinggal baralek, diundang baralek. Begitulah, di antara pola komunikasi Irwan Prayitno dan Fahri Hamzah. Usai pemecatan Fahri awal 2016 lalu, hubungan Irwan-Fahri, menarik diikuti. Suka tak suka, pemecatan Fahri adalah awal dari terjadinya konflik PKS secara paling kasat mata.

Dua kali Fahri datang ke Sumbar, usai pemecatannya dari PKS. Satu, 20 Mei 2016, selain menghadiri deklarasi pendirian Keluarga Alumni KAMMI Sumbar, kuliah umum di Unand, juga diskusi dengan Husni Kamil Manik, Ketua KPU, yang menjadi pertemuan terakhir dengan almarhum.

Saat itu, pemecatan Fahri sedang panas-panasnya, karena baru saja terjadi. Fahri diisolasi dari semua kader PKS. Tak ada lagi komunikasi, semua putus seketika. Termasuk, pejabat publik seperti Irwan. Sebetulnya, itu tak perlu terjadi. Tapi, itulah gaya “kekanak-kanakan” konflik PKS.

Irwan sendiri sudah menyediakan diri untuk menyambut kehadiran Fahri. Irwan termasuk orang yang tahu betul bagaimana seharusnya memilahkan antara urusan internal (pribadi) dengan urusan publik. Tapi, sepertinya dia sendiri tak kuasa menghadapi perilaku “kekanak-kanakan” itu.

Akhirnya, Fahri ditinggal pergi baralek oleh Irwan. Plat nomor RI 57 yang kendarai Fahri, melenggang tanpa penyambutan. Memang tak mengurangi kehadiran Fahri di Sumbar. Dan tidak pula merupakan ketidaklaziman. Tapi, terasa ganjil saja. Tekanan dari Pusat, ternyata begitu kuat.

Dua, 6 Juli 2018, Fahri malah diundang baralek oleh Irwan karena dia berminantu. Selain menghadiri acara #NgopiBarengFahri di Padang dan pertemuan alumni Thawalib Padangpanjang, keesokan harinya. Di situlah, letak menariknya. Ditinggal baralek, diundang baralek, seperti ironi.

Walau terlambat, hadir pada saat prosesi nikah memasuki acara doa buat kedua mempelai, tapi itu tak mengurangi keseriusan Fahri, memenuhi undangan Irwan. Itulah pesawat paling cepat yang bisa ditumpangi. Dan Fahri, menjadi satu dari pejabat pusat yang hadir dalam baralek Irwan.

Sepele memang, tapi dalam konflik “kekanak-kanakan”, hal itu menjadi tak sesepele yang dibayangkan. Malah, bisa jadi amat istimewa. Undangan baralek Irwan itu, bisa diartikan sebagai sikap Irwan yang mulai bergerak ke tengah. Dua tahun konflik PKS, tidaklah waktu yang singkat.

Di Jakarta, saat Hidayat Nur Wahid berminantu, Fahri malah konon tak diundang. Betapa dalam konflik itu? Padahal, sesama pejabat tinggi negara, dan tempatnya masih berada di Jakarta, di sebuah hotel mewah. Tapi, usah sebut itu bermewah-mewahan. Bermewah-mewahan itu Fahri.

Betapa istimewanya pola komunikasi ala baralek ini. Ditinggal baralek, diundang baralek. Entah mengapa Irwan “berani” mengundang Fahri baralek, setelah sebelumnya meninggalkannya pergi baralek? Apalagi usai baralek itu, Fahri tampil sebagai khatib Jumat di masjid raya Sumbar.

Sadar maupun tidak, Itu bukan lagi sekadar bergerak ke tengah, tapi sudah seperti bentuk keberpihakan Irwan. Sekali Fahri diberikan “karpet merah”, apalagi corong buat berbicara, maka itu akan “dimakan” habis oleh Fahri. Pengusaha Chairul Tanjung, sampai-sampai mengatakan itu sebagai pidato politik. Walikota Padang, Mahyeldi, tak kuasa untuk memberikan pelukan hangat, buat Fahri setelah shalat Jumat. Ini spontanitas alamiah manusia yang jauh dari kekanak-kanakan.

Sebagai orang lama di PKS, Irwan tentu sudah menghitung langkah-langkahnya. Dia tahu persis jeroan PKS, dari A sampai Z. Dia tak akan bisa didikte, walau belum akan bersikap terlalu maju. Menghapus hal yang manusiawi terhadap orang berseberangan, belum masuk akal baginya.

Pernah dia ditekan juga oleh petinggi partai di tingkat wilayah, supaya tak bersikap netral atau jelas keberpihakan dalam konflik PKS ini, terutama terhadap kasus Fahri. Dia malah dengan ketus menjawab, “mengapa ndak sekalian saja dibilang Fahri itu sesat, Fahri itu kafir!” Kabarnya yang nelepon langsung ciut. Irwan ditekan? Masih bercelana pendek dia, Irwan sudah berdakwah.

Irwan punya posisi penting di Sumbar. Sikapnya terhadap konflik PKS sedikit-banyaknya berpengaruh terhadap PKS itu sendiri. Sekarang konflik yang pada awalnya kekanak-kanakan ini, memasuki tahap akhir pembelahan yang nyatanya, serius. Apa pilihan sikap Irwan? Itu tak hanya menentukan nasib Irwan di kemudian hari, juga terhadap PKS, dan model pembelahan itu sendiri.