Ady Surya SH.MH

Sambungan Bag 8: pengelolaan-ulayat-sebagai-kekayaan-nagari-dalam-pemekaran-nagari-di-tapan-pesisir-selatanbag-8/

1.4  Mekanisme Penyelesaian Sengketa Pengelolaan Tanah Ulayat

Dalam penggelolaan tanah ulayat, meskipun adat Minangkabau mengenal prinsip komunalisme, namun tidak berarti praktek penggelolaan tanah terbebas dari konflik atau sangketa. Sangketa-sengketa yang dapat terjadi dalam pengelolaan tanah ulayat oleh masyarakat di Minangkabau  yaitu 101 :

  1. Sengketa Internal Nagari

yaitu sengketa yang terjadi dalam nagari yang melibatkan anak nagari yang bersangkutan. Misalnya sengketa soal ketidakadilan yang dirasakan para anak nagari dalam hal pendistribusian tanah ulayat nagari.

  1. Sengketa Internal Suku

Adalah sengketa yang terjadi antara masyarakat sepesukuan dalam sebuah nagari

  1. Sengketa Internal Kaum

Yaitu sengketa yang berlangsung didalam kaum dalam sebuah nagari. Biasanya ini terjadi antara satu paruik dengan paruik lain dalam memperebutkan tanah ulayat kaum.

  1. Sengketa Antar Nagari

Adalah sengketa yang terjadi antara satu nagari dengan nagari lainnya. Sengketa antar nagari lazimnya terjadi dalam hal menentukan batas sebuah nagari.

  1. Sengketa Dengan Orang Luar

yaitu sengketa yang terjadi antara komunitas suatu nagari dengan orang luar dari nagari tersebut. Sengketa ini bisa terjadi pada tingkat nagari, suku atau kaum.

Dalam perspektif ajaran adat Minangkabau sengketa tersebut harus diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat untuk mencari penyelesaian yang adil dan tidak memihak. Dalam fatwa adat diungkapkan :

Bak maelo rambuik dalam tapuang (seperti menarik rambut dalam tepung)

Bak mamalu ula dalam baniah(seperti memukul ular dalam hamparan benih padi yang akan ditanam)

Baniah tak leco(benih padi tidak rusak)

Tanah tak lambang(tanah persemaian padi tidak bergelombang)

Panokok tak patah (panokok tidak patah)

Nan ula mati juo(nan ular mati juga)

Salah cotok malantiangkan (salah gigit melentingkan)

Salah ambiak mangumbalikan (salam ambil mengembalikan)

Asalah manusia minta maaf(salah kepada manusia minta maaf)

Salah ka tuhan minta tobat(salah kepada Tuhan minta tobat)

Kusuik bulu paruah manyalasaikan (kusut bulu paruh menyelesaikan)

Kusuik banang dicari ka ujuang jo pangka   (kusut benang dicari ke ujung dan  pangkal benang)

Kusuik rambuik dicari sikek jo minyak(kusut rambut dicari sisir dengan minyak)

Kusuik sarang tampuo api mahabisi (kusut sarang tampuo api mengahbisi)

 

 

Dalam menyelesaikan sengketa hukum adat minangkabau meletakkan kebenaran pada strata yang tertinggi dengan menempatkan pemangku adat sebagai pelaksana dari kebenaran yang memposisikan musyawarah mufakat

Kamanakan barajo ka mamak (kemenakan bermusyawarah dengan  mamak)

Mamak barajo ka panghulu(mamak bermusyawarah dengan  penghulu)

Panghulu barajo ka mufakat(penghulu mengambil keputusan dengan musyawarah untuk ber mufakat)

Mufakat barajo ka alue(musyawarah dan bermufakat dengan menghormati mematuhi aturan norma adat )

Alue barajo ka patuik jo mungkin(norma adat yang diwarisi secara turun temurun)

Patuik jo mungkin barajo ka nan bana (norma adat yang berdasarkan kebenaran)

Bana itulah nan manjadi rajo(kebenaran itulah yang wajib diikuti)

Hukum adia kato bana(hukum yang adil dan kebenaran yang mutlak)

Indak buliah bapihak-pihak (tidak boleh ada keberpihakan)

Indak buliah bakatian kiri(tidak boleh berat sebelah)

Luruih bana dipagang sungguah( kebenaran yang dihormati secara terus menerus)

Namun walaupun Penghulu dalam ajaran adat Minangkabau diberikan otoritas menyelesaikan sengketa, tetapi tetap saja tidak boleh bersikap otoriter sebagaimana diungkapkan pepatah adat “mamancuang putiah mangauik abih” artinya tidak boleh memutuskan sesuatu atas kemauannya sendiri, harus tetap mengedepankan prinsip-prinsip musyawarah mufakat, setiap orang didengar pendapatnya sehingga didapatkan sebuah penyelesaian yang adil dan memuaskan para pihak yang bersengketa. Intinya penyelesaian silang sengketa di Minangkabau mengedepankan nilai-nilai demokrasi, musyawarah. Musyawarah ditujukan untuk mendapatkan sebuah keputusan yang benar-benar adil.